Selasa, 27 September 2016

Lady Book's Favorite Nonfiction Books | Selasa Bercerita



Aku tidak membatasi bacaanku. Mungkin ada genre-genre tertentu yang belum pernah kubaca, tapi kalau suatu saat menemukan buku genre tersebut yang sekiranya bagus, bisa saja kubaca. Begitu sebaliknya. Tidak semua genre favorit kubaca. Tergantung kira-kira seberapa menariknya buku tersebut.

Walaupun begitu, aku memang lebih sering membaca buku fiksi. Memang lebih mudah mendapat buku fiksi yang menarik. Mungkin, saking jarangnya membaca buku nonfiksi, aku bisa mengingat nyaris semua buku nonfiksi yang pernah kubaca.

Kalau sudah mulai membaca nonfiksi, biasanya akan aku selesaikan. Hal ini karena ketika mulai, aku membacanya karena memang tertarik (buku pelajaran tidak termasuk). Bahkan, aku pernah menamatkan membaca sebuah buku dari satu seri tentang perang padahal aku tidak begitu suka sejarah. Hal itu karena pembawaan buku tersebut yang menarik. Sayangnya, aku tidak menemukan seri lanjutannya.

Di antara buku-buku nonfiksi yang pernah kubaca, ada dua buku yang akan selalu menjadi favoritku.

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela


Pertama kali membaca buku tersebut adalah ketika masih SMP. Awalnya, kukira buku tersebut adalah novel fiksi. Setelah beberapa bab, aku merasa ada yang aneh, seolah penulis ingin memberi tahu bahwa Totto-chan yang diceritakan dalam buku telah berubah ketika dewasa.

Semakin dibaca, aku akhirnya tahu bahwa buku ini adalah otobiografi. Penyampaian perjalanan hidup dalam buku ini sangat tidak terkesan seperti biografi. Siapa pun bisa saja mengira buku ini adalah fiksi anak-anak. Aku bahkan sebetulnya tidak yakin buku ini termasuk nonfiksi atau fiksi. Walaupun begitu, pesan dalam buku ini tetap bisa tersampaikan kepada pembaca.

Buku selanjutnya yang menjadi favoritku adalah


Yap. Masih buku perjalanan hidup seorang Tetsuka Kuroyanagi. Kali ini, yang lebih dikedepankan adalah hal-hal yang dilihat beliau dalam perjalanan kemanusiaanya bersama UNICEF. 

Bagian prolog buku ini bisa sukses membuat mrembes mili. Bukan berarti buku ini berisi hal-hal menyedihkan, loh, ya. Tetsuko Kuroyanagi bisa membuat pembaca bersimpati, sekaligus membangun kekuatan. Tentunya, hal ini juga berkat penerjemah dengan terjemahannya yang tidak mengubah hal yang ingin disampaikan penulis.

Kalau ada yang bertanya buku yang bisa mengubah arah hidupku, buku inilah jawabannya.

Anyway, terima kasih untuk Kak Putri Prama yang pertama kali mengusulkan tema ini. Aku jadi mengulang kembali ingatan yang kadang terlupa. :)

Terima kasih juga kepada seluruh kru Selasa Bercerita yang mengizinkanku ikut rubrik ini. Aku sangat penasaran dengan buku nonfiksi favorit kalian, Kak Asri, Kak Inokari, dan Kak Putri Prama. ^^



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar