Rabu, 09 Mei 2018

Kilovegram - Mega Shofani



- Cinta Tak Kenal Berat -


Judul buku: Kilovegram 
Penulis: Mega Shofani
Desain sampul: Orkha Creative 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1, 2018
Jumlah halaman: 272
ISBN: 9786020379159


"Cari gara-gara, terus minta maaf, tapi nanti nyebelin lagi."

Aruna gendut. Tapi, dia tidak pernah bisa menolak makanan. Dia pun kerap diejek karena berat badan dan persoalan keluarganya, tetapi Aruna tampak tidak terlalu terusik. 


Lalu, semua berubah ketika Nada, sepupunya, pindah ke sekolah yang sama dengannya. Semua orang memuja Nada, termasuk Raka, satu-satunya teman Aruna sejak kecil. 

Aruna pun memutuskan diet. Dia ingin Raka kembali menjadi temannya. Atau, mungkin lebih dari sekadar teman. 

"Cewek mana yang nggak jatuh cinta sama cowok selucu, seganteng, dan se-se yang lain kayak Raka?"

* * *

Aku menyukai ide cerita buku ini. Aku bukan seseorang yang tak acuh terhadap masalah gizi ganda di Indonesia. Tapi, aku pun tahu soal diet-diet bukan hal yang sepele. 

Melalui buku ini, aku rasa penulis ingin menunjukkan bahwa seseorang lebih dari sekadar fisik belaka. Masih banyak yang bisa dibanggakan dibandingkan soal fisik. Aku setuju dengan hal itu. 

Lagipula, aku pun sering melihat sendiri orang-orang dengan body image negative. Berat badan sudah ideal, bahkan kurus, tapi masih saja merasa gemuk. Jadi, di bagian ini, aku setuju kalau penulis ingin menunjukkan bahwa fisik bukan tolak ukur keberhasilan seseorang di lingkungan sosial. 

Walaupun demikian, aku merasa eksekusi penulis terhadap idenya terlalu berlebihan. Bullying yang terjadi pada Aruna, aku rasa, kurang pas kalau terjadi di sekolah elit Jakarta. Bullying di sekolah elit mungkin ada, tapi cara-cara yang dilakukan para pelaku di buku ini lebih cocok untuk dilakukan di sekolah biasa. 

Pun, cara ospek. Rasanya, seperti kembali ke zaman dahulu. Di zamanku sekolah saja, cara ospek yang dilakukan seperti di sekolah Aruna sudah dilarang. 

Belum lagi, adegan merokok di sekolah. Terang-terangan merokok di kantin. Sekolah mana yang mempunyai aturan sebebas itu? 

Dan, lagi-lagi, aku mungkin akan memaklumi kalau latar sekolah adalah sekolah biasa dan berada jauh dari Jakarta. Tapi, di sekolah elit Jakarta? Entahlah. Aku memang tidak tahu kultur di sana. Aku hanya seseorang yang pernah bersekolah di pinggir Jakarta. Walaupun begitu, dari buku-buku yang pernah kubaca dan dari perbincangan dengan teman-teman Jakarta, agaknya yang ditampilkan buku ini memang berbeda. 


Selain soal latar, hal yang membuatku kurang menaruh simpati pada buku ini adalah soal karakter. Maaf aku tidak akan menjelaskan lebih jauh. Sebagian sudah aku jabarkan di Instagram dan untuk menulis ulang semua itu di sini ... *sigh*

Sedikit bocoran, salah satu bagian yang membuatku memutar mata adalah ketika Aruna ikut dalam semacam acara bakat. Tiba-tiba, muncul Nada dan Raka. Di bangku penonton, bukannya mereka memperhatikan Aruna, malah asyik berduaan. Acara sudah hampir selesai, sih, tapi anak SMA seharusnya sudah paham bagaimana memperlakukan seseorang dong,  ya. 

Lalu, lain waktu, ketika Raka dan Aruna akan berbaikan, Raka malah takut Nada akan merasa tersisihkan. Lah, selama ini memangnya Aruna merasa apa? Kok perasaan Aruna tidak dipikirkan? Aruna tidak punya teman lain, loh. Nada akan masih dengan mudah menemukan teman lain walaupun Raka ditelan bumi sekalipun. 

Aku mungkin akan maklum kalau cerita ini seputar anak SMP. Tapi, cerita ini tentang anak SMA. Menurutku, anak SMA seharusnya sudah mempunyai pemikiran yang lebih matang. 

Tokoh-tokoh dalam buku ini mungkin lebih tepat kalau disebut terlalu seperti mimpi. Mimpi baik maupun mimpi buruk. Mimpi buruk ketika tampak terlalu playing victim. Mimpi baik ketika terlalu tampak seperti terlalu menyenangkan untuk dijadikan teman. Bahkan, untuk ukuran bacaan remaja pun, aku merasa penyampaian penulis berlebihan. 

Untung saja, ada bagian side story Aruna dan seorang musuhnya. Aku malah lebih menyukai cerita itu dibandingkan bagian yang lain. 

Sepertinya, unek-unekku sudah cukup sampai di sini saja. Secara ide, buku ini cukup baik. Hanya saja, penyampaiannya mungkin akan lebih baik kalau diperhalus. 

Rating:




2 komentar:

  1. Wah, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk baca dan mengulas Kilovegram di sini ya, Kak Afifah. Terima kasih juga kritiknya, lain kali akan kuperbaiki. Salam kenal ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Kak. Salam kenal. :)

      Hapus