Jumat, 14 April 2017

Kenalan dengan Kitty Pelahap Kata




Hai!

Hari kelima maraton.

Sewaktu posting maraton ini diumumkan, aku santai-santai saja. Iya, mau ikut, tapi, yaaa sekadarnya saja. Namanya juga anggota tidak loyal. Lol. Sangat berbeda dengan teman-teman lain yang antusias.

Di timeline berseliweran teman-teman angkatan tuak (baca: 2015 dan sebelumnya) mencari teman-teman angkatan baru (2016 & 2017). Kalau di kampus, angkatan baru sudah dipelonco kali, ya. Bukannya menunjukkan diri, malah angkatan tuak harus berkicau-kicau dahulu.

Aku sempat terkesima melihat antusiasme mereka mencari anggota angkatan baru demi sebuah postingan. Aku mah malah membatin, "Ya udahlah, temanya ada 7. 'Kan cuma harus menulis 5 tema." Semoga setelah ini aku nggak didepak dari BBI. >_<

Belakangan, tertular angkatan tuak, aku jadi ingin berkenalan lebih jauh juga dengan angkatan baru. Sayangnya, angkatan baru sudah "habis" dan aku nggak mau kenalan dengan orang sama dengan orang lain. *udah nggak loyal, banyak laga*

Ujung-ujungnya, sih, aku tetap penasaran untuk bisa kenalan dengan teman baru. Daaan, jadilah aku PDKT dengan Kak Kitty dari www.pelahapkata.wordpress.com. Buat yang mengikuti Kak Kitty di media sosial, pasti pernah melihat Kak Kitty share aktivitas membaca keluarganya, termasuk dengan anak. Kelihatannya seru.

Januari lalu, Kak Kitty bergabung dengan BBI. Kak Kitty sebetulnya sudah di-PDKT member lain. Untungnya, Kak Kitty  masih bersedia aku recoki. Makasih banyak, Kak. Dan, aku langsung todong Kak Kitty dengan berbagai pertanyaan. Makasih lagi, Kak.


Inilah hasil kepo-kepo dengan Kak Kitty:

1. Apa yang membuat Kak Kitty tertarik pada sebuah buku?

Yang bikin aku tertarik pada sebuah buku pertama-pertama pastilah cover-nya dong ya! Meskipun pepatah mengatakan "Don't judge a book from it's cover", tetap saja aku nggak bisa untuk nggak menilai buku dari cover-nya. Minimal, kalau cover-nya sudah begitu menarik hati, baru deh aku mulai membalik buku tersebut dan membaca sinopsis yang ada di back cover-nya. Dan inilah faktor kedua yang membuatku tertarik pada sebuah buku: sinopsis cerita.

Lain lagi kalau aku sudah keburu browsing dan baca berbagai review di Goodreads atau blog buku lainnya. Biasanya tanpa perlu melihat cover, aku akan memutuskan membaca buku yang menurutku sesuai dari hasil review para pembaca lainnya. Selain itu, faktor penulis juga memengaruhi ketertarikanku pada sebuah buku. Ada beberapa penulis yang secara otomatis pasti kulirik buku-bukunya saking aku udah merasa klop dengan penulis-penulis tersebut, sebut saja: Indah Hanaco, Akiyoshi Rikako, Sir Arthur Conan Doyle, Dr. Seuss, Arleen A., dll.


2. Bagaimana cara menularkan virus membaca kepada anak?

Wah! Cara menularkan virus membaca kepada anak ya? Hmmm.... Pastinya semua tetap harus bermula dari diri sendiri dulu, ya. Istilahnya, jangan mimpi anakmu suka membaca kalau kamu sebagai orang tua juga nggak suka baca! Prinsipnya sih sederhana, ya: children see, children do.

Karena aku sangat menyadari besarnya manfaat dari kecintaan akan membaca, maka sejak anak-anak masih dalam kandungan pun aku sudah sering membaca bareng mereka. Iya, aku baca dengan cara read aloud. Nggak melulu buku anak-anak, kok. Any kind of books, even just short articles in some magazines or newspapers. Hehehe.

Nah, pas anak-anak sudah lahir, awalnya kuberikan soft books yang cuma diemut-emut, digigit-gigit dan diilerin sama mereka. Hihihi. Nggak apa-apa. Itu cara bayi berkenalan dengan buku, kok. Setelah usia setahun, baru deh kusuguhi board book. Di sini mereka sudah bisa mengeksplor sendiri buku dengan mengamati gambar-gambar yang ada, membolak-balik halaman buku, sampai mengambil dan menyimpannya kembali di box khusus penyimpanan buku.

Memasuki usia toddler (2 tahun) aku makin tergila-gila memperkenalkan buku kepada mereka: activity books, phonics, story books, sampai buku-buku pengetahuan versi anak (vehicles, dinosaurs, solar system/universe, simple science, etc). Dari situ, mulai ketahuan deh buku-buku macam apa yang jadi favorit mereka.

Sebenarnya, aku nggak pernah menargetkan agar anak-anakku jadi cepat membaca, loh! Hanya aku ingin agar mereka bisa mencintai kegiatan membaca buku sedini mungkin. Ternyata usahaku ini nggak sia-sia karena si sulung terbukti sudah bisa membaca sebelum ia duduk di kelas TK Kecil!

Dan, sampai sekarang (sudah di TK Besar), kebiasaan membacanya pun makin meningkat. Cuma memang aku dan suamiku harus extra hati-hati dalam meletakkan buku-buku kami yang isinya sensitif (misalnya: adult content). Bukannya apa-apa, bisa berabe kalau nggak sengaja terbaca si sulung. Pernahkah kejadian? Pernah! Hahahaha.


3. Nah, kalau anak terlanjur nggak sengaja membaca buku adult, sebaiknya bagaimana?

Aku sampai discuss juga nih sama suamikum. Kujawab sejauh pengalaman kami aja, ya.

Kebetulan  kami punya semacam buku medis yg berisi berbagai pengetahuan seputar penyakit-penyakit yang diderita dari bayi sampai dewasa, dan lumayan bisa jadi panduan kalau pas anak-anak menunjukkan gejala-gejala sakit. Nah! Halaman-halaman awal buku medis ini memuat berbagai gambar dan informasi mengenai tubuh manusia (dari bayi-dewasa) lengkap dengan keterangannya, termasuk sistem reproduksinya.

Pernah, nih, si sulung (5 tahun)  penasaran dan buka-buka. Sebenarnya, aku dan suami memang pas lagi beberes buku-buku, sih, jadi kami sambil coba liat reaksinya. Dan karena sebelumnya dia juga sudah pernah baca buku Human Body versi anak-anak, dia tau persis maksud gambar-gambar tersebut. Awalnya, dia senyum-senyum dan ketawa-ketawa sambil tunjuk-tunjuk gambar pantat, dll.

Nah, dari situ kami tanya kenapa dia ketawa. Trus dia bilang "pantat!" sambil ketawa-ketawa. Terus, nunjuk-nunjuk alat kelamin pria dan wanita juga, ya kami sekalian tanya dan dia tau kalau itu penis dan vagina (memang kami biasakan membahasakan alat genital sesuai Bahasa Indonesia yang benar). Terus, jadi malah lanjut ngobrol soal fungsinya yang untuk buang air seni.

Eh... Datang pula si bungsu (3 tahun)  yang ketawa-ketawa nunjuk gambar payudara dan gambar rahim yang ada baby-nya. Ya, sekalian saja kami bilang, dulu pas masih baby mereka juga nyusu di payudara mama tapi sekarang udah gede, jadi masih mau nggak? Anaknya geleng-geleng ogah. Hahaha.

Terus, si bungsu malah bisa jelasin juga kalau dulu dia juga sama kaya si baby yang ada di dalam perut mama. Sekalian deh kami ngetes dia untuk bedain yg mana sih badannya dia (gambar badan cowok) dan mana sih badannya mama (gambar badan cewek).

