Senin, 10 April 2017

Cerita Pembaca Pengguna Kendaraan Umum




Hai! Hai! Halo!

Lama banget, ya, blog ini berjamur tak terurus. Sejak Negara Api menyerang, memang agak malas menulis di blog ini karena harus menggunakan komputer. Blogger.com ribet, Kak, kalau diakses dari ponsel. Aplikasi di Android-nya juga sederhana banget, jadi tetap saja berantakan.

Oke. Cukup curhat Negara Api-nya. Aku mau curhat yang lain.

Dalam rangka HUT BBI, sebagai anggota yang baik *halah*, aku tidak mau membiarkan blog ini berjamur. Jadi, aku mau ikut maraton posting dari tanggal 10 sampai 15 April. (semoga bisa)

Hari ini, temanya yang mudah dulu: Tips dan/atau Pengalaman Seorang Pembaca

Seperti judul blogpost ini, yaa, tentang pengalamanku sebagai pembaca yang menggunakan kendaraan umum.


Di Kereta


Ini tempat favorit untuk baca, termasuk stasiun. Aku kadang suka naik kereta (Bogor-Jakarta) tanpa tujuan. Turun setelah Stasiun Manggarai. Cari bangku. Duduk. Baca. Pulang lagi. 

Di keretanya sendiri, aku suka baca karena, yaaa, mau apa lagi? Daripada melamun. 

Aku termasuk slow reader. Buku 300 halaman bisa baru selesai 6 jam. Entah kenapa, kalau membaca di kereta, buku 300 halaman bisa selesai atau nyaris selesai. Mungkin efek kereta yang berjalan cepat, jadi baca pun ikut cepat? Sebetulnya, sih, rasanya tanggung kalau lagi seru, tapi terpaksa berhenti karena harus turun.

Sebagai manusia muda *ehem*, kalau mau baca buku, biasanya aku berdiri. Yaaa, daripada ada bisik-bisik semacam, "Hih, suka baca, tapi nggak mau kasih duduk untuk prioritas." Atau tiba-tiba muka ada di sosial media orang-orang. 'Kan kadang kalau fokus dengan buku, gerombolan ayam lewat saja bisa nggak sadar, ya?

Tapi, aku baca kalau memungkinkan saja. Kalau jam-jam sibuk mana mungkin baca. Space-nya saja hanya cukup untuk tangan-tangan menempel di sisi tubuh. Malah, kadang berdiri pun hanya menapak di ujung kaki. Lol

Sayangnya, sekarang kebiasaan ini mulai jarang. Penyebabnya apa lagi kalau bukan karena smartphone, terutama setelah ada Telegram dan makin suka main Uno. Huhu.

Bagaimanapun, aku bukan orang yang akan merasa bersalah karena jarang membaca di kereta lagi. 'Kan walaupun bukan di kendaraan, di tempat lain masih mau baca. Hehe.


Di Angkot dan Ojek


Dua kendaraan ini sama sekali bukan tempat aku bisa membaca. Angkot jalannya kurang stabil. Dan lagi, naik ankot di Kota Bogor mah sebentar-sebentar harus naik-turun ganti angkot. Kalau naik angkot yang jauh, malah semakin nggak bisa baca. Malah mengamati jalan karena takut tempat tujuan terlewat. 

Selain di angkot, di ojek pun nggak bisa baca. Takut jatuh, Kakaak. Dasarnya, aku memang takut naik motor kalau bukan dengan orang yang sudah kenal banget.

Di Bus


Tergantung busnya. Kalau semacam Transjakarta, aku bisa baca karena cukup stabil walaupun nggak sestabil kereta. Ini pun sambil berdiri. 

Kalau semacam bus antarkota kayak Primajasa, MGI, atau Agra Mas, tergantung situasi. Sopir bus semacam itu 'kan bawanya kadang nggak enak. Huhu. Selain itu, hal yang jadi pertimbangan juga siapa yang duduk di sebelah. Aku nggak suka dekat-dekat orang. Dan, aku juga nggak suka dengan space sempit. Jadi, kalau yang di sebelah nggak makan space, aku lumayan bisa membaca.

Di kereta juga kiri-kanan space-nya sempit, ya? Tapi, aku merasa kereta itu luas.

