Kamis, 28 September 2017

Glaze - Windry Ramadhina



- Melawan "Ingin" - 

Judul buku: Glaze
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Gita Romadhona
Proofreader: Tharien Indri
Desainer sampul: Dwi Anissa Anindhika
Ilustrasi isi: Windry Ramadhina
Penata letak: Gita Mariana
Penerbit: Roro Raya Sejahtera (imprint Twigora)
Jumlah halaman: 396
Cetakan: 1, Januari 2017
ISBN: 9786026074829


Sepertinya tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa membuatnya bahagia. 

Menjaga kekasih mendiang adik? Yang benar saja. Sayangnya, itulah yang harus dilakukan Kalle ketika adiknya, Eliot, pergi untuk selamanya. Apa lagi, sebetulnya, Kalle tidak begitu dekat dengan adiknya semasa hidup.


Awalnya, Kalle tidak berniat melakukan permintaan terakhir adiknya itu. Tapi kemudian, dia terpaksa bertemu Kara. Menyebalkannya, Kara adalah perempuan yang berbeda dari perempuan lainnya. Berbeda dalam arti negatif.

Seperti yang dikatakan Eliot, Kara tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Dia ceroboh, berantakan, dan kikuk. Kalle tidak mau berurusan dengan perempuan seperti itu. Sayangnya, dia tidak bisa mengabaikan perempuan itu setiap mereka bertemu. Perempuan itu seolah selalu bisa memanggil masalah untuk dirinya sendiri. 

Dan, Kalle merasa jiwa adiknya merasukinya.

Tetapi, aku tidak mau kebahagiaan lain.


* * *

Don't judge a book by its ... prolog? 

Mungkin ungkatan itu cukup tepat untuk buku ini. Sampulnya tidak membuatku mengeluarkan penghakiman tertentu. Aku suka sampulnya. Putihnya benar-benar putih, birunya pun cantik. Bahkan, gambar pecahan keramik tidak membuat sampul buku ini tampak sendu.

Hal berbeda terjadi ketika aku mulai membaca prolog buku ini. Begitu juga dengan halaman-halaman pertamanya. Kesan sendu sangat tampak. Untungnya, aku memang menyukai gaya bercerita penulis sehingga sejak awal aku cukup optimis.

Dan, kesan sendu pun perlahan mulai menguap, bahkan beberapa bagian membuatku tertawa kecil. Sedikit-banyak masih ada terutama ketika bagian sudut pandang Kara. Walau demikian, hal itu bukan jenis sendu yang membuatku ingin menutup buku atau bercerita kepada seseorang bahwa aku sedang membaca buku menyedihkan. Yap, kadang harus segera melampiaskan kesedihan yang kuterima dari buku kepada siapa pun supaya bisa terus membaca. 

Awalnya, aku kira buku ini akan bercerita tentang melupakan atau merelakan masa lalu. Ternyata, yang aku tangkap bukan demikian. Buku ini tentang moving on. Bedanya apa? Moving on isn't just about forgetting or letting go. It's about something's bigger. Sesuatu yang lebih besar, lebih dalam, dan lebih lebih lainnya. Omong-omong, aku perlu belajar bahasa Inggris lagi, ya. Grammar oh grammar.


Dengan dua sudut pandang berbeda, penulis menyajikan dua pikiran berbeda yang berkecamuk dalam dua sifat berbeda, yang pada akhirnya tersusun membentuk satu kesatuan visi. Sama-sama menggunakan kata ganti "aku" dalam narasi, tapi terlihat sekali perbedaan kepribadian Kalle dan Kara. Hal itulah yang paling membuatku terkesan terhadap buku ini. 

Tapi kemudian, maafkan kalau harus bilang ini karena mencoba menjadi reviewer sejujur-jujurnya: ada sesuatu yang hilang dari buku ini. Maafkan, mungkin aku yang terlalu membandingkan dengan buku lain karya Windry Ramadhina yang pernah kubaca. Baru satu buku, tapi sangat berbekas. Lalu, aku mengharapkan sesuatu semacam itu. 

Mungkin karena buku ini berfokus pada kemajuan hubungan Kalle dan Kara, sesuatu yang kuharapkan itu tidak terlalu diperdalam. Di sisi lain, aku sangat menyukai hubungan sebab-akibat. Bukan sekadar bagaimana X menyukai Y, melainkan bagaimana X bisa menjadi seperti itu, Y bisa demikian. Di sini, tokoh Kara lebih fokus pada keadaan saat ini padahal dia tokoh yang menarik kalau saja aku tahu lebih banyak. Untuk Kalle, pengetahuan yang aku dapat dari tokoh ini agaknya lebih baik. 

Sisi baiknya dari cerita semacam itu adalah membaca hampir 400 halaman jadi tidak terlalu menguras energi. Buku ini lebih ringan daripada yang kuperkirakan. 

Walau begitu, toh aku masih merasakan sesuatu tidak hanya tersurat, tapi juga tersirat. Lalu, karena buku ini memang sangat rapi, 4 hati rasanya boleh diberikan untuk Kalle dan Kara. 

Omong-omong, aku penasaran dengan Kara dan Eliot, loh. Aku akan senang bisa membacanya.

Dan, sesaat tadi, dia membuatku percaya cintanya diperuntukkan bagiku.

Rating:

Challenge



Sekarang, bagian semacam tantangan. Sebetulnya, bukan tantangan, sih. Nggak menantang, kok. *belagu*

Para host diminta memotret buku dengan benda berawal "K". Yup, seperti inisial kedua tokoh utama. Foto paling atas blogpost ini juga sebetulnya sudah mewakili, ya. Tapi, nggak afdol kalau nggak ada lagi di bawah.

Tadinya, aku memakai "K" dari kata "kamu", tapi kamu 'kan bukan benda, ya. Lol. Jadi, benda yang aku pakai adalah ...


Aku memilih kacamata. Kain juga "K", sih, tapi maksudku lebih ke kacamata. Aku memilih kacamata karena tanpanya, bagaimana aku bisa bahagia? *Lasik makanya, Fah* Tanpa kacamata, aku nggak bisa membaca buku ini. Tanpa kacamata juga, aku nggak bisa melihat kamu dengan jelas.Walau hatiku bisa melihat kamu dengan jelas, apalah tanpa mataku yang benar-benar melihatmu sejelas-jelasnya.

Selain itu, Kalle juga berkacamata dan sama-sama silidris. Destiny apa ini? *disamperin kucingnya Kara*

Ya sudah, sesi ini sampai di sini. Sampai juga di sesi giveaway!



24 komentar:

  1. "Walau demikian, hal itu bukan jenis sendu yang membuatku ingin menutup buku atau bercerita kepada seseorang bahwa aku sedang membaca buku menyedihkan. Yap, kadang harus segera melampiaskan kesedihan yang kuterima dari buku kepada siapa pun supaya bisa terus membaca."
    Jadi kesimpulannya ini memuat sendu yangg mengganggu atau tidak? *Protes penghindar cerita sendu, hehe.

    "Di sini, tokoh Kara lebih fokus pada keadaan saat ini padahal dia tokoh yang menarik kalau saja aku tahu lebih banyak"
    Apa yang jadi masalah jika Kara lebih fokus pada keadaan saat ini?

    "Maafkan, mungkin aku yang terlalu membandingkan dengan buku lain karya Windry Ramadhina yang pernah kubaca"
    Aku penasaran kakak bandinginnya sama karya yang mana? *Mungkin penggemar Kak Windry yang lain juga penasaran

    Aku suka sama bagaimana kakak menuliskan kesan kakak terhadap buku ini, tapi penggambaran kakak tentang cerita di buku ini bagiku masih terlalu kabur. Atau kakak terlalu takut bakal spoiler? hehe. Kalo enggak, quote/ cuplikan novelnya diperbanyak deh,,,, biar calon pembaca punya gambaran sedikit lebih banyak. Saran juga, mending dicantumin halamannya setelah mencuplik kata-kata dari "Glaze" [Etika mengutip yang saya pelajari di kampus] *_<

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Dan aku penasaran dengan bagian yang hilanf itu

    BalasHapus
  4. Aku setuju sama statementnya don't judge the book by its prolog haha. Karena jujur, aku banyak mengalami hal demikian. Awal baca mikirnya "kok gini sih?" "lah ini apa pula?" tapi di pertengahan malah "oalah haha" atau "aaah gituuu.... Cakep cakep".
    Memang banyak kok buku yang di awal membosankan banget tapi di pertengahan hingga akhir serunya malah ampun-ampunan. Banya juga buku yang kesannya sendu banget di awal tapi di pertengahan hingga tamat justru menyenangkan. Dan, disini aku mendapatkan kesamaan bahwa kita adalah jenis orang yang senantiasa berpikir optimis dalam setiap kesempatan bahkan hanya saat menengok kisah hidup tokoh fiksi hehe.

    Reviewnya juga keren. Lengkap, pas. Memang, buku yang punya sudut pandang dua orang atau lebih kadang bikin dag dig dug. Karena, percuma sudut pandangnya dua orang tapi sifat dan gaya berceritanya sama. Pasti berasanya satu orang aja yang cerita dan itu akan bikin bingung dan mood baca jadi turun. So, I'm curious to death with this book 🙏😸

    BalasHapus
  5. Jadi penasaran sama tokoh Kara yan tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Dia ceroboh, berantakan, dan kikuk. Penasaran bagaimana kelakuannya. Penarasan juga tentang Kalle tidak mau berurusan dengan Kara. Bagaimana keduanya berbicara, bagaimana interaksi mereka yang seperti kita tahu sangat bertolak belakang.
    Bagaimana ending antara keduanya..

    Aku sangat penasaran kakk...
    Terimakasih

    @misskecupbung

    BalasHapus
  6. Sudah lamaaaa sekali rasanya aku nggak baca romance yang sendu-sendu bikin merembes mili. Tapi Seandainya hubungan kakak-adik nya bisa diperbanyak ceritanya mungkin nggak terlalu 'flat' ya. Aku pensaran gimana nantinya dua karakter yang berbeda macam Kallie dan Kara bersatu. :)

    @jeruknipisanget

    BalasHapus
  7. Wah.. Kadang-kadang ada novel dengan 2 PoV yang juga sama-sama menggunakan kata 'aku' tapi terkesan tidak ada bedanya antara si A dan B. Biasanya, membaca buku yang seperti itu bikin sebal. Tapi, mengingat kata kakak justru sebaliknya untuk buku ini, aku jadi pengin baca secepatnya, hehe. Dan mengenai sesuatu yang hilang dari buku ini, apanya yang hilang, ya? Emang nggak dijelaskan sama kakak atau aku yang nggak paham sama 'sesuatu' yang dimaksud itu?

    Ngomong-ngomong soal kacamata, kita samaan ya.. :D
    @AdinRim

    BalasHapus
  8. Menurutku review kakak agak kurang menceritakan konten cerita novel ini, jadi bagaimana alurnya aku jadi kurang tau. Yang aku tau baru sekedar tokohnya dan garis besar cerita seperti yang terdapat di blurb. Mengenai tokoh aku hanya tau bahwa Kara adalah seseorang yang ceroboh dan Kalle itu berkacamata dan silindris. Sebaliknya kakak justru banyak menceritakan pendapat kakak terhadap novel ini. Mungkin kakak bisa membawa alur novel ini sedemikian rupa lalu mengakhirinya dengan beberapa pertanyaan. Menurutku itu lebih memancing kepenasaranan pembaca. Jadi istilahnya yang baca bakalan 'kentang', asik2 diceritain kisahnya eh tiba2 udah diakhiri aja. Akhirnya berujung mencari novel ini di rak tokbuk :D

    @Rinafiitri

    BalasHapus
  9. Jadi tertarik buat baca buku ini, walaupun tebalnya hampir 400 halaman, tapi bisa dibilang ringan. Sebenarnya agak penasaran juga sama bagian yang hilang dari novel ini, karena saya belum pernah baca novel kak Windry satu pun, hehe.. Selain itu, hasil fotonya keren. :D

    Twitter: @fembi_rekrisna

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. Review nya makin bikin mupeng eh. Jadi penasaran buku karangan kak windry yg mana yg bikin membekas di hati kakak 😆. Rada shock jg karena ternyata tebalnya hampir 400hlm tp langsung lega pas kakak bilang bacaannya ringan, soalnya ak tipe yg pantang berhenti sebelum selesai tuntas, 😂😂 aku penasaran bgt sama kelakuan Kara yang ceroboh, kikuk dan tidak bisa menjaga dirinya sendiri, seperti apa sebenarnya Kara ini 😆😆

    Twitter: @alyanishab

    BalasHapus
  12. Baca 400 halaman dengan prolog yang kece sepertinya tantangan banget ya, kalau gak bisa mempertahankan "kekecean prolog" itu bisa-bisa pembaca jadi "hoream" ngelanjutinnya 😅😅 hehe

    BalasHapus
  13. wah seriusan novel ini tebelnya 400 hal? keknya ini bakal jadi novel kak Windry tertebal yang kubaca deh. aku jadi penasaran apa yang dituangkan kak Windry di novel ini. btw aku suka banget tokoh2 buatan kak Windry. loveable aja gitu kek chara manga/anime haha 😁😁
    @dust_pain

    BalasHapus
  14. i love the prolog
    i never imagine how can you take care your brother's girlfriend
    aku suka dengan kalimat awal yang mengalir dan berbunyi indah, sangat sulit menemukan kata-kata yang padu, itu menurut aku sih.
    Aku suka jika ada quote dalam bentuk gambar, tapi kalau boleh saran tulisannya kalau bisa jangan yang sambung seperti itu karena agak sulit di baca

    dont judge book by the prolog (?) Entahlah tapi menurutku prolog adalah pion utama yang membuat aku memutuskan untuk membuka halaman pertama atau tidak, hehehe
    that's just my idea and my opinion
    and i love the cover, meaningfull ><
    pecahan keramik ditengah cover putih

    BalasHapus
  15. Suka dengan review-nya..
    Dan aku sangat terkesan dengan review-nya kakak yang menurutku sangat detail. Bahkan ada tentang sebab-akibat. yaa ampuuun, selama aku buat review buku, nggak pernah ingat sama sekali bagian ini. Kadang aku buat review, patokannya hanya pada karakter tokohnya, alur ceritanya dan sudut pandang. Oh iyaa sama endingnya juga yang sering aku komentari. heheheh... Dan aku memang masih harus belajar inihh..

    Baca review-nya jadi makin tergoda dengan cerita lengkapnya.

    Salam, Pida Alandrian

    BalasHapus
  16. Baca reviewnya bikin tambah penasaran. Tp aku malah sangat penasaran sama eliot ini. Tp kk nya cuma sebutin kara sama kalle terus hiikss. Ngebayangin gimana besar cintanya Eliot ini yah sama Kara. Tp bukan reviewer namanya klu gk berhasil buat penasaran calon pembaca,so kk udah bikin aku tambah penasaran. Hiks.

    Makasih reviewnya kak,salam kenal.

    Twitter: ainhy_edelweiss

    BalasHapus
  17. "Awalnya, aku kira buku ini akan bercerita tentang melupakan atau merelakan masa lalu. Ternyata, yang aku tangkap bukan demikian. Buku ini tentang moving on. Bedanya apa? Moving on isn't just about forgetting or letting go. It's about something's bigger. Sesuatu yang lebih besar, lebih dalam, dan lebih lebih lainnya."

    Novel ini sepertinya penuh makna yang lebih besar dan lebih dalam juga lebih lebih lainnya dari sebuah istilah moving on.
    Semakin dibikin penasaran niy.

