Selasa, 22 Maret 2016

Bookshow Hilangnya Maryam dan Perkara-perkara Lainnya




Aku sedang ingin datang ke acara yang berhubungan dengan buku. Sebetulnya, ada banyak acara terkait perbukuan, tapi aku masih pilih-pilih. Tanpa sengaja, aku melihat poster Bookshow ini melintas di Twitter.

Alasan aku akhirnya memilih datang ke acara ini adalah:

Pertama. Aku sepertinya pernah membaca judul buku itu. Setelah diingat-ingat, aku pernah membacanya di forum BBI. Kak Mput, salah satu penulis buku ini sekaligus anggota BBI, membuka thread PO di forum.

Buku ini di-print dengan dua versi. Versi berwarna dan black-and-white. Aku cukup heran kenapa sampai ada dua versi.  Buku-buku lain yang menggunakan ilustrasi biasanya tetap hanya ada versi hitam-putih. Perbedaan harganya pun lumayan. Tambah Rp5.000, bisa beli satu komik. Hehe. 

Sewaktu aku lihat posternya, tumben juga acara seperti ini mengundang ilustrator. Biasanya, kan, kalau tidak penulis, ya editor. 

Kedua. Aku penasaran dengan lokasi acara. Ini mungkin alasan terjujur dari beragam alasan aku mau datang ke berbagai acara. Aku penasaran dengan Tomyam Kelapa. Beberapa waktu lalu, banyak blogger yang share Tomyam Kelapa. Sambil menyelam, minum air. Kalau tidak ada acara, rasanya malas juga jauh-jauh ke provinsi sebelah. ^^v

Yup, acara ini bertempat di Tomyam Kelapa, Jl. Sulawesi Raya RT 08/011 (area parkir lapangan tenis Villa Bintaro Indah) Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten 15414. Tuh, aku tulis lengkap alamatnya. Jangan sampai nyasar, ya.

Acara berlangsung tanggal 20 Maret 2016 pukul 14.00 WIB. Dari Bogor, kurang lebih membutuhkan waktu 2,5 jam. Termasuk menunggu kereta dan angkot ngetem

Ketika sampai, aku langsung disambut kakak-kakak ramah. Ternyata, mereka adalah para penulis Hilangnya Maryam dan Perkara-perkara Lainnya. Semula, kupikir mereka panitia. Hehe.

Aku langsung dipersilakan bookswap sambil menunggu acara dimulai. Ada satu meja penuh buku yang sepertinya memanggil-manggilku. Sayangnya, aku hanya membawa dua buku. Tiga, sih, dengan buku yang kubawa untuk dibaca di KRL.

Acara dibuka oleh Uni Dzalika sebagai MC. Kemudian, langsung dialihkan kepada moderator untuk sesi pertama. 

Sesi pertama membahas proses kreatif pembuatan ilustrasi dalam buku ini. Narasumbernya adalah Kak Dy Lunaly selaku ilustrator buku ini. Kak Dy Lunaly menceritakan bagaimana ketika harus menginterpretasikan sebuah cerita menjadi gambar.


Kak Dy meminta penulis memberi lima poin yang ingin disampaikan penulis melalui cerita masing-masing. Hal ini diperlukan karena hal yang ditangkap pembaca (dalam hal ini Kak Dy) bisa saja berbeda dengan yang ingin disampaikan penulis. Kita pun kadang mengalami, kan? Kalau yang ditangkap pembaca berbeda dengan yang dimaksud penulis, bukan berarti penulis gagal menyampaikan maksud. Kehidupan pembaca juga bisa berpengaruh terhadap penerimaan itu.

Pada dasarnya, proses pembuatan ilustrasi ini tidak sulit. Hanya saja, kesulitan dialami Kak Dy ketika poin yang diberikan penulis terlalu umum atau terlalu detail. Sebagai contoh, ada penulis yang ingin digambarkan seorang perempuan yang sedang melihat hujan sambil mengenakan sweater merah. Hal ini masih terlalu umum.

Sebelum Kak Dy mengerjakan setiap ilustrasi, Kak Dy memberi draft kasar kepada penulis. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah kira-kira ilustrasi sudah sesuai dengan bayangan penulis atau belum. Dengan begitu, kalau harus ada revisi, lebih mudah untuk menggantinya. 

Di dalam buku ini, ada dua belas cerita yang dibalut dengan unsur warna. Ada merah, nila, ungu, emas, hitam, perak, dll. Semua ilustrasi tersebut merupakan ilustrasi perempuan dengan dominan warna dari masing-masing cerpen.

Menurut Kak Dy, ilustrasi yang pengerjaannya paling sulit adalah ilustrasi nila. Ilustrasi ini menganalogikan seorang gadis yang sedang sedang tumbuh sebagai sebuah bunga. Ada bunga yang mekar, ada bunga yang masih kuncup. Walaupun paling sulit, ilustrasi ini juga menjadi salah satu yang paling memuaskan ilustratornya.

Ilustrasi lain yang paling memuaskan adalah yang berwarna hitam. Cerpen hitam dibalut unsur psikologi dan Kak Dy pun menyukai psikologi. Hal yang membuat ilustrasi ini lebih memuaskan adalah ketika Kak Dy menunjukkan kepada seorang teman, teman itu mengerti arti ilustrasi tersebut.

Dalam acara ini, hadir juga para penulis Hilangnya Maryam dan Perkara-perkara Lainnya. Para penulis juga memberikan pendapat mengenai hasil ilustrasi. Mereka puas dengan hasil karya Kak Dy yang sudah sesuai dengan gambaran masing-masing.

Sesi selanjutnya mengenai editing dan penokohan. Selaku narasumber adalah Kak Pringadi Abdi Surya.


Menurut Kak Pring, "Karakter adalah plot. Plot adalah karakter."

Cerita menarik biasanya datang dari tokoh menarik. Karakter adalah sebuah informasi. Kalau karakternya bukan siapa-siapa, informasi mengenai cerita pun hanya akan apa adanya.

Ketika menulis, awali dengan detail karakter. Detail yang dimaksud bukan sekadar detail fisik, melainkan sifat-sifat karakter. Walaupun demikian, ketika sudah dalam bentuk naskah, jadikan juga karakter sebagai topeng. Hal-hal yang ditampilkan bukan karakter asli tokoh dalam cerita. Karakter asli bisa disembunyikan lebih dahulu untuk nantinya dijadikan kejutan.

Karakter yang baik harus logis. Penamaan karakter pun akan menentukan kelogisan karakter. Kenapa namanya sulit? Kenapa namanya berbahasa Jawa? Dan semacamnya.

Karakter juga harus mempunyai tujuan. Di tengah jalan untuk mencapai tujuan itu, harus ada konflik. Hal ini tentunya supaya cerita menjadi lebih hidup. Baik tujuan itu tercapai atau tidak, karakter mengalami perubahan dengan adanya konflik. Masa lalu juga bisa dijadikan penguat karakter.

Cerita biasa pun bisa menjadi unik dengan adanya karakter yang sesuai. Tokoh utama tidak harus orang yang luar biasa atau unik. Bisa saja tokoh itu dipertemukan dengan tokoh lain yang luar biasa dan unik. Tokoh itulah yang akan menuntun tokoh utama dalam ceritanya.

Menurut Kak Pring, penentu utama dari sebuah naskah akan diterima atau ditolak adalah paragraf pertamanya. Sinopsis tentu saja dibaca, tetapi paragraf pertama juga menjadi penentu apakah naskah tersebut menarik atau tidak. Hal ini sama saja seperti ketika membaca sebuah buku. Kalau paragraf pertamanya kurang menarik, kita pun bisa tidak jadi membacanya.

Terakhir, quote dari Kak Pring adalah "Tidak pernah ada karya yang buruk, yang adalah penulis yang buruk." Karena itu, kita pun harus terus belajar. ^^

Pada kedua sesi ini, ada tanya jawab. Hanya saja, aku merangkumnya menjadi satu dengan materi karena aku tidak ingat apa tepatnya pertanyaan yang diajukan. Yang penting ada jawabannya, kan. Hehe.

Pada acara ini juga ada lomba live tweet. Tebak, siapa yang menang?

Aku. Hoho.

Aku dapat buku ini:


Bertanda tangan, loh.

So so so happy. ^^ Walaupun aku belum membaca buku Eka Kurniawan, tapi aku memang penasaran dengan monyet satu ini. Sayangnya, sewaktu ada gratisan, aku tidak ikut. Kalau beli sendiri, harganya . . . hihi.

Panitia juga memberi bingkisan kepada yang datang. Satu buah pouch berisi buku. Bukunya boleh di-swap, loh. Jadi, ini hasil jarahanku:


Setelah acara ini, sepertinya aku akan membeli Hilangnya Maryam dan Perkara-perkara Lainnya begitu aku menerima tanda cinta di rekening. Fullcolor atau Black-and-white? Maunya, sih, fullcolor. Setiap warna kan ada maknanya. ^^


5 komentar:

  1. Aduh itu dapet paket buku, enak benar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Jauh-jauh kr Tangerang, dapat ilmu, dapat buku. ^^

      Hapus
  2. karakter = plot
    asig nemu istilah baru, thaks afifah..jadi nambah kazanah istilah dalam review buku ni

    wah ngundang ilustrator juga berarti pematerinya keren ya
    ahaha kirain di provinsi sebelah mana, tangerang ternyata hihi

    betewe yang anggota BBI itu tiap resensi bukunya dikasih gratiskah atao gimana? kalo iya, mau deh ndaftar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya Jakarta juga harusnya disebut provinsi sebelah. Hehe.

      Nggak dong. Haha. Kalau mau gratisan, tetep harus usaha sendiri. Tapi paling saling berbagi info gratisan. :))

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus