Senin, 25 Juni 2018

Press Play! - Veronica Latifiane



- Beranjak dan Berdamai -


Judul buku: Press Play!
Penulis: Veronica Latifiane
Editor: Septi Ws
Desainer kover: Teguh
Ilustrator isi: Cynthia
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: 1, Februari 2016
Jumlah halaman: 232
ISBN: 9786023753383


"Notes move on pertama: jangan pernah memelihara rasa takut."

Salma adalah seorang Youtuber dengan channel yang membahas cinta. Dia kerap menerima curhat dari para penontonnya.

Suatu hari, seorang teman lama menghubungin melalui media sosial: Fikar. Setelah sering berkomunikasi lagi, bahkan hadir bersama dalam acara kampus, Fikar meminta Salma membantunya move on.

Sayangnya, sebelum misi selesai, perasaan Salma sudah berubah.

"Lupa jelas sulit, tapi memperbaiki dan memaafkan masih bisa kita usahakan sekuat mungkin."

* * *

Selama ini, kupikir bab pertamalah yang menentukan penghakiman awal sebuah buku. Ternyata, lembar pertama pun demikian. Hal itulah yang aku alami pada buku ini. Bukan benar-benar lembar pertama, sih, melainkan lembar kedua dan ketiga. 

Tokoh Salma digambarkan sebagai "dokter cinta" dengan latar belakang Psikologi suatu PTN ternama. Hanya saja, aku merasa aku merasa tanggapannya terhadap curhat seperti anak SMP atau SMA yang menanggapi kawannya.

Sok netral, begitu kata seorang teman. Atau, sekadar menyampaikan menyampaikan hal yang mungkin ingin didengar tanpa memberikan opsi pemikiran lain dan setiap resiko. Lucunya, dia seperti tidak ingat hal yang pernah dia utarakan ketika mengalami situasi yang lebih kurang seharusnya sama.

Memang bahkan seorang psikolog atau psikiater pun manusia. Tapi, dalam tokoh fiksi, hal ini tampak menunjukkan karakter kurang konsisten. Terutama, karena penulis terus-menerus menekankan sifat baik tokoh.


Lain Salma, lain Fikar. Mungkin penulis ingin menunjukkan kekuatan perempuan atau mungkin ingin menjadikannya sebagai alfa female. Tapi, kenapa harus membuat Fikar menjadi seperti itu? Tokoh ini seperti sebuah bercandaan. 

Memang ada laki-laki—perempuan juga, sih—yang keren di luar, tapi kebalikannya keren di dalam. Tapi, Fikar itu benar-benar ... ah, sudahlah. Aku sempat mengutarakan unek-unek di Instastories, tapi sebagian besar sifat itu masih bisa ditoleransi. Hal-hal lainnya yang sulit dideskripsikan justru yang membuat tokoh tersebut seperti bercandaan.

Hal terbaik dari buku ini adalah terbitan tahun 2016. Jadi, aku tidak akan berkomentar apa pun soal latar tempat-tempat yang kukenal. Kebetulan aku tidak mengunjungi tempat-tempat itu di 2016.

Seandainya aku membaca buku ini lebih awal, mungkin saja pendapatku akan berbeda. Sebelum aku membaca buku-buku lain tentang move on, sebelum aku menemukan tokoh-tokoh dari buku lain yang tidak sekadar "fanservice", dan sebelum-sebelum lainnya.

Dari segi kepenulisan, buku ini sebenarnya sudah rapi dan cukup nyaman dibaca.  Penulis bahkan dapat membuat dua masalah menjadi saling berkaitan terhadap keputusan tokoh. Kalau saja hal-hal lainnya pun lebih baik, mungkin aku akan menyukai buku ini.

Buku ini cocok dibaca tanpa memikirkan apa pun. Kalau sekadar bacaan pengisi waktu di kendaraan umum, cukup oke.

Rating:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar