Senin, 28 Maret 2016

Menghadapi MEA dengan “Bekerja Ala Jepang”




Bicara soal MEA atau Masyarakat Ekonomi ASEAN sepertinya adalah hal yang bisa membuat pening. Aku sendiri tidak begitu paham mengenai topik yang satu ini. Satu hal yang pasti, sebelum aku lulus, banyak yang bilang bahwa MEA bisa menyebabkan kesulitan mencari pekerjaan bertambah. Entahlah.

Aku justru berpikirnya, “Enak, dong, bisa kerja di luar negeri dengan bebas.” Kemudian, aku merasa seolah Singapura memanggil-manggilku. Lol. #numpangngayal

Aku, sih, anaknya menghindari kata “ribet”. Menurutku, daripada meribetkan dampak negatif MEA, lebih baik belajar cara deal dengannya. Ngomongnya gampang, praktiknya . . . Hehe.

Sebelum lulus, aku pernah meminjam buku dari kakak kelas. Aku bilang ingin meminjam buku tentang pariwisata Jepang. Aku malah dipinjamkan dua buku. Satu buku memang masih berhubungan dengan pariwisata, yaitu Shocking Japan. Satu buku lagi, bukan buku pariwisata sama sekali.

Buku yang satu lagi itu berjudul “Bekerja Ala Jepang”. Buku ini ditulis oleh Tim Enjinia Nusantara. Mereka adalah WNI yang pernah mencicipi rasanya bekerja di Jepang.


Begitu membaca buku ini, aku merasa otakku keriting. Kata-katanya berat. Paragrafnya gondrong. Karena sudah dipinjamkan, mau tidak mau aku membacanya.

Bulan ini, aku membaca buku itu lagi. Akhir-akhir ini semangatku sedang turun. Mungkin kalau membayangkan betapa orang Jepang begitu “total” dalam bekerja, semangatku bisa ikut naik.

Buku ini terbit sebelum ada kehebohan MEA. Walaupun begitu, aku merasa buku ini cocok untuk menghadapi MEA. Beberapa perusahaan Jepang memang sedang krisis, tetapi belajar bekerja dari orang-orang Jepang sepertinya tidak ada salahnya. Bagaimanapun, mereka pernah menjadi negara paling maju di Asia.

Aku belum akan membuat review buku “Bekerja Ala Jepang”. Belum saatnya. Insya Allah, review buku ini akan aku tayangkan tanggal 31 Maret.

Di sini, aku akan membahas sedikit beberapa hal baik yang bisa dicontoh dari orang-orang Jepang.

Tingkat Kedisiplinan Tinggi

Ini mah tidak usah dibahas, sepertinya. Siapa yang tidak setuju orang-orang Jepang sangat disiplin?

Segala macam hal di-deadline-kan. Bahkan, ada bagian tersendiri dalam buku ini yang berjudul “Strict Deadline”. Mereka sepertinya betul-betul meyakini bahwa “time is money”. Memboroskan waktu berarti memboroskan uang.

Kebiasaan ini jelas sangat menguntungkan. Mana ada perusahaan yang suka dengan karyawan terlambat terus. Mungkin hanya karyawan yang mempunyai kekuatan super yang akan dimaklumi kalau terlambat.

Masalah kedisiplinan juga bukan hanya masalah waktu. Pekerjaan cepat selesai, tetapi hasilnya berantakan pun percuma. Karena itu, ketelitian dan kerapian juga menjadi hal penting dan menjadi bagian dari sebuah kedisiplinan.

Manajemen yang Baik

Manajemen di sini bukan hanya manajemen skala perusahaan, tetapi juga perorangan. Setiap orang harus mempunyai manajemen diri yang baik. Manajemen yang baik bukan hanya bermanfaat bagi seorang individu, tetapi bagi semua orang di lingkungan tersebut.

Ada banyak hal tentang manajemen di buku ini. Salah satu kiat manajemen di Jepang dikenal dengan budaya 5S: seiri (ringkas), seiton (rapi), seiso (resik), seiketsu (rawat), dan shitsuke (rajin). Penerapan 5S yang baik bisa meningkatkan efektivitas dan efisiensi.

Secara teori, penerapan 5S sepertinya mudah. Namun, kembali lagi pada kedisiplinan.

Tidak Hanya Mementingkan Diri Sendiri

Bekerja untuk siapa? Mungkin untuk diri sendiri. Kenyataannya, dalam bekerja, tidak mungkin bisa dilakukan seorang diri.

Kalau urusan naik jabatan, bolehlah bersaing. Asalkan masih dengan cara yang sehat. Untuk keseharian, tetap saja harus bekerja bersama-sama.

Contoh tidak mementingkan diri sendiri, misalnya ketika bekerja di dapur dan ada tumpahan air di lantai, entah siapa yang menyebabkan. Kalau orang egois, bisa saja bilang, “Yang penting aku nggak kepleset. ” atau “Aku sibuk.” Kalau orang baik, akan membereskan masalah itu. Kita mungkin tidak terpeleset, tetapi orang lain mungkin tidak menyedari tumpahan tersebut. Kalau orang itu terpeleset dan menabrak kita, kita juga yang rugi. Duh, amit-amit.

Pelatihan, Pelatihan, Pelatihan

Meng-upgrade diri adalah hal yang penting. Perusahaan bahkan mau saja membayar pelatihan untuk pegawai kalau hasilnya bisa berguna bagi perusahaan tersebu. Kalau pelatihan yang ingin diikuti pegawai tidak sesuai spesifikasi yang dibutuhkan, pegawai tetap boleh mengikuti asalkan dengan biaya sendiri. Hal tersebut menunjukkan masyarakat Jepang menghargai pengembangan Sumber Daya Manusia.

Sebelum lulus, para pelajar juga dibekali hal-hal yang berguna untuk terjun ke dunia kerja. Sistem perekrutan karyawan di Jepang bisa dikatakan lebih ribet daripada di Indonesia. Sistem tersebut tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan, tetapi dari situ, para pelajar mungkin bisa lebih siap terjun ke dunia “nyata”.

Aku belum mengetahui seberapa efektif empat hal tersebut bisa menambah kesiapan menghadapi MEA. Namun, kupikir, dengan atau tanpa MEA, keempat hal tersebut tetap berguna. Kalaupun tidak ingin menjadi pegawai, keempat hal tersebut tetap perlu diterapkan.

Aku tidak tahu seberapa “mengerikan” MEA. Aku hanya berpikir, kalau kita percaya pada kemampuan diri sendiri, MEA bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Produk lokal pun bisa bersaing di mancanegara. Tentunya, percaya diri pun tetap dengan terus upgrading diri supaya tidak kalah.

Demikian ke-sotoy-anku hari ini.

14 komentar:

  1. Disiplin memang harus menjadi nafas kehidupan jika ingin hidup lebih baik.
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  2. Waaah, bukunya boljug nih. Mau cari di Toga Mas ah

    bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga berjodoh dengan buku ini. ^^

      Hapus
  3. Setuju sama Afifah....kita harus meniru kedisplinan Masyarakat Jepang. Meng-upgrade diri agar tak terlindas oleh zaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, yang baiknya ditiru, jeleknya dibuang.

      Hapus
  4. Disiplin, kayanya ini sih diperlukan dalam segala hal ya. Secara disiplin pada diri sendiri itu gak mudah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itu hal paling sulit, tapi paling harus.

      Hapus
  5. Iya nih penting bgt soal disiplin. Masih suka tarsok2 aja nih aq saat mengerjakan sesuatu. Harus segera diperbaiki ;)

    BalasHapus
  6. Klo udah ngomongin kedisiplinan orang Jepang, saluuut deh

    BalasHapus
  7. disipln yang tinggi, manajemen yang baik, tidak mementingkan diri sendiri, pelatihan pelatihan, masih jauh, semangat semangat merubah diri :)

    BalasHapus
  8. Hahaha dikira aku doank yang ngerasa ntu buku berat banget. Puyeng liat susunan katanya. Tapi Masya Allah isi bukunya keren banget. Banyak pelajaran yang bisa diaplikasikan, untuk menghadapi perekonomian zaman sekarang. Pokoknya baguuusss n kereeen bukunya..

    BalasHapus
  9. untuk urusan kedisiplinan, Jepang memang salah satu juaranya :)

    BalasHapus
  10. wah iya ini buku pas banget kayaknya bsa di jadikan acuan dalam menghadapi mea, em bukan acuan sih lebih tepatnya motivasi kali yah

    BalasHapus