Jumat, 15 Desember 2017

Ini Caraku Memotret untuk Bookstagram


Image source: pixabay.com, edited by me.


Bookstagram sekarang sedang menjamur, ya? Setiap akun bookstagram juga mempunyai style unik dan menarik. Sering kali juga terbersit, "Kok dia bisa, sih, foto kayak gitu?" dan feed-nya menjadi menjadi feed goal

Aku sendiri mempunyai satu akun yang banyak berisi foto buku. Walau begitu, aku belum mau bilang akun tersebut adalah akun bookstagram. Aku masih menyelipkan foto-foto makanan dalam akun tersebut. Buku dan makanan adalah dua hal konkret yang membuatku bahagia. Jadi, aku masih ingin mempersatukan mereka.

Foto-foto bukuku juga masih apalah-apalah. Tapi, nggak ada salahnya, 'kan, kalau aku ingin berbagi sedikit bagaimana aku mengambil foto-foto bukuku? Mungkin bisa dicoba bagi yang ingin memulai bookstagram. Mungkin bisa dikritik atau diberi saran bagi yang sudah mempunyai jam terbang tinggi. Jadi, inilah bagaimana aku memfoto untuk bookstagram.

Memilih Waktu dan Tempat Memotret


Satu hal yang harus ada to take a good picture adalah cahaya. Peran cahaya penting banget. Walaupun ada aplikasi yang memungkinkan membuat foto sangat gelap menjadi sangat terang, hasilnya tetap saja berbeda. Foto dengan cahaya yang kurang biasanya akan banyak bintik-bintiknya. Kadang, malah terlihat seperti blur. Hal ini sering banget membuat frustrasi sewaktu editing. Huff.

Jadi, aku memilih memotret di samping jendela. Waktunya antara jam 11 pagi sampai jam 4 sore.  Aku memilih jam itu karena warna cahayanya mirip-mirip. Kalau masih jam 10, hasilnya kadang terkesan lebih biru, sedangkan aku ingin hasil yang lebih putih atau kuning. 


Aku memotret di meja itu.

Waktunya bisa berbeda-beda setiap tempat, ya. Ada yang jam 5 sore masih bisa dapat cahaya banyak. Ada yang jam 12 cahayanya berlebihan.  Jadi, coba-coba memang perlu. 

Membuat Mini Studio


Jangan membayangkan mini studio yang memakai kotak dan ada ring light dan segala perlengkapan fotografi. Maksudku di sini, cuma mengatur alas foto serapi mungkin. Meletakkan objek-objek di tempat yang sesuai, seperti objek tebal tidak boleh menutupi sumber cahaya atau objek berwarna putih yang harus ditutupi sesuatu di atasnya supaya tidak terkena cahaya berlebihan.

Nah, di foto ini, aku belum kepikiran menutupi bagian atas/depan pita dengan sesuatu. Jadilah dari awal memang sudah kurang jelas pitanya. So, I added some flowers.

Sebelum diedit


Setelah diedit


Bagi yang rajin, mungkin akan menggunakan reflector juga. Reflector bisa dibuat dari styrofoam yang dilapisi kertas putih atau aluminium foil. Diletakkan di depan sumber cahaya atau di mana pun dibutuhkan. Gunanya supaya cahaya ke semua bagian sama rata. 

Oh, ya, dulu, aku tidak selalu memotret di samping jendela. Aku pernah memotret di dalam ruangan . Tentunya, pada siang hari. Ruangan itu tidak berjendela. Cahaya dari lampu dan dan dari lubang ventilasi di bawah objek. Kurang lebih, seperti ini.



Aku menggunakan jilbab berbahan velvet (kata penjualnya) yang sisi-sisinya digantung sana-sini (dan dipegang). Hasilnya, seperti ini setelah diedit.


