Senin, 11 Juni 2018

The Fill-In Boyfriend - Kasie West



- Menawar Kenyataan -


Judul buku: The Fill-In Boyfriend
Penulis: Kasie West
Penerjemah: Orinthia Lee 
Penyunting: Selsa Chintya
Penyelaras aksara: Titish A.K.
Desain sampul: Chyntia Yanetha
Penata sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Spring 
Cetakan: 1, Juli 2017
Jumlah halaman: 348
ISBN: 9786026044372


Di sini aku berpikir dia telah melihat sesuatu dalam diriku yang tidak kuketahui kumiliki, sesuatu yang dia temukan tentang aku. 

Bradley memutuskan Gia di tempat parkir prom. Mereka bahkan belum masuk ke acara tersebut. Mungkin Gia tidak masalah hadir di prom tanpa Bradley, kalau saja bukan karena Jules. 

Jules tidak mempercayai Gia mempunyai pacar. Jules tampaknya sangat ingin mendepak Gia dari geng. Menganggap selama ini Gia berbohong telah mempunyai pacar adalah salah satu cara yang tepat. 

Tak habis akal, Gia meminta pertolongan seorang cowok tak dikenal berpura-pura menjadi Bradley selama acara. Hanya saat itu dan setelahnya mereka tidak perlu berhubungan. Tapi, setelah prom, pikiran Gia justru dipenuhi cowok itu. Cowok yang bahkan Gia tidak tahu namanya. 

"Aku hanya ingin sedikit keadilan. Karma atau apa pun. Sebaliknya, aku malah memainkan permainan bodoh."

* * *

Awal membaca buku ini, aku sempat khawatir. Kenapa? Karena buku ini tampak seperti cerita mengenai anak-anak eksis. 

No offense untuk anak-anak eksis. Hanya saja, aku khawatir ceritanya tidak akan sampai padaku. Mungkin aku agak trauma dengan cerita anak eksis sebagai tokoh utama. 

Ternyata, penulis menunjukkan sisi lain adalah seorang gadis populer. Dengan karakter yang berbanding terbalik dengan Lily di P.S. I Like You, penulis menunjukkan bagaimana seorang remaja SMA mencari jati diri pada kedua bukunya. 

Gia tampak sebagai gadis yang sudah sangat mengenal dirinya sendiri pada usianya. Kehidupannya pun berada di zona nyaman. Keluarga, pertemanan, prestasi, semua tampak sempurna. 

Menjelang akhir masa sekolah, barulah dia dihadapkan berbagai kenyataan. Jalan yang harus dilaluinya pun terbilang unik. Menurutku, hal tersebut termasuk suatu kebetulan-yang-telah-direncakan-takdir. 

Walaupun semula aku khawatir kisah Gia akan sulit mengena padaku, tidak butuh waktu lama sampai aku merasa ceritanya related denganku. Cerita ini seperti menyiramkan kenyataan padaku. 

Aku mungkin bukan anak eksis ketika di sekolah, bukan juga mempunyai kehidupan seusai lulus yang terbayang jelas. Lebih jauh dari itu, walaupun tidak mempunyai keadaan seperti Gia, buku ini memaparkan sesuatu yang sangat related denganku dan mungkin banyak orang lain saat ini. Tentang hubungan sesama manusia, baik nyata, maupun maya.


Secara karakter, harus diakui Gia bukan sekadar gadis populer biasa. Dia sudah mempunyai sesuatu. Sesuatu itu kemudian menetas dengan semua yang dialaminya. 

Karakter Bradley Palsu pun sepertinya lovable. Aku mendapat banyak pesan dari mereka yang menjadikannya book-boyfriend. Hanya saja, dia terlalu sempurna bagiku. 

Di kehidupan nyata, mungkin aku akan suka kalau menemukan orang seperti itu. Mungkin. Tapi, di pada suatu buku, aku menyukai karakter yang kealpaannya tampak jelas. Well, dia memang menunjukkan beberapa kekurangan, tapi tetap saja dia tergolong sempurna, menurutku.

Di sisi lain, karakter adik Bradley Palsu justru berbanding terbalik. Tipikal anak yang akan dicap aneh, dengan geng anehnya, dan tetap berjalan dengan kepala tegak. Tapi, kalau dilihat dengan seksama, dia justru sempurna untuk peran dalam dunianya.

Harus kuakui, penulis membuat karakter-karakter yang membuatku berpikir ulang mengenai sifat manusia. Juga, cara penulis menyelipkan isu yang dekat dengan (mungkin) banyak orang saat ini adalah hal menarik. Penyampaiannya yang unik membuat pembaca lebih dulu penasaran dengan cerita. Setelah itu, barulah sisi lain cerita terpaparkan. 

Buku ini banyak menunjukkan manis-getir. Beberapa bagian sempat membuatku khawatir dengan nasib Gia. Buku ini juga menyampaikan cerita yang membuatku harus berusaha menahan tawa atau senyum ketika membacanya di tempat umum. 

Buku ini semakin menegaskanku untuk membaca karya Kasie West lagi. Rasanya, aku ingin segera berburu bukunya yang lain. 

Rating:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar