Jumat, 11 Mei 2018

The Devil in Black Jeans - aliaZalea



- Dugaan Bukan Hal Nyata -


Judul buku: The Devil in Black Jeans 
Penulis: aliaZalea 
Sampul: Orkha Creative 
Editor: Eka Pudjawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 6, Mei 2017
Jumlah halaman: 352
ISBN: 9789792291889


Tapi bayangan memang tidak pernah mewakili kejadian yang sebenarnya, itu sebabnya itu disebut bayangan. 

Dara menyukai pekerjaannya sebagai asisten pribadi artis walaupun sang kekasih, Panji, tidak menyukai hal itu. Lalu, Dara bekerja untuk Blu, penyanyi opera remaja yang sedang naik daun.

Blu dan Dara segera saja saling menyukai satu sama lain. Keduanya sangat cocok. Mungkin pekerjaan Dara akan menjadi sempurna kalau tidak ada Jo, kakak Blu sekaligus drummer paling tampan se-Indonesia.

Jo-lah yang merasa Blu memerlukan asisten. Tapi, setelah bertemu Dara, Jo merasa pendapatnya tentang memerlukan asisten adalah kesalahan. Di sisi lain, Dara merasa Jo terlalu protektif terhadap Blu dan dia mau saja membantu Blu melakukan hal yang tidak akan pernah diizinkan Jo.

"Untuk selalu ingat bahwa hidup kita di tangan Tuhan, dan apa pun yang kita lakukan tidak akan sukses tanpa seizin-Nya."

* * *

Sejauh ini, membaca buku-buku aliaZalea selalu menjadi pengalaman menyenangkan. Gaya bahasanya yang mengalir segar khas kehidupan metropolitan membawa semangat tersendiri. Begitu pun ketika membaca buku ini. 

Cerita mengenai pertemuan pertama yang kurang berkesan dan pertarung kucing-anjing memang bukan hal baru dalam dunia fiksi romance. Termasuk untuk buku yang pertama kali terbit tahun 2013. Walaupun begitu, ketika penulis bisa memasukkan ciri khasnya, bisa menjadi kesan tersendiri bagi pembaca. 

Aku pun merasakan ciri khas seorang aliaZalea dari buku ini. Gaya bercerita yang terkesan blak-blakan, tapi tetap terkesan rapi. Bumbu-bumbu berupa kissing scenes dan daya tarik hormonal. Dan, favoritku selalu adalah konflik batin setiap karakter.

Tokoh Dara diceritakan sebagai perempuan modern dan mandiri. Hanya saja, karakternya berubah ketika sedang bersama pacarnya. Sifat independennya seolah luntur entah ke mana.

Ketika membaca buku ini, rasanya aku ingin membuang Panji ke Segitiga Bermuda. Tapi, di sisi lain, setelah dipikir-pikir, sifatnya tidak sepenuhnya salah. Aku semacam diingatkan bahwa walaupun sifat kita terlalu "ajaib" bagi seseorang, mungkin kita justru akan memang menjadi keajaiban bagi hidup orang lain.


Berbanding terbalik dengan Panji, Jo justru menjadi tokoh yang like-able. Tentu saja aku tidak menyukai seseorang yang suka main perempuan, terlalu keukeuh, terlalu impulsif ketika merasa insecure, dan beberapa sifat lainnya yang membuatnya hanya sedap dikagumi dari jauh.

Tapi, di balik itu semua, kalau bisa me-restart kehidupannya dari kecil, mungkin Jo akan menjadi salah satu manusia paling baik dan paling lurus. Dalam keadaan seperti di buku ini saja, Jo satu-dua kali menampakkan kelurusannya.

Untuk beberapa alasan, aku menyukai karakter yang sesekali tampak inkonsisten. Hal ini semacam itu terkadang membuat  tokoh manusia tampak lebih manusiawi.

Inti cerita dalam buku ini mungkin bukan sesuatu yang baru. Tapi, dari buku ini, aku bisa menemukan hal-hal baru. Dan, penyampaian cerita yang menyegarkan membuatku ingin selalu membuka halaman selanjutnya hingga akhir.

Rating:



1 komentar:

  1. Kissing scene ? Hehehe.. romantis ya mba... btw judulnya bahasa inggris aku kiranya tadinya mah novel barat ternyata indo

    BalasHapus