Jumat, 01 September 2017

Lara - Sybill Affiat



Hilang dan Datang -


Judul buku: Lara
Penulis: Sybill Affiat
Editor: Weka Swasti
Proofreader: Herlina P. Dewi
Desain cover: Theresia Rosary
Layout isi: Sindy Fatika
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: 1, April 2015
Jumlah halaman: 234
ISBN: 9786027572386


... seharusnya aku tahu apa yang terjadi atas diriku. 

Namanya Larashinta, biasa dipanggil Lara. Keluarganya sangat terpukul dengan kepergian ayahnya. Selama bertahun-tahun, mereka hidup dalam suram. Ibunya tidak lagi bisa bersikap hangat.

Seolah kehidupan belum cukup menyakitkan, hidup Lara tiba-tiba saja berubah. Dia nyaris tidak bisa mengingat kesehariannya. Dia terasing dari teman-temannya. Dia berusaha berkomunikasi dengan kakaknya, Mbak Saras. Tapi, kakaknya pun seperti enggan berbicara dengannya.

Belakangan, kepingan-kepingan masa lalu mendadak bermunculan dalam benaknya. Ada saat-saat bahagia, tidak sedikit ketika hatinya mulai sakit.

Untuk apa hidup bahagia di awal kalau selanjutnya yang mengikuti hanya duka? Begitulah yang sering dipertanyakan Lara.

"Tidak semua yang terlihat bagus itu berarti bagus. Dan sebaliknya, tidak semua yang terlihat buruk itu berarti buruk."

* * *

Sepertinya, dulu aku sempat melirik buku ini. Hanya sekadar melirik. Aku tidak pernah memasukkannya ke dalam wishlist karena dua alasan. 

Pertama, sampulnya yang, maaf sekali, aku kurang suka. Hal ini terutama karena pemilihan huruf untuk kata "Lara". Menurutku, huruf untuk novel dark tidak harus selalu huruf-huruf meliuk, detail tidak sempurna, atau berwarna darah. Huruf sambung biasa pun bisa mewakili, terlebih karena fotonya sudah demikian.

Kedua, genrenya yang disebut-sebut drama. Bagaimanapun, terkadang, aku mudah lelah kalau membaca drama. Ditambah "dark"? Aku khawatir tokohnya "sakit". 

Gambaranku tentang genre dark drama ini adalah semua bagian ceritanya masuk akal karena unsur drama. Tidak ada unsur magis. Hanya saja, ceritanya mungkin membuat sulit bernapas karena unsur dark. Cerita yang semuanya "masuk akal" justru terkadang lebih membuat merinding daripada yang berbalut fantasi. Sama seperti ketika berjalan di tempat gelap sendirian, yang harus lebih ditakutkan adalah manusia daripada hantu, 'kan? 

Jadi, apakah buku ini semua "masuk akal" atau beraroma magis? Sebetulnya, dari awal, pembaca sudah bisa mengira-ngira apa yang terjadi.

Semula, aku pun seolah tersedot ke dalam potongan-potongan masa lalu Lara. Hal itu tidak berlangsung lama. Lembar-lembar berikutnya aku sudah mulai menebak apa yang sebetulnya terjadi. Well, ide buku ini tidak sepenuhnya baru, 'kan? Sepertinya, aku pernah membaca dan menonton cerita semacam ini.

Walaupun demikian, penulis berhasil menarikku untuk terus membaca. Cara berceritanya yang suram dan misterius tetap membuat penasaran. Kejutan-kejutan kecil pun tetap aku temukan di buku ini.


Bagian akhir cukup memuaskan. Hanya saja, menurutku terlalu panjang. Mungkin ini karena belakangan aku lebih sering membaca sesuatu yang tidak semua diceritakan pada akhirnya. Kalaupun demi kebutuhan halaman, mengapa tidak menggali pada konflik agar perasaan pembaca lebih bercampur aduk? Untungnya, beberapa paragraf terakhir lagi-lagi memberiku kejutan.

Kepandaian penulis tidak hanya tampak dari bagaimana membuat pembaca betah, tapi juga dari pembuatan judul. Judul buku ini bisa ditafsirkan sebagai nama tokoh maupun sebagai salah satu kata dalam KBBI. Membaca judulnya saja sudah membuatku merasa pilu.

Dari segi editing, sayangnya, ada sedikit kekeliruan di bagian awal persahabatan Lara dan Dimas. Hal ini terutama membingungkan pada percakapan awal mereka. Di sana disebutkan saat Sekolah Menengah, tapi adegan berikutnya main masak-masakan. Bahkan zaman dulu pun anak SMP sudah tidak main seperti itu, 'kan? Untungnya, segera ada perubahan di halaman selanjutnya.

Lalu, perubahan "penampilan" Mbak Saras yang tiba-tiba. Tidak ada penjelasan atau aku yang terlewat?

Juga, ada kekeliruan pada penjedaan paragraf. Satu kata terpotong menjadi dua paragraf. Walau begitu, hal tersebut bukan masalah besar.

Karena Penerbit Stiletto berfokus pada dunia perempuan, rasanya kurang lengkap kalau tidak membahas hal itu.

Buku ini memang suram. Tokoh-tokohnya bukan tipikal perempuan yang sering digambarkan sebagai tokoh pahlawan. Semuanya memiliki kekurangan. Di sisi lain, kekurangan para tokohlah yang bisa membuat pembaca berkaca.

Dari para tokoh, para pembaca perempuan diingatkan untuk selalu bisa mandiri. Mandiri di sini tidak hanya soal materi atau fisik, tapi juga soal hati dan perasaan. Mandiri pun bukan sekadar bisa melakukan segala sendiri. Mandiri juga soal bisa merima dan memberi yang terbaik pada segala hal yang ada di sekitar.

Buku ini memang bergenre dark, tapi di dalamnya tersembunyi kehangatan. 

Rating:


Blind Date with A Book


Ini dia buku dari event Blind Date. Makasih untuk Kak Nandia. Aku nggak ada gambaran kalau bukunya akan ini. 😁

Clue-nya:

Misteri tentang seorang wanita muda. Cerita kelam. Keluarga. Mimpi. Masa lalu. Kenangan tentang masa kecil.


Dan, sebetulnya, aku lupa terus tempo hari aku pilih apa dan siapa. (host macam apa ini)

Oh, ya, Kak. Nggak masalah kok bukunya sudah sedikit menguning. Bukuku juga banyak yang begitu. Malah, aku suka banget buku ini sudah disampul plastik. Jadi rapi. Hehe.

Oh, ya, lagi, mohon maaf sebelumnya kalau nanti buku ini akan berpindah tangan. Entah dikasihkan ke orang lain atau dijadikan proyek #booksonthego. Sepertinya, sih, yang kedua.

Aku nggak sanggup lihat buku ini, terutama karena sampulnya suram banget. Lagian, bukunya bagus jadi harus dibaca banyak orang. 😄

Jadi, sekali lagi, makasih untuk Kak Nandia. ^^

Aku juga mau sekalian buka-bukaan buku apa saja yang jadi kandidat Blind Date dariku. Ini, nih:

  1. Jasa pernikahan dalam waktu singkat. Mencari cowok single. Dendam terhadap pacar selingkuh. Metropop. (Blind Date - aliaZalea)
  2. Dongeng untuk orang dewasa. Negeri Peri. Desa di atas granit. (Stardust - Neil Gaiman)
  3. Kemeriahan pesta yang diakhiri kematian seorang janda dan pengacara. Pembunuhan lain yang digagalkan orang asing. (Menuju Titik Nol - Agatha Christie)
  4. Karena nama yang diberikan orang tuanya, dia terus diolok-olok. Lalu, dia bertemu gadis dengan nama tumbuhan. (Momiji - Orizuka)

Ada yang merasa mendapat salah satunya? Semoga suka, ya. ^^



1 komentar:

  1. Ada Stardust dan Momiji :( Kenapa aku nggak pilih itu ya kemarin

    BalasHapus