    BalasHapus
  18. Membaca review di atas membuatku berpikir seceroboh apa sih si Kara ini. Juga bagaimana perasaan Kalle harus menjaga pacar adiknya. Hey, bukankah sangat menyebalkan harus menjaga seseorang yang dulu pacar adiknya? Dan mereka terpisah karena salah satunya meninggal, bukan karena putus. Kenapa pula eliot memberi amanah sekejam itu? Itu menyakitkan. Membebani Kalle. Sangat menyiksa. Entah kenapa setelah membaca reviewnya membuatku langsung tidak suka dengan eliot. Aku harap aku bisa membaca keseluruhan cerita Kara-Kalle ini agar pandanganku tentang eliot berubah. Karena dont judge book by its ... review, maybe?

    BalasHapus
  19. Sempat bingung mau bilang apa ttg buku ini. Teori buku dengan cerita sendu yang biasanya selalu aku hindari kini menghilang saat tau buku kak Windry. Terutama untuk Glaze yg ngebuat aku penasaran setengah mampus sama How they act to moving on. *iya grammarku juga error

    Kepo sama Kalle beserta karakternya. Mampukah dia menjaga Kara? Terlebih ini termasuk dlm wasiat. Susah-senang harus dilakukan. Hmmm kok ya aku jadi penasaran sama apa yg kak Fifah rasakan, saat bilang 'kesan sendu perlahan menguap'.
    Bagaimana cara Kara menyikapi kepergian Eliot juga menarik perhatianku.

    Wow.. 396 tergolong ringan? Kak Afifah nggak Salah? Ini bukunya sendu loh*baca prolog..
    Huhuuu jadi penasaran sama problem& konflik dalam novel ini bagian mana dan apa:(

    BalasHapus
  20. Aku jadi penasaran bagaimana karakter Kara-Kalle yang berbeda tetapi harus bersatu. Pasti banyak konflik dan masalahnya deh. Apalagi novelnya tebal 400 halaman. Btw aku suka sama reviewnya kak Afifah sama foto bukunya juga.

    BalasHapus
  21. Harus kah saya mereview postingan kakak? Argghhh tidak...
    hahaha, ntar yang ada malah review dalam review lagi. ngga asyik kakak...

    Deva uda sering mampir di blog kakak, walau agak bandel karena ngga pernah meninggalkan jejak (Maafkan daku T.T). Dan seperti biasa, gaya kakak dalam memberikan kesan pada setiap buku dan menuangkannya dalam potingan blog ini selalu membuat saya mengeluarkan kalimat "Oh.. jadi buku ini tuh begini... oke deh ntar bukunya bakal ku... (Cepat Beli/Lama Beli) >o<.

    Review yang tidak spoiler dan terutama mengedepankan pendapat yang tidak menyesatkan para penikmat review.

    Deva belum mendapat gambaran banyak tentang buku kak Windry yang satu ini, udah lama pengen beli tapi masih merasa nanti-nanti. Dari review kak Fifah meninggalkan kesan berarti tersendiri, yah.. akhirnya Deva memutuskan untuk mengikuti GA di akun kak Fifah (Lohh.. kok ngga beli? ;D hahaha).
    Buku dengan cover yang cantik nan elegan (setuju dengan pernyataan kak Fifah) seakan memanggil untuk dimiliki. Dari penuturan kaka Fifah, sepertinya buku ini cukup memuaskan untuk dibaca dalam sekali duduk ,mengingat buku ini terkesan ringan dan penuh adegan kecil yang mampu membuat pembacanya tersenyum kecil.
    well, Deva lagi mencari buku dengan nuansa manis seperti ini.

    Okeh.. emm.. Deva rasa...
    Deva perlu merayu kak Fifah untuk mendapatkan novel cantik ini, hihi
    yah.. semoga komentar Deva di lirik kak Fifah.

    (IG: Sinaoi_sora)
    PS: Akun IG kak Fifah bikin Deva ngiler... ;)

    BalasHapus