Editing


Sering kali hasil sudah bagus, tapi masih belum layak masuk Instagram. Contohnya, foto-fotoku yang sekarang yang berlatar putih. Foto-foto aslinya tidak ada yang bersih seperti itu. Aku memakai aplikasi Snapseed dengan tools healing untuk menghapus bagian-bagian yang mengganggu. Tools selective untuk mencerahkan bagian-bagian yang diperlukan.

Kadang, aku juga menggunakan Pixlr pada fitur double exposure-nya. Misalnya, kalau terlalu mendung dan background menjadi sangat gelap. Aku menyatukan foto hasil yang aku potret dengan gambar putih polos. Tapi, hasilnya memang berbeda dengan foto-foto yang hanya memerlukan Snapseed.

Memilih Kamera


Oke. Memang nggak bisa dipungkiri peran kamera sangat besar. But, let me tell you: aku hanya memakai hp. "Ya, iya, hp kamu 'kan bagus." Entah akan ada yang berpikir seperti itu atau tidak, tapi kok banyak yang tahu aku pakai hp apa? Gara-gara profile picture Twitter?

Tapi, coba lihat ketiga foto ini. Kira-kira mana yang memakai kamera 8, 13, dan 16 MP? Inilah kenapa cahaya ditempatkan sebagai prioritas.







Belakangan ini, aku memang memakai hp dengan kamera yang resolusinya di atas 10 MP. Tapi, dulu juga aku memakai hp dengan resolusi hanya 8 MP. Kadang, kamera memang bukan sekadar MP. Produsen hp sering menambahkan printilan-printilan supaya dengan resolusi sama, hasilnya bisa tampak lebih unggul daripada kamera lainnya.

Tapi, memang kamera juga nggak kalah penting. Well, kalau mau kamera yang bagus juga banyak yang harganya 2 jutaan. Hp kamera terbaik murah ada banyak banget. Sebut saja Xiaomi, idola hp murah berspesifikasi tinggi. Dengan harga di bawah 2 juta rupiah, Xiaomi Redmi Note 3 Pro sudah mempunyai kamera 16 MP. Kamera Xiaomi juga cantik. Aku sempat mencobanya 1-2 kali. 

However, karena aku mantan pengguna Asus, nggak ada salahnya 'kan kalau aku bilang produk Asus harus menjadi perhatian. Dari lini Zenfone 3 yang dulu aku pakai, ada saudaranya: Zenfone 3 Max dengan harga 2 jutaan saja. Kameranya memang hanya 13 MP. Tapi, fiturnya tidak berbeda jauh dengan Zenfone 3 yang 16 MP. 

Satu hal yang pasti, kalau mau membeli hp dengan mengedepankan kamera, sebaiknya mencari review lebih dahulu. Lihat hasil yang lebih sesuai dengan selera. Inilah kenapa dulu aku memilih merek A daripada B padahal spesifikasi dan harganya kurang lebih serupa. Kamera merek tersebut lebih sesuai dengan seleraku.

Jadi, itulah sedikit intipan proses sebelum foto-foto bukuku tayang di Instagram. Bagaimana dengan Instagram-mu?





3 komentar:

  1. kok, sama ya, aku ada juga tuh, sudut jendela yang bagus dan yang biasa aku gunakan. Tepat jam segitu lebih alami cahayanya.

    info kece ini mak, trims

    BalasHapus
  2. triknya edit gimn itu mbak Afifah, yang pake alas putih di tumpukan buku merah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertama, pinggir kirinya pakai healing. Setelahnya, bagian putihnya pakai selective sampai terang banget, tapi buku dan pita juga dikasih buletan selective supaya nggak ikut terang.
      Kalau alas putihnya udah kelihatan mulus, pakai selective lagi buat nurunin brightness supaya nggak terlalu terang. Optional sih. Suka yang terang.
      Terakhir, pakai selective lagi buat nyesuain warna buku.
      Jelas nggak? Aku bingung kalau jelasin pakai kata-kata.
      Intinya sih coba-coba pakai healing dan selective aja di Snapseed.

      Hapus