Jumat, 31 Agustus 2018

Crooked House - Agatha Christie



- Akal yang Bobrok -


Judul buku: Crooked House
Judul terjemahan: Buku Catatan Josephine
Penulis: Agatha Christie 
Alih bahasa: Mareta
Sampul: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 11, Juli 2017
Jumlah halaman: 272
ISBN: 9789792244304


"Hanya membantu orang lain agar tidak menderita."

Kakek keluarga Leonides, Aristide, sangat suka kalau seluruh keluarga berkumpul. Karena itu, anak-anak dan cucu-cucunya tinggal di rumah besar yang tampak bobrok milik sang kakek. Semua tampak bahagia. Aristide selalu memberikan materi berlimpah kepada mereka.

Ketika Charles Hayward kembali ke Inggris dan bermaksud menikahi seorang cucu Leonides, Sophia, Artides dikabarkan meninggal. Semua orang mempunyai kesempatan membunuh kakek itu. Tapi, semua orang pun tampak dirugikan seandainya kakek itu meninggal.

Di saat Charles Hayward membantu penyelidikan, muncullah seorang anak bernama Josephine dan buku catatannya. Lalu, terjadi insiden lain di rumah itu.

"Mereka kemudian tahu bahwa perbuatan mereka 'salah'—bahwa hal itu akan mendapat hukuman. Pada tahap berikutnya mereka akan merasa bahwa hal itu salah. Tapi ada juga orang-orang yang secara moral tidak bisa tumbuh dewasa."

* * *

Berdasarkan kata pengantarnya, buku ini adalah salah satu buku yang difavoritkan oleh sang penulis. Orang-orang lain pun memfavoritkannya. Walaupun demikian, aku tidak terlalu berharap bisa ikut memfavoritkannya. "And Then There Were None" dan "Murder on The Orient Express" masih sangat melekat padaku.

Memasuki bagian penyelidikan, barulah aku sedikit paham mengapa buku ini difavoritkan dan dianggap berbeda. Tokoh-tokohnya. Mereka tampak baik, tapi di sisi lain tampak "kejam". Pakai tanda kutip karena bukan benar-benar kejam seperti tega menyembelih kucing. Hanya saja, mereka seolah terlahir dengan sisi kelam.

Pembunuhan dalam buku ini, menurutku juga unik. Semua orang di rumah tersebut dapat melakukan pembunuhan tersebut. Di sisi lain, semua orang akan merugi kalau beliau meninggal. Semakin lama beliau hidup, semakin banyak keuntungan yang didapatkan setiap orang.


Seandainya ada tokoh detektif, Poirot misalnya, mungkin buku ini akan lebih dramatis. Kenyataan bahwa tokoh detektif dalam buku adalah seorang awam-baik-hati menjadikan penyelidikan agak bersifat subjektif. Tapi, mungkin saja penulis bermaksud menggiring pembaca kepada pemikiran subjektif.

Penyelesaian kasusnya ... aku sempat berpikir bahwa siapa pun pelakunya, pasti akan menjadi dramatis. Jadi, apakah memang dramatis? Baca saja buku ini, ya. Hehe.

Secara keseluruhan, buku ini mengajak pembaca melihat pembunuhan dari mata orang awam, tetapi bukan jenis orang sok tahu. Sensasi yang diberikan berbeda dengan cerita detektif profesional, tetapi cukup meluaskan pandangan pembaca.

Rating:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar