Minggu, 13 Mei 2018

Geekerella - Ashley Poston



- Ketika Hal Aneh Menjadi Penyelamat -


Judul buku: Geekerella 
Penulis: Ashley Poston 
Penerjemah: Lisa Mahardika
Penyunting: RoséMia
Penyelaras aksara: Selsa Chintya
Desain sampul: Aulia Rahmani
Penata sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Spring
Cetakan: 1, Februari 2018
Jumlah halaman: 392
ISBN: 9786026682161


"Seingatku, kau pernah bilang kalau seseorang sangat menyukai sesuatu, itu bukanlah kebodohan."

Elle adalah penggemar serial sains fiksi Starfield. Dia mewarisi hal itu dari mending ayahnya. Dia sangat bersemangat ketika tahu Starfield akan dibuat ulang berupa film. Sayangnya, semangatnya berganti kecewa ketika tahu tokoh utama diperankan seorang pemain sinetron remaja: Darien Freeman.  

Namun, Elle berniat mengikuti kontes cosplay demi hadiah utama. Sayangnya, kedua saudara tiri Elle pun ingin mengikuti kontes itu demi bertemu Darien Freeman. 

Darien Freeman tahu bahwa penggemar sejati pasti akan menentang pemilihan dirinya menjadi tokoh utama Starfield. Dia pun menemukan blog bernama RebelGunner yang viral akibat postingan kebencian terhadapnya. Kalau bukan karena panggilan salah sambungnya, mungkin dia akan terus pesimis bisa memerankan Pangeran Carmindor. 

–LOL kucing penakut. Lalu, ke mana KITA akan pergi?
–Lapangan tundra beku di Galaksi Artesya seharusnya bagus.

* * *

Pertama kali melihat buku ini, aku sangat bersemangat. Bukan karena kisah ala Cinderella-nya, melainkan karena kisah "geek"-nya. Ditambah lagi, aku menyukai sampul Geekerella yang ketika itu aku belum tahu akan diterjemahkan. 

Begitu melihat sampul edisi terjemahan, aku semakin excited. Warnanya. Ilustrasinya. Bahkan, font-nya pun membuatku langsung ingin mempunyai buku ini. Aku sangat menyukai sampul edisi Penerbit Spring.

Pertama kali membaca buku ini, aku berpikir apakah buku ini adalah jenis Young Adult suram? Sepertinya, sampul buku ini tidak mengindikasikan demikian. Di sisi lain, awal bab pertama sudah membuatku simpati dengan kehidupan Elle.

Untungnya, gaya bercerita penulis (dan gaya terjemahan) tetap terkesan menyenangkan walaupun sedang menceritakan kekurangberuntungan Elle. Begitu memasuk bab-bab selanjutnya, barulah memang terasa buku ini memang menyenangkan, dengan segala konflik, tentunya. Buku ini menyampaikan masalah krisis kepercayaan diri remaja dengan cara yang membuat bertanya-tanya: memadukan dongeng dan masa kini. 

Aura fandom sangat terasa pada buku ini. Satu-dua kali aku bahkan lupa buku ini sedang menceritakan Cinderella versi modern. Hal itu sangat menyenangkan dan membuatku penasaran tentang Starfield. 

Hanya saja, sebagai seseorang yang pernah merasakan mendapatkan "kekuatan fandom", aku merasa Elle terlalu pesimis. Bahkan, aku kurang merasakan gejolak yang diberikan dari masa lalu baik dan menyenangkan bersama sang ayah. Well, mungkin hal ini terjadi untuk memperlihatkan kalau seorang anak dirusak pada masa krusial, dia akan berpotensi menjadi menjadi sangat rusak walaupun dulu pernah mengalami masa baik. 


Walaupun aura Starfield sangat terasa, memasuki bagian-bagian tertentu, aku memang cukup takut karena membayangkan kejadian yang dialami Cinderella akan dialami juga oleh Elle. Ada adegan-adegan ikonik Cinderella yang memang membuat menghela napas, 'kan?

Buku ini diceritakan melalui dua sudut pandang orang pertama: Elle dan Darien. Aku pribadi dapat merasakan perbedaan karakter antara keduanya. Elle dengan kerumitan pikiran seorang perempuan. Darien dengan keribetannya sebagai remaja transisi dari seorang cupu menjadi aktor terkenal. Aku lebih menyukai bagian Darien karena walaupun dia sedang bermuram durja, entah kenapa, aku masih kesan lucu.

Di sisi lain, bagian favoritku ada pada bagian Elle. Bagian ketika menyiapkan kostum terasa penuh warna. Di sini, sangat tampak perbedaan karakter Elle dengan Cinderella. Boleh dibilang, aku malah lebih menyukai Cinderella kalau dibandingkan Elle, tapi aku merasakan kesan yang dinamis dan realistis pada cerita Geekerella.

Geekerella tidak sekadar menunjukkan heroisme protagonis ataupun kekejaman antagonis. Buku ini menunjukkan kedua sisi para tokoh. Bahkan, tokoh antagonis pun mempunyai sisi yang rumit. Penulis menjadikan para tokohnya cukup realistis, terlepas dari keunikan masing-masing.

Sayangnya, hal realistis itulah yang membuatku kurang menyukai bagian akhir cerita. Mungkin penulis ingin menunjukkan sesuatu yang realistis atau bagaimana, tapi hal tersebut membuatku terpaksa mengurangi rating yang semulai ingin kuberikan. Aku mengharapkan sesuatu yang lebih memperlihatkan optimisme.

Secara keseluruhan, buku ini memang bacaan yang menyenangkan. Buku ini seolah membawakan dua fandom dalam satu buku: Starfield dan Cinderella. Kalau ditilik lebih dalam, buku ini bisa saja menguak banyak pesan melebihi cerita Cinderella, terlepas dari bagaimanapun penyampaian ending-nya. 

Lebih mudah menjadi sosok yang kau inginkan ketika kau tidak sedang berusaha menjadi yang orang lain harapkan.

Rating: 3.8




Tidak ada komentar:

Posting Komentar