Sabtu, 02 September 2017

Janadriyah: Sebuah Perjalanan - Achi TM & Febriandi Rahmatulloh



- Idealisme dan Realita -


Judul buku: Janadriyah: Sebuah Perjalanan
Penulis: Achi TM & Febriandi Rahmatulloh
Penyunting: Dani Fitriyani, Hijrah Ahmad, Adhika Prasetya
Desain sampul: Satrio Ahmad Budiawan
Penerbit: Emir (Imprint Penerbit Erlangga)
Cetakan: 1, 2017
ISBN: 9786020935737



"Kadang kala, kita harus melepaskan apa yang sudah kita pegang. Demi kebaikannya. Ikan mangrove jack lebih bahagia jika dilepaskan kembali ke habitnya."

Bagi Abah dan Emak, pendidikan anak-anak adalah yang utama. Hidup mereka pas-pasan, tetapi anak-anak harus bersekolah setinggi-tingginya. Tidak jarang juga Abah dan Emak harus merelakan tabungan haji digunakan untuk pendidikan. Sayangnya, balasan Rahmat, sang anak tertua, justru tidak sepadan.

Rahmat sering kali melakukan perbuatan-perbuatan seperti anak nakal. Hati kecilnya berkata itu semua salah, tetapi pada akhirnya hati itu kalah. Dia tetap merokok, berpacaran, dan sekolahnya tidak fokus. 

Walaupun demikian, Rahmat akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan di luar negeri. Sayangnya, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Hidupnya di Janadriyah serba sulit. Pekerjaannya tidak berjalan baik. Bisnisnya mengalami kemunduran. Dia tertipu banyak. Seolah belum cukup, istrinya mengalami komplikasi ketika melahirkan anak kedua mereka.

Dalam keadaan terdesak, orang-orang jahat masih saja mengintai Rahmat. Mereka mengajak Rahmat menuju "jalan keluar".

Sebuah penyesalan yang terbersit adalah hal yang wajar. Akan tetapi menjadi tidak wajar jika terus tenggelam dalam penyesalan.

* * *

Salah satu hal yang aku suka dari buku ini adalah tokoh utama yang jauh dari sempurna. Secara fisik dia bukan tipe idaman seperti tokoh-tokoh pria di novel romance.

Dalam hal lain pun demikian. Tokoh Rahmat sangat mengambarkan sosok manusia yang umum. Memang, sih, buku ini merupakan semibigografi salah satu penulisnya. Jadi, tidak salah kalau tokoh buku ini cukup dekat dengan karakter nyata. 

Ketika berkali-kali dia berbuat dosa, sebenarnya dia tahu perbuatan itu salah. Seperti banyak orang lainnya, selalu ada excuse dalam melakukan perbuatan salah. "Ah, nggak apa bohong demi kebaikan?" Semacam itu, 'kan? 

Berkali-kali juga Rahmat seolah mencapai titik balik. Rahmat sudah memulai kehidupan yang baik. Kemudian, di waktu-waktu berikutnya, godaan dalam  bentuk lain datang. 

Seperti itulah gambaran kehidupan manusia, 'kan? Walaupun demikian, setiap perjalanan kehidupan selalu membawa seseorang untuk menjadi lebih dewasa, plus dekat dengan Tuhan. Dengan catatan, hatinya masih mau menerima. Dan, novel ini pun memberikan gambaran hati-hati yang belum mampu menerima.

Buku ini menggunakan alur campuran. Alur buku ini dibagi menjadi dua: 2014 dan alur yang dimulai 20 tahun sebelumnya. Pada kedua alur pun sering kali muncul flashback. Walaupun begitu, sepertinya pembaca tidak akan sulit dalam membangun imajinasi. Setiap bagian diberikan penunjuk waktu yang jelas.

Kedua alur pun berjalan beriringan saling menguatkan. Alur dengan waktu 2014 merupakan masa-masa krisis Rahmat. Alur yang dimulai 20 tahun lalu lebih banyak hadir karena menceritakan perjalanan hidup tokoh utama.


Sebagai sebuah novel yang ditulis dua orang, aku tidak melihat perbedaan karakter tertentu. Keduanya penulis berhasil membaurkan karakter masing-masing ke dalam novel ini.

Hanya saja, yang sedikit mengherankan, penyebut nama Desi yang kurang konsisten. Di bagian awal disebut "Desi", lalu menjelang akhir berubah menjadi "Dessy". Apakah ini suatu kesalahan? Atau, memang disengaja karena di awal sosok ini masih sekadar nama lalu pada akhirnya identitas tokoh tersebut diketahui pembaca?

Selain itu, aku juga sempat menemukan nama Rahmat dan Ridho yang tertukar. Untungnya, hal tersebut tidak banyak dan masih bisa diketahui dengan jelas tokoh yang sebenarnya berperan dalam adegan.

Satu lagi yang menjadi pertanyaanku: mengapa begitu banyak tokoh perempuan? Kalau untuk perjalanan cinta, tidak cukupkah dengan 2-3 tetapi dibuat sangat berkesan? Yaaa, sepengamatanku terhadap teman-teman perempuan, sosok seperti Rahmat memang idola. Tapi, sepertinya, perempuan yang benar-benar "bersinggungan" dengannya tidak banyak. Tapi, mungkin aku saja yang tidak tahu.

Lalu, cara Rahmat mendekati perempuan, bahkan kepada calon istrinya aku merasa ... um, apa istilahnya? Kurang syar'i? Maaf, ya, kalau aku sok tahu. Untungnya, pada akhirnya, mereka kembali ke cara yang (sepenglihatanku) benar. Bagaimanapun, novel ini 'kan berunsur agamis. Jadi, memang sebaiknya menunjukkan hal yang benar, 'kan? Hal semacam itu membuat bacaan ini menjadi lebih santai di bagian awal, tapi tetap menunjukkan sesuatu yang benar pada akhirnya.

"Ilmu harus dicari ke mana saja, sejauh apa pun yang kamu bisa."

Walaupun aku menjabarkan kekurangan di sana-sini, novel ini sepertinya terlalu sayang untuk dilewatkan. Novel ini bukan hanya memaparkan sebuah perjalanan hidup seorang anak manusia. Novel ini justru seolah menjadi cermin bagi pembaca.

Ada titik-titik tertentu yang akan membuat pembaca merasa sudah melewati titik itu atau justru sedang berada di titik itu. Dan, titik-titik yang ditangkap setiap pembaca mungkin berbeda. Mungkin, kedua penulis berharap buku ini bisa mengantarkan pembaca pada titik balik kehidupan.

Buku ini pun mengajarkan bahwa menjadi idealis bukanlah hal yang salah. Pada masa krisisnya, Rahmat berusaha berpegang teguh pada idealismenya. Perjalanan hidupnya membuatnya memegang teguh kejujuran walaupun di masa sulit.

Juga, ada makna-makna tersirat yang tidak akan jabarkan di sini. Lebih baik menemukannya sendiri. Mungkin saja hal yang ditemukan setiap orang akan berbeda.

Meskipun yang ingin disampaikan kedua penulis serius, buku ini pun tidak kehilangan humornya. Ada banyak bagian yang membuat tersenyum, bahkan tertawa. Satu-dua kali pun ada bagian yang justru membuat pembaca (aku) menertawakan diri sendiri. Kadang, kita perlu menertawakan diri sendiri, 'kan? Daripada ditertawakan orang lain. ^^

Aku bisa membayangkan seandainya buku ini dijadikan film. Oh, ya, seluruh hasil penjualan buku ini akan didonasikan untuk pendidikan desa. Jadi, pembaca bisa mendapatkan sesuatu dari buku ini sekaligus berbagi.

Secara keselurahan, buku ini bisa menjadi hiburan sekaligus pengingat bagi pembaca. Cara bercerita penulis pun tergolong tidak berat sehingga bisa dibaca siapa pun.

"Kita ini mau mengajarkan kemandirian, bukan memanjakan Rahmat."

Rating:



1 komentar:

  1. Tentang tokohnya yang seperti manusia pada umumnya, saya setuju. Karena biasanya tokoh utama novel itu nyaris perfect.

    BalasHapus