Jumat, 01 Juni 2018

Negeri Para Roh - Rosi L. Simamora



- Petualangan Keyakinan -


Judul buku: Negeri Para Roh
Penulis: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi sampul & isi: Rosi L.Simamora
Penata letak sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penata letak: @bayu_kimong
Foto: Judi Robert Efendis Dadana
Cetakan: 1, 2015
Jumlah halaman: 288
ISBN: 9786020321134


Tapi toh itu pun tak dapat mengenyahkan kegentarannya terhadap kuasa yang tak kunjung dapat diselaminya, kuasa yang kerap membungkus ritual dan takhayul.

Longboat yang ditumpungi suatu kru tv terbalik. Mereka dinyatakan hilang. Para kru tersebut hendak pulang setelah meliput suatu suku terpencil di Papua. Ketika akan pulang, seorang tetua melarang mereka. Tanggal yang tidak baik, konon katanya. Namun, didasarkan pada rindu rumah, mereka tetap berangkat pulang.

Laut tampak baik pada mulanya. Hingga tiba-tiba saja keganasan Samudra muncul. Longboat terbalik. Mereka terpisah di lautan luas. 

Petualangan ke provinsi paling timur nusantara tersebut membawa mereka memikirkan ulang banyak hal.

Senyumnya merekah lebar, sorakan yang gempita bagai meniupkan keyakinannya.

* * *

Aku sangat menyukai sampul buku ini. Membuatku bertanya-tanya buku apa ini sebenarnya? Fantasi? Buku sastra? Itulah yang ada di pikiranku ketika mengetahui buku ini.

Pada keadaan biasa, mungkin buku seperti ini tidak akan begitu saja membuatku tertarik. Hal yang menarik minatku adalah latar buku ini yang berlatar di Papua. Masih jarang buku yang berlatar provinsi di Indonesia bagian timur ini, kan?

Awalnya, aku mengira buku ini tergolong berat. Begitulah sampai buku ini berada di timbunanku hitungan tahun. Nyatanya, begitu memasuki bab-bab awal, aku langsung yakin buku ini sama seperti novel-novel yang biasa kubaca. Gaya bahasanya cukup populer.

Latar Papua tentu saja sangat terasa di buku ini. Setidaknya, bagiku yang sangat awam mengenai provinsi tersebut. Budaya dan detail-detail khusus yang tidak akan ditemukan di provinsi lain cukup banyak diperkenalkan buku ini. Aku pun jadi tahu mengapa sampai sekarang Papua masih menyimpan eksotisme.

Unsur mistis pun cukup terasa sepanjang buku. Penulis berhasil membangun suasana dingin ala petualangan alam raya, bahkan ketika alur tidak sedang menceritakan Papua. Di sisi lain, penulis membuatku bersimpati mengenai kehidupan di sana. Bahkan, aku pun cukup memahami mengenai pengayauan (mebunuh orang dan diambil kepalanya), walaupun tentu saja, aku tetap tidak bisa mendukung hal itu. 

Buku ini sukses membuatku ingin mengunjungi Papua. Di sisi lain, buku ini pun sukses membuatku merinding membawangkan lautan yang berbatasan dengan samudra. Belum lagi, aku teringat ada pahlawan yang gugur di Laut Arafuru, lokasi yang sama dengan insiden yang menimpa para tokoh buku ini.

Sesekali latar berpindah ke Jakarta, alur berpindah ke masa kini atau masa sebelum tim berangkat ke Papua. Ya, buku ini beralur campuran. Kalau ada buku tentang move on yang tidak dikategorikan romance, buku ini adalah salah satunya. 

Aku merasa buku ini adalah titik balik pelepasan rekan mereka yang tidak diketahui kabarnya sejak insiden di Papua. Kalau mencari berita mengenai kru tv hilang di Arafuru, mudah sekali menemukannya di Google. Buku ini didasarkan pada kisah nyata walaupun semua yang ada pada buku ini adalah fiksi. 


Walaupun banyak menampilkan keunikan Papua, buku ini lebih mengedepankan pengembangan para tokoh. Setiap tokoh mempunyai masalah masing-masing. Setiap tokoh mempunyai porsi yang seimbang. Walaupun terkadang tampak tokoh tertentu lebih sering hadir, aku berpikir hal itu adalah karena peran masing-masing. 

Akan mudah menarik kesimpulan bahwa perjalanan ke Papua kru tv tersebut hingga insiden yang mereka alami adalah titik balik kehidupan mereka. Bahkan, untuk salah satu tokoh yang diceritakan paling sulit move on dari insiden tersebut pun, tetap ada perubahan yang terjadi padanya. Petualangan mereka menjadi titik balik ideologi diri yang sebelumnya selalu melingkupi mereka.

Salah satu hal yang aku sukai dari buku ini adalah perubahan yang dialami para tokoh tidak membawa mereka menjadi individu yang sama rata dalam suatu kelompok. Justru, perubahan itu semakin menegaskan karakter mereka. 

Hanya saja, karena buku ini berdasarkan kisah nyata, pikiranku tetap terpaut pada para kru asli yang mengalami kejadian serupa di buku. Hal ini menjadikanku terus mengingat pembawa acara yang bertugas saat itu. Disandingkan dengan tokoh dalam buku ini, sulit membayangkan sang pembawa acara mempunyai sifat seperti tokoh buku. Tapi, siapa yang tahu, kan?

Bukan hanya tokoh pembawa acara yang membuat keningku berkerut. Tokoh lain pun ada yang demikian. Tapi, mungkin itu semua dimaksudkan sebagai pengantar bahwa perjalanan mereka adalah sebuah petualangan terhadap keyakinan diri.

Secara keseluruhan, buku ini adalah buku yang baik untuk menyampaikan sebuah cerita hubungan antarmanusia. Disampaikan melalui cara yang unik. Dan, buku yang bisa menyampaikan dengan baik eksotisme suatu wilayah akan selalu mempunyai tempat tersendiri.

Rating:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar