Sabtu, 30 Januari 2016

The Sword of Summer (Magnus Chase and the Gods of Asgard #1) - Rick Riordan



- Kematian Sebagai Awal - 


Judul buku: The Sword of Summer (Magnus Chase and the Gods of Asgard #1)
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini
Editor: Rina Wulandari
Penata aksara: CDDC
Ilustrasi rune: Michelle Gengoro-Kokmen
Penerbit: Noura Books
Cetakan: Ke-1, Oktober 2015
Jumlah halaman: 623
ISBN: 9786023850204



Seribu dua ratus berselang, pria itu masuh berkaca-kaca saat teringat keluarga. Kejam benar rasanya, bermukin di alam baka sambil bersedih karena terus teringat keluarga. - hlm. 82

Magnus Chase hidup menggelandang sejak kematian ibunya yang disebabkan oleh serigala. Selama dua tahun, dia bertahan hidup di jalanan. Kenangan ibunya masih ada, tetapi dia terlalu sibuk bertahan hidup sehingga tidak sempat berduka.

Suatu hari, paman, Frederick, dan sepupunya, Annabeth, membagi-bagikan selebaran mencarinya. Tidak pernah ada yang mencari Magnus selama ini. Mereka diminta melakukan itu oleh Paman Randolph. Hal itu bisa saja pertanda buruk. 

Untuk mendapatkan jawaban mengapa baru setelah dua tahun keluarganya mencarinya, Magnus mengendap-endap ke rumah Paman Randolph. Sayangnya, Magnus ketahuan.

Terbongkarlah kenyataan bahwa dia adalah demigod. Magnus adalah anak salah satu dewa dalam mitologi Nordik. Paman Randolph ingin Magnus mencari sesuatu milik ayahnya, Pedang Musim Panas. Namun, bukan hanya mereka yang menginginkan pedang itu. Sesosok raksasa api muncul untuk merebut Pedang Musim Panas. Hal itu kemudian menyebabkan kematian Magnus.

"Sebagian dari kita ingin menyaksikan dunia porak-poranda semata-mata demi kesenangan ... bahkan kalaupun kita ikut binasa." - hlm. 332

Petualangan Magnus baru dimulai setelah kematiannya. Dia akhirnya tahu Pedang Musim Panas dapat mempercepat kiamat (Ragnarok). Dia juga mendapati bahwa dua kawan yang selama menjadi gelandangan, Blitzen dan Hearth, adalah kurcaci dan peri. Kurcaci yang menyukai fesyen dan peri yang tidak dapat bicara serta mendengar. 

Demi mencapai tujuannya, Magnus harus bekerja sama dengan Samirah al-Abbas. Sam adalah mantan Valkyrie. Dia mempunyai andil atas kematian Magnus dan menyebabkan Magnus masuk Valhalla, tempat orang-orang yang gugur sebagai pahlawan. Tempat orang-orang yang tidak yakin Magnus gugur sebagai pahlawan.

Pada akhirnya, duka atas kehilangan ibunya semakin sering terkuak dan Magnus harus menghadapi sosok yang paling ditakutinya selama ini.

"Yang perlu kita camkan mengenai takdir, Magnus, adalah sebagai berikut: kalaupun kita tak bisa mengubah gambaran besarnya, pilihan kita dapat mengubah detail-detailnya." - hlm. 164

* * *

Ketika membaca kata "Dewa-dewi", hal yang biasanya terpikirkan adalah sosok rapi, bersih, menawan, dan berwibawa. Ada beberapa dewa-dewi yang wujudnya tidak seperti manusia. Walaupun begitu, di film atau buku, mereka selalu digambarkan sebagai sosok yang charming. Bahkan, Thor di film "Thor" pun demikian.

Buku ini mengubah persepsi itu. Hampir tidak ada dewa-dewi berwibawa di buku ini. Thor dengan penampilan babak belur. Freya yang seperti ibu-ibu rempong. Bahkan, dewa paling disegani pun masih cocok bermain stand-up comedy. Buku ini mungkin tidak dimaksudkan seserius buku tentang dewa-dewi lain. Testimonial dari Cassandra Clare di cover belakang seperti menjadi bukti bahwa buku ini seharusnya lucu.

Aku tidak tahu apakah selera humorku yang rendah, atau terjemahannya yang kurang pas. Aku tidak dapat menangkap kesan lucu itu. Aku hanya menangkap sarkasme Magnus. Tidak terlalu masalah, sebenarnya. Aku tetap bisa menikmati buku ini. Lagipula, aku juga tidak mengharapkan buku komedi. Aku cukup terbiasa dengan perilaku makhluk-makhluk fana atau pun abadi yang terkadang berbeda.

"Hanya orang-orang yang pernah mengecap kepedihan dahsyat yang mempunyai kapasitas untuk belajar sihir. Mereka harus seperti cangkir kosong." - hlm. 430

Teman-teman Magnus pun tidak ada yang normal. Mereka mempunyai kekurangan dan mempunyai kehidupan yang rumit. Hal itulah yang pada akhirnya membuat mereka bisa kompak dan saling membutuhkan. Aku menyukai bagaimana Blitzen dan Hearth saling menjaga. Magnus yang sarkatis pun sebetulnya sangat setia kawan. Bukan hanya kepada teman-teman dekatnya, tetapi juga pada semua yang pernah bersinggungan dengannya. 

Magnus Chase adalah tokoh pahlawan paling tidak beruntung, menurutku. Ibunya meninggal, hidup menggalandang, dan sekalipun dia anak dewa, dewa tersebut tidak terlalu terkenal. Walaupun begitu, semua hal itu terjawab dan membangun cerita.


Aku menyukai penulis yang menyampaikan cerita heroik dengan cara yang tidak berat. Buku ini tidak meninggalkan hal-hal yang perlu ada dalam cerita kepahlawanan, tetapi tetap menyegarkan. Sarkasme Magnus adalah hal yang paling membuat buku ini hidup.

Aku memang kurang mengenal mitologi Nordik, tetapi lama-kelamaan aku bisa mengikuti cerita tanpa membolak-balik glosarium. Yap, buku ini dilengkapi glosarium dan daftar rune di bagian belakangnya. Kalau lupa apa yang mereka bicarakan, tinggal buka panduan tersebut.

Cerita anak setengah dewa atau anak yang tidak tahu apa-apa terlibat dengan dewa mungkin sudah biasa, tetapi Magnus Chase sepertinya memberikan hiburan tersendiri. Aku sangat menantikan kelanjutan kisah Magnus Chase. Dengan sikap para dewa yang seperti itu dan keterlibatan tokoh-tokoh lain, aku tidak bisa membayangkan bencana apa yang mungkin muncul di buku selanjutnya. 

Dua tahun di jalanan telah mengajariku bahwa sia-sia saja mengeluh dan meratapi nasib yang tak adil, kemalangan yang tak semestinya menimpa kita. - hlm. 582

Rating:



 Tebak-tebak Santa



Aku mendapat buku ini dari Secret Santa 2015. Aku senang mendapat buku ini dan buku mewarnai. Kalau bukan karena Santa, mungkin aku belum akan membaca buku ini. Aku masih mempunyai buku Rick Riordan lain yang harus kubaca. Hehe.

Sekarang, saatnya aku menebak siapa Santa yang baik hati ini. Sekadar mengingankan, ini dia teka-teki dari Santa-ku.


Aku bukan anak yang suka bermain dengan binary code. Untungnya, ada penerjemah yang bisa dengan mudah ditemukan di Google. Kalau tebakanku salah, salahkan penerjemah itu.

Begitu memasukkan angka-angka tersebut, muncullah huruf-huruf yang langsung menunjukkan siapa Santa-ku. Aku senang karena di balik kode itu tidak ada kalimat teka-teki lain. Binary code itu langsung menghasikan huruf-huruf yang membentuk:


Ira Book Lover


Jadi, aku menebak Santa-ku adalah Ira Mustika karena blognya yang bernama Ira Book Lover. 

Ayo, Santa, mengakulah. 

9 komentar:

  1. Halo, Santa..

    semoga tebakannya benar ya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, Kakak Target!

      Aku belum ngaku, udah komen aja. :))

      Hapus
  2. Pada keren-keren banget bikin riddle yak....

    kayaknya masukin wishlist nih bukunya

    BalasHapus
  3. Aku ngakuuuu...bener Afifah, aku Santamu ヽ(^◇^*)/

    Ngomong-ngomong itu tanda tanya yang ada di riddle sebenarnya emoticon loh, tp kayaknya kecetaknya jadi kayak gitu sama pihak toko buku online ^^

    Ahaha, aku saking seringnya main sama binary code sampai lupa kalau ada penerjemah otomatis *tepokjidat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku nggak merhatiin tanda tanya malah. Udah biasa lihat karakter yang keluarnya tanda tanya atau kotak-kotak. hehe.

      Untung di aku, ya. Google menjadi yang pertama dimintai tolong. ^^v

      Hapus
  4. waaah santanya udah ngaku :) selamat ya berhasil menebak dengan benar :)

    BalasHapus
  5. Waaa, novel Rick Riordaaan. Sebagai fans beratnya aku sedih belum baca novelnya yang ini :')

    BalasHapus