Aku banyak nggak sukanya, ya? Walaupun begitu, aku suka naik kendaraan umum. Sering banget ada cerita seru di kendaraan umum. Plus, kendaraan massal mengurangi kemacetan dan lebih ramah lingkungan ... katanyaaa.



Aku punya sedikit tips bagi yang mau membaca di kendaraan umum. Mungkin alasannya receh banget, tapi aku mah hobi bagi-bagi receh.

1. Jaga barang bawaan

Ini penting banget karena kendaraan umum adalah salah satu tempat rawan kejahatan. Barang berharga ditaruh di depan atau di tempat yang dirasa paling aman. 

2. Baca buku yang tipis saja

Buku yang tebal bisa menyulitkan diri sendiri. Belum lagi, di dalam kendaraan bisa saja ada gerakan tiba-tiba yang menyebabkan buku jatuh. Kaki kena buku 1000 halaman itu nggak enak banget. Mending kalau kena sendiri. Kalau kena yang di sebelah, bisa-bisa ada label "hobi membaca tidak selalu baik".

3. Tetap di dunia nyata

Atau, setidaknya setengah diri tetap di dunia nyata. Ini jelas mengurangi resiko kejahatan. Ini juga mencegah diri sendiri jadi makhluk annoying. Disuruh geser, nggak sadar-sadar saja sudah cukup membuat satu gerbong riuh.

4. Jangan memaksa membaca kalau kondisi kurang memungkinkan

Ini juga menyebalkan banget kalau sampai nyedak-nyedak orang lain supaya ada space untuk buku atau sekadar smartphone. Atau, kalau angkutan ugal-ugalan, tapi maksa membaca. Kasihan mata. 

Segitu saja, sih, tipsku. Namanya juga receh. Ada yang mau menambahkan? 


8 komentar:

  1. Mpah...ini kamu jarang ngeblog, bukannya karena gara - gara UNO, WeWe sama Maifam ya?

    #runrunsmall

    Anyway..satu tips lagi. Baca buku yang covernya aman, kalau yang hot nanti dilihat orang di KRL, hahaha. Kalau aku biasanya baca di KRL pake e-readerku sih, jadi ya santai wae.
    Kalau naik ojek ya boro - boro bisa santai bacanya.

    BalasHapus
  2. Aku suka iri sama orang yang bisa membaca di kendaraan umum. Soalnya aku kalau baca di angkot atau apapun yang melaju kencang pasti kepalaku pusing. Tapi dulu pernah nyoba baca di kapal laut dan kepalaku aman-aman aja :D

    BalasHapus
  3. Aku juga suka baca di bis luar kota, biasanya sih ke Cirebon. Dari Semarang ke Cirebon, lumayan tuh 6 jam an. Tapi seringnya kalo bis sudah jalan, terus jalur jalurnya kelok2, kalo ngga ngantuk ya pusing buat baca. Tidur dong akuuuhhh hahahaha....

    BalasHapus
  4. Aku termasuk yang gak suka membaca di kendaraan, apalagi mobil, bus, dan sejenisnya. Entahlah, selalu membuatku pusing. Kereta juga, tapi masih agak mendinglah dibandingkan transportasi lainnya. Tapi, kalo kelamaan baca di kereta juga bikin pusing. Hehe... Pokonya baca sambil tiduran di kamar masih jd posisi yang wuenak buatku.

    BalasHapus
  5. Aku dulu pembaca setia waktu di kereta. Kadang sehari bisa kelar satu buku waktu perjalanan pp. Tapi kadang lebih banyak tidurnya sih, capek sis bubaran kuliah sis..

    BalasHapus
  6. Kak Mpaaah. Haha. Tele memang mengalihkan dunia kita, yaash. Hihi.
    Kalo dulu di Malang sih aku paling suka baca buku di angkot. Bisa jadi cara membunuh waktu kalo pulang atau berangkat sekolah. Kalo sekarang di Depok mah, udah jarang baca buku di kendaraan. Selain karena ke kampus tinggal jalan, yaa, nggak ada angkot seenak di Malang :(

    BalasHapus
  7. Aku pernah selesaikan satu buku mulai dari nunggu di stasiun sampai turun dari kereta. Tapi kalau baca di ojek itu sih uji nyali menurut saya...hehe

    BalasHapus
  8. aku banget itu baca di krl. sampe hapeku ilang. :3

    BalasHapus