Selasa, 17 Oktober 2017

Pinocchio Husband - Pia Devina



- Semua Datang pada Waktunya -


Judul buku: Pinocchio Husband
Penulis: Pia Devina
Editor: Alit Trisna Palupi
Proofreader: Tharien Indri
Designer sampul: Levina Lesmana
Penata letak: Gita Mariana
Penerbit: Roro Raya Sejahtera (imprint Twigora)
Cetakan: 1, Januari 2017
Jumlah halaman: 256
ISBN: 9786026074850


Simbiosis mutualisme: semestinya saling menguntungkan, bukan? 

Segmen wawancara dengan Tristan dalam acara yang dibawakannya memutarbalikkan kehidupan Gwen seratus delapan puluh derajat. Tidak cukup dengan sesi wawancara yang menyebalkan, Tristan tiba-tiba saja mengajukan permintaan aneh: mengajaknya menikah. Padahal, mereka baru saja bertemu.


Tristan melakukan itu karena ancaman orang tuanya dan ambisinya untuk bisnis keluarga. Tristan tahu Gwen tidak akan menerima begitu saja permintaannya.

Tapi, Tristan berjanji akan mempertemukan Gwen dengan adik yang telah lama dicarinya. Aib keluarga Gwen pun akan aman bersama Tristan.

Tampak kuat dari luar... tapi sebenarnya, mereka rapuh akibat benturan tak terlihat yang selalu menghantam mereka selama bertahun-tahun. 

* * *

Klise. Cerita tentang anak orang kaya yang menjadikan pernikahan sebagai suatu pemecahan masalah bisnis merupakan hal yang klise, bukan? Dari sinopsisnya pun aku sudah beranggapan akan menghadapi cerita klise. 

Satu hal yang membuatku tertarik adalah bahwa salah satu tokoh utama melakukan pernikahan kontrak ini supaya bisa bertemu adiknya. Memangnya ada apa dengan hubungan kakak-beradik sampai sang kakak harus melakukan pernikahan kontrak hanya untuk bertemu adiknya?

"Terlalu banyak rahasia yang sanggup bikin seseorang bertindak gila hanya untuk memecahkan misteri di dalamnya."

Terjawab sudah pertanyaan itu ketika membaca buku ini. Pinocchio Husband bukan hanya bercerita tentang bagaimana dua orang asing, yang terpaksa mengikat kontrak, mulai jatuh cinta. Buku ini juga cukup banyak melibatkan persoalan keluarga. 

Ketika melihat buku ini, aku sempat berpikir akan dihadapkan pada bacaan yang ringan, sangat ringan. Jumlahnya halamannya tidak banyak. Nyatanya, buku ini memang ringan, tapi membaca buku ini juga cukup banyak melibatkan emosi. 

Kisah-kisah yang sempat membuatku berpikir ulang tentang sosok yang hampir selalu diberi label "penghancur keluarga". Interaksi Gwen dan Tristan yang sering melibatkan emosi negatif. Sering juga keduanya harus menahan perasaan agar tetap tampak dingin. Dan, salah satu bagian favoritku: ketika Gwen bertemu ibu Tristan. Cukup sudah kurang lebih 250 halaman mencampuradukkan emosiku.


Aku suka bagaimana penulis membuat pembaca ikut merasakan hal yang dirasakan kedua tokoh utama, terutama Gwen. Hanya saja, aku sebenarnya agak kurang bisa membayangkan seorang pembawa berita yang hampir selalu tampak dingin ternyata banyak melibatkan emosi dalam kehidupan pribadinya. Dan, yaa, bahkan kadang cenderung seperti gadis 20 tahunan. 

Tapi, toh, kita memang tidak tahu kehidupan pribadi seseorang dan lagi, cerita ini akan sangat dingin kalau tokohnya selalu membatasi setiap gerak-geriknya. Setidaknya, penulis bisa membuatku membayangkan Gwen sebagai Gwen, bukan orang lain.

Lalu, apakah aku harus memberi peringatan kepada calon pembaca? Buku ini termasuk "spicy", bukan "sweet". Tokoh-tokoh dalam buku ini menampilkan kesan modern dan mandiri, juga sering kali muncul pikiran yang tidak akan terpikirkan anak lugu sepertiku. Pun, terdapat adegan yang mengarah ke 17+.

Terlepas dari hal itu, menurutku, buku ini tergolong manis. Dan, walaupun semula buku ini tampak klise, aku menemukan hal yang sepenuhnya tidak klise pada buku ini.

Ini kali pertama aku membaca karya Pia Devina. Aku bisa mengatakan aku menyukai cara penuturannya. Setelah ini, aku mungkin akan berpikir ulang setiap kali melihat sinopsis klise dari sebuah buku. Mungkin saja tersembunyi hal-hal baru di sana.

Kau pikir, kau yang paling menderita? Tidak. Ada orang lain. Selalu ada orang lain. 

Rating:

Photo Challenge 



Nggak lengkap, ya, blog tour Twigora tanpa tantangan foto. Kali ini, tantangannya bikin "huhuhu"😭😭😭😭😭😭😭 karena harus foto diri (lagi). 

Tantangannya adalah berpose kaku seperti boneka. Padahal, yang namanya foto pasti jadi kaku 'kan, ya. Kalau bergerak, namanya video. Lol

Jadi, inilah aku. 


Silakan tertawa sepuasnyaaa. 😭

Biasanya, pose ala Vogue tuh mudah banget. Tapi, aku 'kan sudah pensiun jadi model. *dilempar kuaci*

Ya sudah, jangan memandangi fotoku terus. Mending pandangi blogpost setelah ini: Giveaway!


5 komentar:

  1. Pengen kenalan sama Gwen secara langsung deh...

    BalasHapus
  2. Banyak konflik ya. Jadi mau tahu gimana masalah mereka selesai.

    BalasHapus
  3. Mungkin ini typo kak
    -> "Ketika melihat buku ini, aku sempat berpikir akan dihadapkan pada baca yang ringan, sangat ringan."
    baca itu kata kerja, jadi lebih tepat kalo pake kata 'bacaan' karena kalimat ini merujuk pada kata benda.
    -> "..., aku mungkin akan berpikir ulanh setiap kali melihat sinopsis klise dari sebuah buku."
    mungkin yang kakak maksud 'ulang', bukan 'ulanh'.

    Terlepas dari teknis, aku suka reviewnya. Nice info juga seputar peringatan untuk pembacanya, jadi makin penasaran. hehe

    BalasHapus
  4. Hubungan suami istri "kontrak dan terpaksa" yang unik

    BalasHapus