Jumat, 15 Juli 2016

Surat untuk Ruth - Bernard Batubara



 - Mengingat untuk Melupakan -

Judul buku: Surat untuk Ruth
Penulis: Bernard Batubara
Editor: Siska Yuanita
Desain cover: Marcel AW
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Jumlah halaman: 168
Cetakan: Pertama, April 2016
ISBN: 9786020304137


Kesimpulannya, Ruth: di saat kita tidak lagi mencari, di situlah kita akan menemukan. - hlm. 102

Are bertemu Ruth ketika dia sedang memotret di atas kapal feri. Ada sesuatu yang menarik dari sosoknya. Ruth adalah keindahan yang misterius. 

Pertemuan itu membuat mereka menjadi dekat. Walaupun jarak memisahkan, mereka tetap sering berkomunikasi. Setiap ada kesempatan, Are pun mengajak Ruth berjumpa agar mereka bisa semakin sering  bersama.

Sayangnya, mereka tidak bisa terus bersama.

* * *

Aku menemukan buku ini di meja swap. Aku memilih buku ini karena ingin tahu salah satu tulisan penulis kondang yang sering nampak di social media, Bernard Batubara. Kebetulan, bukunya masih bagus dan bersampul plastik, seolah tidak ada alasan bagiku untuk tidak menukar bukuku dengan buku ini.

Belakangan, aku berpikir ulang, kenapa dulu aku mengambilnya? Aku penyuka romance, tapi buku seperti ini bukan my cup of tea. Dari judulnya saja sudah ketahuan bahwa buku ini buku galau. Mending sekalian membaca buku puisi saja kalau mau guling-guling galau. 

Tapi, pada akhirnya, aku coba membaca buku ini. Toh, buku ini tipis. Aku bukan penyuka buku seperti ini, tapi aku juga bukan pembencinya. Dulu, pernah ada buku semacam ini yang aku sukai kok.

Maka, aku katakan buku ini bagus. Aku perlu berulang kali berhenti dan curhat di Goodreads serta Twitter, tapi akhirnya aku bisa selesai membaca buku ini dalam dua hari. Satu jam pertama di hari sebelumnya, sisanya di hari selanjutnya. 


Tokoh Ruth sulit ditebak, tapi tidak sesulit menebak makna ucapan "Terserah" yang diucapkan seorang perempuan. Dia seperti dua sisi mata uang. Dia begini, tapi juga begitu. Itu serunya bermain dengan mata uang, kan? Kita tidak tahu sisi mana yang akan muncul. Well, belakangan, Ruth semakin mudah ditebak karena mungkin si "aku" sudah lebih mengenal Ruth.

Aku tidak akan banyak mengomentari tokoh "aku" alias Are. Aku tidak banyak tahu laki-laki jatuh cinta itu seperti apa. Satu hal yang pasti, Ruth adalah sosok yang mudah dicintai dan penulis menggambarkannya dengan baik. Tidak salah kalau Are jatuh cinta pada Ruth. Mungkin kalau aku laki-laki dan aku bertemu perempuan seperti Ruth, aku juga akan jatuh cinta padanya. 

Ada satu hal yang mengganjal bagiku. Pada salah satu bagian, diceritakan bahwa ibu Ruth cukup posesif. Di bagian lain, Ruth diizinkan berlibur bersama seorang laki-laki, bahkan kemudian mereka tidur dalam satu kamar hotel. Kok bisa? Ruth tidak cerita kepada ibunya tentang dengan siapa dia berlibur atau tidak cerita tentang satu kamar itu? Tetap saja mengganjal. 

Oke, dengan perumpamaan ibu Ruth melepas anaknya berlibur bersama laki-laki dengan wejangan-wejangan dan tidak tahu urusan kamar, adegan ketika mereka berwisata adalah bagian-bagian yang romantis dan . . . menusuk. Apa pun yang diceritakan dalam bentuk memoar hampir selalu menusuk, kan? 

Setelah ditusuk-tusuk begitu, bagaimana ketika mencapai ending? I don't like it. Really. Mungkin ada pembaca lain menyukai ending semacam ini, tapi aku tidak. Perasaanku antara kesal, tapi juga ingin tertawa. Ah, sudahlah. Kamu akan mengerti maksudku kalau kamu membaca buku ini.

Tahukah kamu, Ruth, cahaya yang dipancarkan bintang-bintang adalah cahaya yang berasal dari masa lalu? Artinya, pada saat aku dan kamu melihatnya, bintang-bintang itu sudah lama tidak ada di sana. Mereka sudah mati. Mereka adalah masa lalu. - hlm. 56

Rating: 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar