Senin, 07 Maret 2016

Marry Poppins - P. L. Travers



- Penuh Keajaiban -

Judul buku: Marry Poppins
Penulis: P. L. Travers
Penerjemah: Desak Pusparini
Editor: Pisca Primasari
Proofreader: Emi Kusmiati
Ilustrasi isi: Rizki Goni
Desainer sampul: Windu Tampan
Penerbit: Qanita
Cetakan: 1, Agustus 2012
Jumlah halaman: 228
ISBN: 9786029225532


Namun, tak seorang pun tahu apa yang dirasakan Mary Poppins, karena Mary Poppins tidak pernah mengatakan apa-apa kepada orang-orang .... – hlm. 28

Pengasuh anak-anak keluarga Banks tiba-tiba saja pergi. Mrs. Banks sangat kesal dengan hal itu. Mr. dan Mrs. Banks mempunyai empat orang anak. Jane, anak sulung, Micheal, anak kedua, dan si kembar John Barbara yang masih bayi. Mrs. Banks harus mencari pengasuh baru lagi untuk anak-anaknya. Di sisi lain, Jane dan Micheal justru senang pengasuh mereka pergi.

Pada suatu sore yang berangin, seorang wanita muncul di depan rumah keluarga Banks. Wanita itu seolah terbawa angin. Wanita itu datang untuk menjadi pengasuh empat bersaudara Banks. Dialah Mary Poppins. 

Marry Poppins langsung saja menunjukkan kejangggalan-kejanggalan yang hanya anak-anak yang memerhatikan. Dia juga langsung mendisiplinkan anak-anak. Kata-katanya adalah suatu kewajiban. Mary Poppins tegas dan jarang menunjukkan sikap menyenangkan, tetapi kedatangan Mary Poppins membawa kesenangan tersendiri di rumah itu. Anak-anak juga senang dengan Mary Poppins. 

Mereka bertemu penjual kue yang bagian tubuhnya bisa dimakan. Mereka berkeliling dunia pada suatu sore. Mereka berbelanja bersama bintang yang turun dari langit. Mereka juga mengunjungi paman Mary Poppins yang menggembung karena gas tertawa.

“Seperti yang kalian lihat, beginilah aku. Aku orang yang periang dan cenderung suka tertawa. Kalian takkan memercayai betapa banyaknya hal yang kuanggap lucu. Aku benar-benar bisa menertawakan hampir setiap hal.” – hlm. 47

Namun, saat arah angin berganti, Marry Poppins harus pergi. Dia akan meninggalkan anak-anak Banks dan menyisakan memori keajaiban dan berbagai pertanyaan yang tidak pernah terjawab.

* * *

Aku menemukan buku ini di bazar buku murah Gramedia. Aku berpikir, kenapa buku ini sampai berakhir di bazar. Bukan hanya satu atau dua, melainkan satu tumpukan. Mary Poppins adalah salah satu kisah klasik yang cukup terkenal. Buku ini juga sudah diadaptasi menjadi film. Aku mengira, ada dua kemungkinan: kisah buku ini kurang sesuai dengan selera pembaca lokal atau ada cetakan baru.

Ketika mulai membaca buku ini, aku tahu buku ini akan sesuai dengan seleraku. Ceritanya ringan. Banyak hal-hal ajaib bertebaran di dalamnya. 

Namun demikian, tidak ada konflik yang menonjol di buku ini. Setiap cerita sebatas menggali rasa ingin tahu. Rasanya seperti ada hal yang kurang. Banyak hal diceritakan buku ini, tetapi tidak begitu banyak yang aku dapatkan. Bagaimanapun, aku tidak merasa hal tersebut menerbitkan rasa bosan ketika membacanya. Aku menunggu bagaimana setiap cerita berakhir.

Buku ini adalah buku anak-anak, tetapi sering kali Mary Poppins menunjukkan sikap dan perkataan cukup kasar. Mary Poppins sering menunjukkan sikap tidak ramah, mudah marah, dan sering mendengus ketika bersama Jane dan Micheal. Untungnya, Jane dan Micheal tidak tampak terpengaruh atau pun terganggu dengan hal itu.

Penulis sepertinya tahu banyak tentang cara berpikir anak-anak. Hal ini diwujudkan dengan pemikiran-pemikiran Jane dan Micheal terhadap suatu hal yang mereka temukan. Anak-anak mungkin tampak polos, tetapi kadang mereka juga menganalisis hal yang bagi mereka menarik. Analisis mereka memang masih sebatas pikiran anak-anak, tetapi hal-hal yang tidak mereka ungkapkan bisa saja membuat terkejut orang dewasa ketika diungkapkan. 

Bukan hanya Jane Micheal yang tampil dalam cerita ini. Para bayi yang belum bisa bicara mempunyai bab khusus mereka. Diceritakan, John dan Barbara sebetulnya sudah bisa bicara. Mereka bahkan lebih pintar daripada orang dewasa. Namun, kemampuan itu akan hilang seiring pertumbuhan mereka. John dan Barbara takut kehilangan kemampuan itu, tetapi mereka yakin kemampuan mereka istimewa dan tidak akan hilang. 

Buku ini juga dilengkapi ilustrasi. Tidak banyak, tetapi cukup menambah daya tarik. Ilustrasi-ilustrasi tersebut sangat apik. Di bawah setiap ilustrasi ada keterangan gambar. 

Secara keseluruhan, membaca buku ini adalah hal yang menyenangkan. Tidak ada konflik yang berbelit-belit, tetapi tetap menarik. Tidak salah kalau cerita ini mendapat rating cukup baik di Goodreads.

Aku berharap aku bisa membaca seri Mary Poppins yang lain. Aku ingin membaca dari bahasa aslinya. Terjemahan Noura memang nyaman dibaca, tetapi aku ingin mengetahui penceritaan aslinya.

“Apakah kau tidak tahu,” katanya iba, “bahwa setiap orang mempunyai Negeri Dongeng mereka sendiri?” – hlm. 41

Rating:



1 komentar:

  1. Iya, karena pada dasarnya anak2 itu bukan kertas kosong yg ga tau apa2

    BalasHapus