Nah! Isenglah kutanya Pak Suami seandainya dia punya majalah adult dan tahu-tahu kebaca sama anak-anak kami gimana? Dia langsung bilang ya itu udah pasti salah dia banget dan harga dirinya yang dipertaruhkan. Yang ada dia akan langsung ambil majalah itu dan bilang akan segera membuangnya tanpa menjelaskan lebih lanjut. Kecuali ... jika anak kami sudah remaja dan bisa diberi pengertian.

Intinya, sih, jangan sampai deh sembarangan meletakkan buku adult content jika kita sudah punya anak. Itu termasuk salah satu tanggung jawab kita sebagai orang tua pada anak. Semoga cukup memuaskan ya jawabannya. Maklum anak kami masih kecil-kecil jadi baru bisa kasih pendapat sejauh itu saja.

(Ini cukup mencerahkan kok, Kak. Apalagi buat yang belum punya pengalaman *nunjuk diri sendiri*)

4. Kenapa memilih menjadi blogger buku?

Jadi book blogger sebenarnya lebih karena aku kepengen semacam punya catatan reading journal keluarga. Kayanya kok sayang juga ya kalau buku-buku yang kami sudah baca tidak kami "share" ke yang lain. Untuk itulah awal mula aku bikin blog buku pelahapkata.wordpress.com

Harapannya sih supaya buku-buku yang sudah direview di situ juga bisa jadi rekomendasi bagi pembaca lainnya. Selain itu, menjadi blogger buku juga melatih aku untuk menulis. 'Kan biasanya lebih suka baca saja non stop. Nah, sekarang pelan-pelan belajar untuk mengemukakan pendapatku mengenai buku-buku yang sudah kubaca.

5. Terakhir, peratanyaan klasik: apa harapan terhadap BBI dan dunia book blogging di Indonesia?

Harapanku untuk BBI di ultahnya yang ke-6 ini adalah:

- semoga semakin bisa memengaruhi kemajuan dunia literasi Indonesia. Melalui berbagai events yang diadakan oleh BBI, semoga orang-orang bisa makin sadar bahwa meski masih banyak orang Indonesia yang belum menyukai kegiatan membaca, tetap ada segelintir orang yang begitu menggilai membaca! Dan semoga virus baik ini bisa ditularkan melalui BBI.

- BBI bisa terus menambah anggotanya dari berbagai penjuru Nusantara. Supaya kelak bisa juga mengadakan gathering-gathering sesama anggota BBI di lokasi yang berdekatan.

- BBI makin eksis dan menunjukkan diri pada dunia bahwa Indonesia pun memiliki para blogger buku yang juga dapat membawa karya-karya lokal ke dunia global (perbanyak review buku-buku karya penulis negeri sendiri)

- BBI bisa tetap jaya dan mengudara (loh , kok macam iklan radio 😳) sampai bertahun-tahun kemudian! Minimal supaya anak-anakku juga bisa join BBI kelak. Hahahaha.


Waaah. Makasih banyak, Kak Kitty. Jawabannya memuaskan banget, kok.

Anyway, pertanyaan-pertanyaanku serius banget nggak, sih? Huehe.

Ya udah, sekalian merecoki, ini 10 bookish facts Kak Kitty:

1. Nggak pernah nggak tahan kalau lihat book fair/book sale/bazaar buku! 

Entah kenapa, dorongan untuk pulang tanpa tangan hampa itu selalu ada! 😅 Jadi tumpukan buku baru yang belum dibaca pun makin menggunung. Asli, susah bener bertobat dari perilaku menyimpang yang satu ini!

2. Selalu ada waktu untuk membaca! 

Anytime... Anywhere... Itu sebabnya aku selalu bawa buku dalam tas. Kalau lagi di luar rumah, seringnya tuh aku baca buku pas lagi dalam perjalanan (di angkutan umum: commuter line, bus TJ, metromini, mikrolet, angkot, sampai ojek!) atau pas dalam keadaan menunggu.

(Di ojek! Dedikasi banget, ya)

3. Nggak pernah absen ke perpustakaan untuk sekadar baca di sana atau pinjam buku.

 Ya, minimal seminggu sekali deh ada library visit. Dan, ya, itu, udah tau masih banyak buku belum dibaca di rumah, tetap  pulang-pulang aku bawa buku pinjaman dr perpustakaan. Hahaha.

4. Punya kebiasaan menandai quote penting dan fave dengan post it. 

Entah kenapa, aku nggak bisa lepas dari yang namanya post it kalau sedang baca buku. Kalau e-book biasanya langsung aku screenshot untuk kusimpan.

5. Read now, review later

Nah! Ini nih kebiasaan burukku. Kalau udah asyik baca, suka gak bisa berhenti! Akibatnya utang review pun menumpukkk 😢

(Samaaa. 😭)

6. Belum pernah "baca" audio-book!

Penasaran pengen nyoba, sih! Any suggestions? Kupikir audio-book ini akan serupa dengan drama radio atau drama kaset anak2 jaman aku kecil dulu. Bener nggak, sih?

(Sama juga. Belum pernah menyentuh ini. 😭

7. Ke mana-mana selalu sedia kantong plastik di dalam tas demi berjaga-jaga kalau hujan turun. 

Aku selalu memastikan kenyamanan dan keselamatan buku-buku yang kubawa dalam tas. Jadi nggak apa-apa deh akunya basah kuyup kehujanan, asalkan buku-buku yang kubawa tetap kering dan kece! Hehehe.

8. Karena aku suka membaca kapanpun dan di mana pun, akibatnya buku-bukuku tersebar hampir di seantero rumah: di ruang TV, di atas meja makan, di kamar, di dapur, di atas meja kerja, di kamar mandi bahkan di tempat kerjaku juga. 

9. Punya impian bikin home library yang nyaman dan penuh dengan buku2 anak untuk memuaskan hasrat membaca anak-anakku. 

Aku berharap mereka bisa tumbuh jadi anak-anak yang mencintai buku dan menikmati kegiatan membaca.

(Semoga tercapai! Aamiin) 

10. Last but not least, aku hobi banget ikutan giveaway berhadiah buku! 

Bukan semata-mata ngincer buku gratisnya sih, tapi menjawab pertanyaan giveaway itu juga melatihku berpikir dan menulis. Rasanya seru dan menyenangkan, apalagi kalau berhasil memenangkannya. Puasss banget deh rasanya!

Lagi-lagi-lagi, makasih banyak, ya, Kak Kitty untuk waktu dan tenaganya. Ngetik sebanyak itu 'kan capai, ya. Maaf, ya, Kak.

Semoga harapan Kak Kitty di atas bisa tercapai!


6 komentar:

  1. Jangan sampai anaknya kayak saya ya, uda baca buku adult sejak di bawah 18 th hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bwahahahahaha.... Nah ya! Bintang nakal ya!
      Tapi memang sudah ada pengakuanmu sih ya soal yang satu ini di postingan BBI HUT 6 kemarin di blogmu. ^o^

      Hapus
  2. Wuahhhh... meskipun ngetik sebanyak itu memang cuapek, tapi hasilnya jadi bagus gini pas dipublished! Me likey! Makasih banyak loh, Fifah! Kapan2 gantian ya aku yang mewawancarai dirimu. Mau yaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaha. Ini nggak banyak diedit kok.
      Aku mah apa yang bisa diwawancarai.😂

      Hapus
  3. Duh tertohok nih bacanya. Aku suka bgt sama buku tp entah sudah brapa lama aku gak baca buku. Akrg lg niatin bgt mau mulai baca lg sih..

    BalasHapus
  4. Aku juga sama seperti mva Kitty ingin punya home library sendiri. Dia ingin yang desain seperti apa ya? Kalau aku maunya library seperti milik penulis script nya Star wars dan star trek. Itu keren sekali

    BalasHapus