Senin, 31 Juli 2017

Seputih Salju Michigan - Dion Ginanto



- Hati Tak Selalu Seputih Salju -


Judul buku: Seputih Salju Michigan
Penulis: Dion Ginanto
Editor: Cicilia Prima
Desainer kover: Helfi Tristeawan
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan: 1, Juni 2017
Jumlah halaman: 196
ISBN: 9786023759729


Tebal salju itu sekitar lima sentimeter, cukup tebal bagiku untk menuliskan kata-kata penyejuk jiwa. 

Dzaki, seorang guru SMA, mendapat beasiswa untuk berkuliah di Michigan. Kehidupannya di negeri Paman Sam itu cukup baik. Hari-harinya berlalu seperti mahasiswa pada umumnya. 

Suatu hari, dia terlibat perkelahian dan mengakibatkan dirinya di penjara. Tidak ada teman-temannya yang tahu. Dia tidak diberi kesempatan membeli diri. Lalu, seorang perempuan Iran datang menyelamatkan. 

Seolah cobaan datang bertubi, dia terlibat dalam aksi kriminal lain. Penembakan. Penculikan. 

Kali ini, seorang gadis yang mencintainya terlibat. 

Tuhan, ampunilah aku.

* * *

Sejujurnya, aku heran dengan versi Scoop buku ini. Tidak ada tulisan judul pada kover. Aku tidak tahu versi cetak juga seperti ini atau tidak karena belum menemukan versi tersebut. 

Ketika membaca blurb di Scoop juga, aku sempat bad mood. Terlalu banyak typo. Blurb saja sudah banyak kesalahan pengetikan, bagaimana dengan isi? Setahuku, blurb Scoop biasanya sama dengan blurb kover belakang atau Goodreads. 

Ketika aku mengecek rating buku ini di Goodreads, aku sekaligus melihat blurb di sana. Hampir sama. Hanya saja bersih typo. Jadi, sepertinya bukan salah orang-orang di balik lahirnya buku ini.

Sayangnya, mood-ku tidak lantas membaik ketika membaca halaman-halaman awal buku ini. Terlalu banyak penyebutan Tuhan sehingga justru terasa memaksa supaya tokoh utama terlihat salih. 

Aku bukan penggemar novel Islami. Kalaupun membaca novel Islami, biasanya bukan kisah cinta. Sepertinya, satu-satunya novel percintaam Islami yang pernah kubaca hanya Ketika Cinta Berstabih 2. Menurutku, novel itu saja tidak berlebihan dalam mendeskripsikan mengingat Tuhan. 

Tidak perlulah dinarasikan bahwa tokoh selalu berada di saf depan berserta alsannya. Terlebih, karena novel ini menggunakan sudut pandang pertama, hal itu justru terlihat seperti show-off. Mungkin akan lain soal kalau menggunakan sudut pandang orang ketiga. 

Sebetulnya, aku nyaris berhenti membaca novel ini. Apalagi, terlalu banyak tokoh perempuan muncul di bagian awal. Hal itu seolah menunjukkan bahwa perempuan merupakan ujian seorang yang salih. 

Untungnya, cerita segera berubah menjadi action. Aku menikmati bagian ini. Mulai dari tokoh yang misterius hingga drama penculikan. Tidak banyak novel Islami yang mengangkat tema seperti itu. 

Kalau buku ini bukan novel yang mengusung keagamaan, mungkin bagian action bisa diperdalam.


Pada kenyataannya, bukan aksi yang diangkat novel ini. Novel ini menekankan pada bagaimana seseorang, yang konon beriman, menghadapi masa kritis. Pun, bagaimana menghadapi ujian yang didatangkan dalam bentuk indah. Bagian aksinya dibuat supaya bisa mengantarkan hal-hal tersebut dengan mudah kepada pembaca dengan cara yang unik. Begitulah yang aku tangkap. 

Secara keseluruan, aku menyukai bagian aksi ini. Hanya saja, aku kurang setuju pada bagian seorang perempuan Muslimah menanggalkan jilbabnya demi menyelamatkan Dzaki. Menyelamatkan nyawa, katanya. Tidak bisakah diganti adegan lain? Pengorbanan lain? 

Apakah itu keputusannya sendiri? Atau bagaimana? Oke, dia sudah dewasa, tapi bukannya 'nanti' ayahnya juga masih akan bertanggung jawab? Setidaknya, meminta izin dulu. Kalau tidak diterima, yaa mungkin bisa ada adegan anak durhaka yang bertobat. CMIIW, ya. Pengetahuan agamaku masih cetek. Lagipula, kepercayaam setiap orang bisa berbeda. 

Overall, aku menyukai ide cerita buku ini. Awalnya, aku mengira akan diberikan cerita yang oh-so-called motivasi hidup. Nyatanya, aku diberikan cerita ringan berbalut aksi. 

Sepertinya buku ini bisa dibaca siapa saja, mulai dari remaja, yang menginginkan bacaan ringan dan beraroma agamis dengan penceritaan yang unik. 

Rating: 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar