Selasa, 23 Oktober 2018

Rooftop Buddies - Honey Dee



- Teman Kematian -


Judul buku: Rooftop Buddies
Penulis: Honey Dee
Editor: Anastasia Aemili
Proofreader: Didiet Prihastuti
Desain sampul: IG @sukutangan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1, 2018
Jumlah halaman: 264
ISBN: 9786020388199


"Beban kehidupan itu berat, Rie. Semakin berat kalau nggak bisa melepaskan masa lalu yang seharusnya kamu tinggalkan."

Rie ingin mengakhiri hidupnya. Kanker telah merasuki tubuhnya. Dia ingin kematiannya tidak perlu membuatnya kesakitan.

Dia pun naik ke atap gedung apartemennya untuk melompat. Di sana, ternyata sudah ada orang lain. Dia bertemu Bree yang juga akan bunuh diri.

Kalau memang akan segera mati, kenapa tidak mewujudkan keinginan terpendam? Dibantu Bree, Rie pun mencoret satu per satu wishlist-nya. Namun, terkadang keinginan memang tidak secantik kenyataan.

"Kanker itu kecil sekali kalau kamu percaya bahwa kamu lebih besar darinya."

* * *

Aku tidak mau berkata aku tahu apa yang dipikirkan seseorang yang mengalami konflik batin hingga membuatnya ingin mengakhiri hidup. Mungkin, orang-orang lain yang sama-sama ingin mengakhiri hidup pun tidak akan pernah benar-benar memahami tekanan pikiran seseorang dengan niat yang sama. Hanya orang itu sendirilah yang tahu. 

Namun, kalau ada seseorang dengan mental issue sedang membaca buku ini dan membaca review ini, aku hanya ingin bilang. Lanjutkanlah membaca hingga halaman terakhir.

Di bagian awal, mungkin kamu akan merasa Rie membesar-besarkan masalah. Keinginan bunuh dirinya terlalu ringan. Kamu mungkin merasa dia hanya kurang berusaha. 

Lalu, mungkin kamu berpikir, "Ah, Rie dan Bree sudah sama-sama menemukan cinta, jelas saja mereka tidak jadi bunuh diri." Mungkin kamu berpikir, di dunia nyata, menemukan cinta tidak semudah itu.

Walaupun demikian, aku pun ingin mengatakan suatu kemungkinan lain. Mungkin buku ini bisa membantu.

Aku tidak bilang untuk melakukan hal-hal seperti dalam buku ini. Ada beberapa hal dalam buku ini yang aku kurang setuju. Misalnya, bepergian dengan orang yang baru dikenal. Bahkan, seandainya orang itu berbuat hal baik atau tampak memendam sesuatu yang sama denganmu, mungkin saja itu hanya akting, kan? Aku yakin kamu tahu bahwa dunia nyata tidak semudah di novel. Amit-amit kalau sampai dijadikan perdagangan manusia.

Aku pun dibuat merinding ketika adegan Rie mau-maunya saja dipeluk orang yang baru dikenalnya. Bagaimana kalau dia pembunuh? Ketika ingin mengakhiri hidup sekalipun, dibunuh tetaplah pilihan mengerikan.

Pun, soal cara pandang orang lain. Yah, kehidupan tidak sesederhana memilih memikirkan pandang orang lain atau tidak.

Walaupun demikian, segelap apa pun hidup, kita tidak tahu kematian akan lebih gelap atau tidak, 'kan? Mungkin rasanya sakit sekali sampai ingin mati. Mungkin saking sakitnya sampai terpikirkan akan siap kalau harus menerima kesakitan baru di alam kematian.

Tapi, kalau masih hidup, selalu ada peluang untuk memperbaiki keadaan. Sedangkan, di dunia kematian, memperbaiki keadaan adalah hal mustahil. Kalaupun kamu percaya reinkarnasi, siapa yang menjamin ketika terlahir kembali, kehidupan yang kamu dapatkan akan lebih baik, 'kan?


Mungkin bukan keadaan hidupmu yang akan membaik kalau kamu tetap hidup. Tapi, mungkin kehidupan orang lain tanpa sengaja berubah menjadi lebih cerah ketika bersinggung denganmu. Seseorang yang tidak pernah kamu kenal. Hanya karena kamu masih hidup. Bahkan, mungkin "sakit"-mu adalah takdir untuk menolong orang lain. Maaf kalau aku sok tahu. Aku hanya ingin kamu melanjutkan kehidupan dengan baik walaupun masih sekadar mencoba.

Beberapa bagian dalam buku ini memang tampak seperti sinetron, bagiku. Walaupun demikian, beberapa bagian lain sangat mengingatkanku pada buku Meniti Bianglala. Buku tersebut adalah satu buku sederhana yang mampu memberikan harapan dengan cara unik. Perbedaan terbesarnya dengan buku ini adalah, aku rasa, penyampaian pesan buku ini diperuntukan bagi remaja saat ini. Aku memang tidak mengenal satu pun remaja saat ini secara personal, jadi memang sekadar "aku rasa". Maaf kalau aku salah.

Sesungguhnya, aku takut keliru berkata-kata dalam membuat review ini. Mental issue adalah sesuatu yang krusial. Seperti yang sudah kubilang, tidak ada yang benar-benar mengerti bahkan sesama orang yang ingin mengakhiri hidup sekalipun. Hanya diri sendiri yang mengerti.

Seperti yang terus-menerus disebutkan dalam buku ini bahwa harapan hanya untuk yang hidup, aku pun ingin mengatakan hal serupa. Kalau kamu sudah menonton Avengers 3, aku hanya ingin bilang bahwa kita bukan Doctor Strange. Jadi, there's always other way.

Rating:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar