Senin, 07 Mei 2018

Girls in The Dark - Akiyoshi Rikako



- Ketika Kebenaran Hanya Kedok -


Judul buku: Girls in The Dark
Judul asli: Kyukyoku no Seisai/Ankoku Joshi
Penulis: Akiyoshi Rikako 
Penerjemah: Andry Setiawan
Penyunting: Nona Aubree, Arumdyah Tyasayu ('Hukuman Telak') 
Proofreader: Dini Novita Sari
Design cover: Kata Otsuki
Ilustrator: @teguhra
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan: 4, Agustus 2015
Jumlah halaman: 289
ISBN: 9786027742314


Karena itu sudah saatnya untuk mengatakan kebenarannya.

Ketua Klub Sastra SMA Putri Santa Maria, Shiraishi Itsumi, ditemukan tewas jatuh dari bangunan sekolah. Di tangannya, dia menggenggam setangkai bunga lily. Apakah suatu pesan? 

Pembunuhan atau bunuh diri? Tidak ada yang tahu. 

Klub Sastra pun mengadakan pertemuan untuk mengenang Itsumi. Masing-masing membawakan suatu cerpen. Hanya saja, setiap cerita berisi tuduhan-tuduhan satu sama lain. Dalam kegelapan dan ritual Yami-nabe, mereka menguak sesuatu yang mereka anggap kebenaran. 

Akhirnya aku sadar bahwa aku bukan orang yang hanya bisa menerima, tapi juga memiliki banyak hal yang bisa aku berikan kepada orang lain. 

* * * 

Akhirnya, buku ini terbebas dari timbunan. Aku bahkan lupa kenapa aku menunda membaca buku ini. Mungkin takut. Mungkin karena sok tahu terhadap kasus. Entahlah. 

Melalui buku ini, aku jadi tahu kenapa banyak pembaca yang menantikan karya Akiyoshi Rikako. Aku sudah pernah membaca karyanya sebelumnya. The Dead Returns. Aku suka buku itu, tapi bukan sebagai buku misteri. Aku suka sebagai buku yang membuat mengusik emosi.

Dan, ternyata, Girls in The Dark lebih membangkitkan emosi. Bagian akhirnya luar biasa di luar ekspektasi. Indah secara karya, mengusik secara emosi. Sama seperti The Dead Returns, buku ini pun menyelipkan isu-isu kehidupan. 

Lebih lagi, nuansa misteri sangat terasa di buku ini. Aku rasa, buku ini akan menjadi salah satu buku misteri yang sulit dilupakan. Kalau bukan karena nuansanya, aku mungkin akan memberikan rating 5 untuk buku ini. Jadi, satu-satunya hal yang membuatku masih menyimpan 1 hati adalah soal selera pribadi. 

Hal yang membuatku paling salut pada penulis adalah setiap cerpen disampaikan dengan gaya berbeda. Gaya setiap cerpen disesuaikan dengan gaya tokoh yang menyampaikan/membuat. Terasa sekali perbedaan sifat setiap tokoh dari cerpen mereka. 

Alur setiap cerpen hampir sama. Diawali dari bagaimana mereka bisa berteman dengan Itsumi hingga bagaimana pertemuan terakhir mereka dengannya. Walaupun begitu, dari segi gaya penyampaian, setiap tokoh mempunyai karakter masing-masing. Pun, aku salut kepada penerjemah sehingga bisa menerjemahkan hingga sedemikian rupa. 


Sepanjang awal hingga menjelang akhir buku, aku yakin, mungkin, sebagian besar pembaca mempunyai satu perkiraan yang sama. Dan, mungkin hanya sebagian yang tidak terkejut dengan kebenaran di Klub Sastra. 

Omong-omong, buku yang aku baca adalah versi bonus cerpen. Aku pikir, cerpen itu pun akan menegangkan. Rupanya, justru seperti meme aneh, menurutku. Tapi, tidak apa. Cerpen itu untuk mengurangi ketegangan setelah melalui cerita utama. 

Secara keseluruhan, buku ini memberikan warna baru bagiku terhadap kisah misteri. Cara penulis meramu cerita merupakan hal yang berbeda. Pencinta misteri perlu mencoba membaca buku ini. 

Rating:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar