Kamis, 28 September 2017

Wawancara dengan Penulis Glaze: Windry Ramadhina






Halo!

Aku diam cukup lama di depan layar untuk membuat kalimat pembuka blogpost ini. Aku bingung kalimat apa yang tepat untuk membukanya.

Aku sangat senang bisa menjadi bagian dari blog tour ini. Blog tour salah satu penulis favorit. Aku memang baru membaca satu karyanya sebelum ini, tapi nggak apa, 'kan, aku memasukkannya ke daftar penulis favorit? Buku itu masih menjadi salah satu yang paling aku sayang-sayang sampai sekarang.

Terima kasih banyak untuk tim Twigora dan Kak Windry.

Buku yang diturkan kali ini adalah Glaze yang terbit Maret lalu. Diterbitkan oleh Roro Raya Sejahtera, imprint Twigora. Cover-nya cantik banget. Nggak pernah, 'kan, melihat keramik pecah tapi malah bikin cantik? Oke, aku mulai lebay.

Nah, aku mendapat kesempatan mengajukan beberapa pertanyaan untuk Kak Windry. Jadi, inilah hasil wawancara tersebut.

1. Apa kesan pertama ketika bekerja sama dengan Twigora?

Bekerja sama dengan Roro Raya (Twigora) sangat menyenangkan. Saya mendapat banyak dukungan selama proses penulisan dan penerbitan Glaze. Roro Raya memberi ruang yang cukup bagi saya untuk terlibat dalam semua proses, termasuk pembuatan ilustrasi, desain tata letak, proof reading, hingga desain sampul. Mereka memahami kebutuhan dan keinginan saya dan bersedia mengakomodasi. Saya sangat menghargainya.

Selain itu, Roro Raya memiliki perhatian yang tinggi terhadap kreativitas. Mereka tidak semata-mata memikirkan popularitas. Mereka satu dari sedikit penerbit yang setia kepada proses kreasi. Dan, itu memberi semacam rasa lega. Kebanyakan penerbit saat ini senang mencari jalan pintas, melupakan kualitas dan mengejar kuantitas. Roro Raya berbeda.

2. Banyak buku yang mengangkat tokoh pengusaha, termasuk novel ini. Mengapa memilih profesi tersebut?

Tokoh pengusaha sangat menyenangkan untuk ditulis. Pengusaha tidak terikat waktu, memiliki pola pikir yang berbeda, dan--jika dia sukses--punya banyak sumber daya (baca: uang dan fasilitas). Hal-hal semacam itu memudahkan pengembangan plot, terutama plot cerita roman.

Saya cenderung suka mempertemukan tokoh pengusaha dengan tokoh yang bertolak belakang seperti pekerja seni. Seringnya, pengusaha hidup dalam keteraturan. Hari-harinya terjadwal dan semua hal sudah dia perhitungkan. Sifatnya tertutup. Dan, dia menilai sesuatu dengan untung dan rugi. Selalu menarik membenturkannya dengan sosok yang bebas, lepas, ekspresif, dan impulsif.

3. Siapa yang menjadi pembaca pertama buku ini?

Pembaca pertama buku ini Christian Simamora. Sejak awal, saya mengembangkan kisah Kara dan Kalle berdasarkan hasil diskusi dengan Christian. Dia memahami apa yang ingin saya tulis dalam kisah ini, sehingga saya ingin mengetahui apakah hal itu tercapai. Christian memberi beberapa masukan sebelum naskah Glaze diberikan kepada editor. Selain Christian dan editor saya, Gita Romadhona, tidak ada lagi pembaca pertama untuk Glaze.

4. Saat memilih pembaca pertama, apa yang menjadi pertimbangan Kakak?

Sebenarnya, kita bisa saja memilih pembaca pertama secara random. Biasanya pembaca pertama disesuaikan dengan sasaran. Apabila kita ingin menerbitkan novel bertema remaja, maka pembaca pertama adalah remaja. Kita bisa melihat apakah tulisan kita berhasil menggapai mereka. Atau, apakah ada hal-hal yang tidak pantas atau tidak disukai oleh mereka. Kita bisa mengetahui nilai positif dan hal negatif dalam tulisan kita.

5. Aku terkesan dengan Kalle dan Kara sejak halaman-halaman pertama. Terutama Kara, bahkan awalnya tampak biasa, tetapi ada sesuatu yang menarik darinya. Adakah tips khusus membangun karakter yang bisa membuat pembaca terkesan?

Terima kasih. Saya tidak pernah punya trik khusus. Yang saya lakukan selalu sama: membuat tokoh dengan karakter (sifat) yang saya pribadi sukai. Karena, akan sulit mengaitkan diri secara emosi dengan tokoh tersebut apabila saya tidak menyukainya.

Lalu, saya akan mengembangkan tokoh tersebut secara detail untuk menjadikannya utuh dan terasa nyata. Tokoh memerlukan latar belakang, sejarah hidup, dan kepribadian. Hal-hal itu yang kemudian menentukan gerak-geriknya, cara berpikirnya, pilihan-pilihan yang dibuat saat menghadapi masalah.

Dengan mengembangkan tokoh secara detail, kita bisa menggambarkan dan menceritakannya secara detail pula dengan pembaca. Belum tentu pembaca akan menyukainya (karena selera orang berbeda-beda), tetapi paling tidak mereka bisa mengenalnya dengan baik. Dan perkenalan yang baik akan membuat pembaca lebih mudah memahami tokoh tersebut. Dan, siapa tahu, setelah itu pembaca akan jatuh cinta?

Demikian. Semoga jawaban-jawaban di atas cukup memuaskan. Selamat bersenang-senang dalam Glaze Blog Tour.
Tentang Penulis:

WINDRY RAMADHINA lahir dan tinggal di Jakarta; pencinta kucing hitam dan segala hal yang berbau seni. Dia menulis fiksi sejak 2007. Glaze adalah bukunya yang kesepuluh. Sebelum itu, dia menerbitkan Orange (2008), Metropolis (2009), Memori (2012), dan Montase (2012), London (2013), Interlude (2014), dan Walking After You (2014), Last Forever (2015), dan Angel in The Rain (2016).

Windry suka membaca surat dan menjawab pertanyaan. Dia bisa dihubungi lewat e-mail windry.ramadhina@yahoo.com, Twitter @windryramadhina, Instagram @beingfaye, atau blog www.windryramadhina.com.

Bagaimana? Seperti kata Kak Windry, semoga cukup memuaskan. Maaf, ya, kalau pertanyaanku agak ... um, ya begitulah. Tenang saja, masih banyak pertanyaan dari para host lain yang bisa membuat semakin kenal Kak Windry.

Setelah ini, akan ada ulasan mengenai buku Glaze pukul 12.00 WIB. Lalu, pukul 15.00 akan ada giveaway. Blogpost pukul 15.00, 'kan, yang paling kalian tunggu? Aku mengerti, kok. Lol.

Oke. Jadi, sampai jumpa nanti siang.


24 komentar:

  1. Saran aja, materi pertanyaannya lebih baik disajikan secara urut. Misal pertanyaan terkait eksternal karya dibahas sampe tuntas dulu baru masuk ke pertanyaan terkait internal karya. Contoh kasusnya (milik kakak) pertanyaan lebih baik dimulai dari 1 - 3 - 4 - 2 - 5 supaya arah pembicaraan tidak meloncat dan pembaca tidak gagal fokus ;)

    Lalu jawaban Kak Windry saat diwawancara kan banyak memakai partikel penghubung yang tidak sesuai (penghubung intra-kalimat, antar-kalimat, dsb), apakah tidak sebaiknya diedit jika memungkinkan? Soalnya saya menemukan beberapa kalimat yang harusnya bisa berdiri bahkan tanpa perlu menggunakan partikel penghubung (kan sangat disayangkan, apalagi jika partikel penghubungnya tidak sesuai).
    *kurang paham juga sih terkait etika mengedit hasil wawancara, tapi masalah ini cukup mengganggu ketika tersaji dalam data tertulis.

    BalasHapus
  2. Iya nih, setuju banget kalau kreativitas Twigora (Roro Raya) itu emejing banget...suka dengan ilustrasi dalam setiap bukunya 😘

    BalasHapus
  3. Iya nih, setuju banget kalau kreativitas Twigora (Roro Raya) itu emejing banget...suka dengan ilustrasi dalam setiap bukunya 😘

    BalasHapus
  4. Saya suka dengan hasil wawancaranya. Sebagai seseorang yang senang menulis dan berniat membangun 'karir' dalam dunia kepenulisan, saya merasa sangat terbantu dengan jawaban-jawaban runut yang diberikan penulis. Terima kasih juga kepada pewawancara :)) karena kalau pertanyaannya berbeda, tentu bukan jawaban seperti ini yang akan didapatkan. Apresiasi juga karena terlihat betul pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan jujur dalam artian murni datang dari pewawancara sendiri sebagai seseorang yang memang sudah baca bukunya. Aku jadi tambah penasaran jadinya, apalagi bukunya juga ada sedikit 'campur tangan' Babang Christian. Saya salah satu pembaca beliau hehe.

    Dan, saya setuju dengan statement penulis yang bilang bahwa penerbit zaman sekarang banyak yang mengejar kuantitas dibanding kualitas. Karena, perkembangan zaman yang sudah semakin maju dan kemudahan fasilitas dalam dunia tulis menulis sekarang menurut saya menjadikan dunia kepenulisan seolah gampang untuk dimasuki. Lihat saja, dimana-mana banyak buku yang terbit dengan label umum "sudah dibaca berapa juta kali". Memang, itu salah satu agenda promosi,tapi dibaca berjuta orang (kuantitas pembacanya banyak) belum bisa jadi jaminan bahwa kualitas bukunya bagus. Di awal dengar mungkin kita bakal bilang " kayaknya bagus deh, banyak yang baca". Tapi, kembali lagi pada kualitas yang mencakup apa yang dimuat dan apa yang ingin disampaikan penulis. Bukannya saya mendiskreditkan penulis yang lahir dari generasi digital sekarang ini, hanya aja ketika saya menemukan buku berlabel demikian tapi isinya berantakan, jadinya saya mempertanyakan ulang. Sebenarnya, jadi penulis itu modalnya apa bisa cuma dari label punya banyak pembaca saja?

    BalasHapus
  5. Setelah baca wawancaranya, Jadi lebih tau tentang kak WINDRY RAMADHINA. Jadi lebih tau pendapat penulisan novelnya dari sang penulis langsung. Biasanya, kalau ditanya tentang pendapat sebuah novel itu dari orang lain. Nah, yang ini langsung dari penulisnya.
    Terinspirasi juga kalo mau buat tulisan kaya kak WINDRY RAMADHINA. Sangat membantu. Terima kasih. @misskecupbung

    BalasHapus
  6. Semua aja penulis keren pindah ke Twigora. hehehe :D semoga mba Windry makin produktif di twigora *cheers*

    BalasHapus
  7. Wah, kok bisa kepikiran menanyakan pembaca pertama segala, ya? Dan berhubung pembaca pertamanya Cristian Simamora, pertanyaan itu jadi nambah nilai plus novel ini, dan nambah rasa penasaranku dengan novel ini.
    @AdinRim

    BalasHapus
  8. Rasanya pengen jadi first reader novel iniiii
    Selama ini aku selalu pengen punya pengalaman sebagai first reader, tp sampe saat ini belum kesampaian heu. Terus akhir2 ini aku juga sering bgt dgr penerbit twigora dan ngebaca nama Christian Simamora dimana-mana. Aku liat fansnya si Babang (mereka nyebutnya gitu) kayaknya banyak bgt. Pengen juga sih baca novelnya.

    Aduh maafkeun aku malah malah curhat di komentaranya, abis gk tau mau komen apa hehe

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Ada beberapa alasan yang membuat saya ingin baca buku ini.
    1. Saya belum pernah baca buku terbitan Twigora.
    2. Saya belum pernah baca buku bertokohkan pengusaha.
    3. Saya belum pernah baca buku tulisan kak Windry.
    Semoga saya berkesempatan untuk membaca buku ini sesegera mungkin.

    Twitter: @fembi_rekrisna

    BalasHapus
  11. Sama kakk aku juga suka banget sama covernya padahal itu kan pecahan keramik tp cantik bgt jadinya wkwk #galebaykok ini. Dari baca ini aku berpendapat kak windry emang suka tokoh yang mungkin punyaa kesamaan sama kak windry, soalnya setau aku kak windry juga suka yg berbau seni gt dan bisa gambar 😁😁😁

    Twitter: @alyanishab

    BalasHapus
  12. Proofreadernya CS?? Kisah Kalle & Kara bikin kipas-kipas jg gak sih? 😆😆 hehe

    BalasHapus
  13. wah tengkyu banget penjelasan tentang tokoh dalam novel yang memerlukan latar belakang, sejarah hidup, dan kepribadian. ini bisa dijadikan masukan buatku andai suatu saat nanti mau nulis novel 😄😄

    BalasHapus
  14. Aku suka jika di dalam Giveaway ada wawancara penulis. Terlebih lagi jika membahas hubungannya dengan penerbit, itu seperti membuka wawasan penerbit mana yang harus aku pilih dalam menerbitkan karyaku. (Semoga bisa naik cetak ya)
    Mungkin wawancara dengan penerbit bisa jadi salah satu ide juga, hehehe...
    kan jarang yang mengenal penerbit, mereka sistemnya seperti apa dan karya seperti apa sih yang mereka mau.

    BalasHapus
  15. Oke. Aku mulai bingung dengan penyusunan kata-kata awal untuk komentar di bagian sesi wawancara ini (ikut samaan bingun sama kak Afifah) dan supaya lagi gimana caranya agar kak Afifah menembak panah 'yang beruntung' ke komentar aku *oke abaikan. Ini uda mulai ngelantur*

    **

    ihh aku jadi pengin juga nerbitin buku di Roro Raya (Twigora) dan keluarga-nya #digebukmasa. Gimana mau terbitin buku, kalau utk nulis satu kata aja di paragraf awal nggak kelar-kelar #digebukmasa-lagi

    Aiihhh, kak Windry jadi menggemaskan dengan jawabannya itu. Aku juga suka sama buku-buku yang 'ada' karakter utamanya itu tokoh pengusaha. Agak gimana gitu. Apalagi dengan usia yang semakin menanjak 17+ lebih merasa gimana gitu kalau baca cerita yang seprofesi #plakk hahahahah *ini angan udah berlebihan. tolong diabaikan pliiiiisss*

    Ih, aku juga mau kalau ditawarin baca pertama utk buku yang mau terbit *kapan giliranku?*
    Kak Afifah kalau terbitin bukunya, serahin ke aku aja yaa utk pembaca pertamanya. Aku siap menanti dan menunggu di pelataran JENDELA kamar kakak. hahahahahah *mulai ngaco parah*

    Oke *nyerah*, yang terakhir ini aku mulai garuk-garuk kuku karena nggak bisa paham. Aku pasrah kalau pembahasan udah nyangkut sama kepenulisan dan hal-hal serupa..

    ***

    Kalau aku dikasih kesempatan utk wawancara juga, dari lima pertanyaan yang kakak ajukan pasti nggak ada yang sama bahkan nggak kepikiran di aku. hahaah...
    Pertanyaan sederhana, tapi itulah yang mendasari dari seorang penulis dan terbitnya novel *aku suka - aku suka*

    Dan utk hasil wawancaranya aku puas kok.
    Terima Kasih utk pertanyaan2-nya dan juga buat kakak penulis untuk jawabannya...

    Salam, Pida Alandrian

    *semoga nggak mengganggu dengan komentar aku yg panjang*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku mau lurusin dikit, biar nggak ada yg miring2 nantinya

      "Kak Afifah kalau terbitin bukunya"

      nah itu maksudnya, kalau suatu hari nanti kak Afifah (juga) ada menerbitkan sebuah buku..

      Hapus
  16. Waaa dr profil kak windry yg keseluruhan suka berbau seni tp dr wawancara malah aq lihat tokohnya kbxkan kebalikan dr seni yah? Jadi penasaran sama kak windrynya, cba kakak nambah pertaxaannya kenapa gitu,hihi kepo yah aq ini. But, aq iri dgn kk windry,nemu penerbit yg perhatiannya segitu pake banget. Nurutku jarang ad penerbit yg kayak gitu, apalagi dengan penulis pemula. (aku mulai berangan klu suatu saat nanti karyaku bisa diterbitin twigora #mimpi)

    Kmrn pas ke gramed nemu buku Glaze tp apa daya mata hanya bisa memandang hiiiks.

    Mksh yah kak tulisan hasil wawancaranya. It makes me know the writer closer and hope i can know her by her book.

    Twitter: ainhy_edelweiss

    BalasHapus
  17. Pertanyaannya menarik, unik dan lain dari biasanya. Apalagi tentang pembaca pertama novel ini. Kok bisa kepikiran sih? :D
    Dan tentang tips membangun karakter yang bisa membuat pembaca terkesan itu jadi bikin tambah satu lagi resep kepenulisan dari penulis beken. ;)

    BalasHapus
  18. Nomor limaaaa. thanks to kak Fifag yg udah nanya pembuatan karakter novel kak Windry. dari dulu udah penasaran..
    seperti yg kak Fifah bilang, yah walaupun baru baca satu novel kak Windry, tapi langsung jatuh cinta dan tanpa pikir panjang nempatin kak Windry dlm posisi penulis favorit.

    jadi penasaran sama karakter di novel kali ini akankah sukses menjerat hatiku seperti novel sebelumnya?
    atau malah melebihi ekspektasi ku?
    jadi tau kalau di dalam novel ini ada tokoh dg profesi Pengusaha. Tapi siapa ya?

    jadi pengen ngerasain bagaimana rasanya jadi pembaca pertama:(

    BalasHapus
  19. Aku setuju covernya cantik banget bikin jatuh cinta ketika melihatnya. Aku jadi tau kalau memilih pembaca pertama itu harus sesuai dengan sasaran pembaca novel kita. Semoga bisa baca novel ini.

    BalasHapus
  20. Deva, (IG: @sinaoi_sora


    Well, Deva suka dengan penuturan kak Windry menjawab pertanyaan kak Fifah, terkesan lugas, tepat, singkat dan jelas.

    Ada satu pertanyaan yang membuat Deva tertarik, yaitu tentang pembaca pertama buku kak Windry. Wow, saya ngga nyangka kalau kak Fifah akan menanyakan pertanyaan ini, jarang sekali ada yang mewawancarai penulis dengan menanyakan siapa pembaca pertama karya- kerya mereka. Ini benar-benar memuaskan pertanyaan yang tersimpan di lubuk hati terdalamsaya. Thanks kak Fifah for that question.

    selain itu, saya agak iri dengan kak Windry yang mendiskusikan karyanya dengan babang Christian Simamora. Huaahh.. saya penggemar berat kak Christian.
    Oke saya mulai melantur.
    Jujur saja, saya belum pernah membaca karya kak Windry dan seperti apa kak Windy menanggapi pembaca setianya. Dari wawancara ini, saya dapat mengambil sedikit kesimpulan bahwa kak Windy orang yang memahami keinginan pembaca dan mampu menjalin hubungan sosial yang sangat baik dengan pembacanya.

    thanks to you kak Fifah, yang sudah menanyakan pertanyaan unik dan menyeleruh. maksud dari menyeleruh adalah, pertanyaan kak Fifah itu seperti pepatah 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampui'. Tidak cuma mampu menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penulis (memuaskan keingintahuan pembaca dari penulis), kak Fifah juga secara tidak langsung mampu mengangkat nama penerbit lewat jawaban kak Windry (terlihat dari pertanyaan pertama). NICE CATCH kak..
    i'm satisfied.. once again thanks to you...

    BalasHapus