Senin, 11 Januari 2016

Heart and Soul - Windhy Puspitadewi



- Pelajaran Paling Sulit -

Judul buku: Heart and Soul
Penulis: Windhy Puspitadewi
Editor: Gita Romadhona & Ayuning
Desain cover: Levina Lesmana
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: Ke-1, 2014
Jumlah halaman: 336
ISBN: 9797807509
Selesa baca: Oktober 2015


Tanpa sadar, aku memasang dinding yang tidak mengizinkannya untuk masuk ke kehidupanku. – hlm. 223

Sejak ayahnya pergi dari rumah dan tidak pernah kembali, Erika sulit percaya pada cinta. Ibunya yang sangat mencintai ayahnya, selalu berharap sang ayah kembali. Tapi, ayah Erika tidak juga kembali bahkan setelah ibu Erika meninggal.

Erika tidak mempunyai keluarga lagi. Karena merasa kasihan, keluarga Aro, tetangga sekaligus teman Erika, merawat dan menyekolahkan Erika. Tumbuh dalam kehangatan keluarga Aro tidak lantas membuat Erika lupa dengan masa kecilnya yang menyedihkan. Erika menjadi anak baik, tapi dia juga memendam banyak hal seorang diri.

Erika tidak mempunyai banyak teman di sekolah. Hanya dua orang yang mau mendekatinya. Aro, yang sering membuatnya kesal, dan Linda, teman sebangkunya. Sikapnya yang dingin dan cara bicaranya yang tajam membuat dia tidak disukai. Erika tidak mau ambil pusing dengan semua itu. Tanpa banyak teman pun, dia bisa menjadi juara di sekolah.

Sticks and stones can break my bones but words will never hurt me.” – hlm. 58 

Kemudian, datang seorang murid pindahan bernama Leo. Dia tidak terpengaruh dengan sikap Erika. Dia bukan hanya tidak peduli dengan sikap Erika, melainkan juga terus berusaha dekat dengan Erika. Kadang, Leo seolah sudah tahu tentang Erika padahal mereka baru bertemu. Dan, Erika berusaha untuk tidak jatuh cinta padanya. Dia masih takut.

“Erika....” Tante Flora mengelus-elus kepalaku. “Tante tahu, ketika ayahmu pergi meninggalkanmu, kau merasa tidak dicintai dan tidak cukup berharga untuk dicintai. Tapi, kau lupa, kalau semua manusia itu sama dan semua manusia pantas dicintai bagaimanapun dia. Jadi, belajarlah mencintai dirimu sendiri dan menerima cinta dari orang-orang di sekitarmu. Belajarlah untuk menerima kebaikan dari orang-orang yang mencintaimu.” – hlm. 88

* * *

Akhirnya aku mereview buku ini. Draft review ini sudah lama kubuat, tidak lama setelah aku menyelesaikan membaca bukunya tahun lalu. Karena bulan berikutnya belum juga selesai, aku memutuskan sekalian saja mem-publish review ini tahun berikutnya. Aku hanya menambahkan beberapa paragraf dan nyaris tidak ada yang kuedit.

Ketika membaca buku ini, aku sudah tahu seperi apa ending-nya. Aku pernah tanpa sengaja membaca spoiler di media sosial. Walaupun begitu, aku tidak tahu seperti apa para tokoh di buku ini, termasuk tokoh utama.

Sangat kebetulan ketika aku membaca buku ini, aku sedang ingin membaca buku dengan tokoh perempuan yang tidak mudah bergaul, tidak berasal dari keluarga kaya atau memiliki karir cemerlang, dan tidak cerewet. Bukan karena aku tidak mudah bergaul, tidak berasal dari keluarga kaya atau memiliki karir cemerlang, dan tidak cerewet loh, ya. Aku hanya merasa belakangan aku membaca buku dengan tokoh perempuan yang semuanya hampir sama.  Oh, ya, nilai tambah kalau tokoh itu memiliki masalah terhadap kepercayaan kepada orang lain. Kemudian, aku pun bertemu Erika.

Image source: Pixibay, edited by me.

Sebelum membahas tokoh, mari mulai membahas buku ini dari cover. Penampilan luar buku ini sepertinya sudah menunjukkan buku ini akan seperti apa. Suasana cover menunjukkan waktu golden hour. Menurutku, golden hour akan selalu menunjukkan sisi sendu. Bentuk tulisan judul buku dan nama penulis memang tampak dinamis dan ceria, tapi mataku terlanjur menangkap kesan keseluruhan karena efek golden hour itu.

Apakah buku ini memang sendu? Iya. Kesan itu langsung terasa di bab satu. Dialog yang digunakan pada percakapan tokoh anak sekolah menggunakan bahasa baku. Aku menduga hal itu dilakukan untuk memberi kesan sendu. Kalau buku ini menggunakan bahasa metropolitasn, seperti “gue”, “elo”, dan teman-temannya, pasti mengurangi efek kesenduaan. Tapi, aku juga tidak tahu gaya bahasa anak-anak di Surabaya seperti apa. Mungkin memang baku, mungkin juga tidak jauh berbeda dengan Jakarta.

Walaupun terkesan sendu, sampai bagian tengah, tidak ada adegan khusus yang membuat sesak napas. Interaksi antartokoh tidak berlebihan dan realistis. Adegan pertengkaran khas anak sekolah antara tokoh perempuan dan laki-laki ada banyak, tapi, sekali lagi, tidak berlebihan dan sebatas adu mulut di tengah percakapan. Beberapa adegan malah membuatku ingin tertawa sampai harus menggigit bibir supaya tidak terdengar.  Namun, entah kenapa, kesan sendu tetap mengikutiku sepanjang buku ini selucu apa pun adegan itu. Mungkin ini seperti mengenang sikap lucu mantan *kenapa jadi nyambung ke sini*.

Kisah cinta anak sekolah tentu tidak lengkap kalau tidak ada cerita sampingan mengenai masalah akademik, nonakademik, atau masalah dengan teman. Buku ini menceritakan seorang juara umum pun bisa memiliki masalah di sekolah.  

Aku menyukai Erika yang tidak disukai banyak murid-murid lain. Bukan hanya karena mereka iri, melainkan juga karena Erika tidak bisa memperlakukan mereka dengan baik. Sikapnya yang selalu membangun benteng terhadap semua orang membuatnya menjadi manusiawi. Kalau dia supel, mungkin dia akan sempurna sebagai seorang anak sekolah dan cerita buku ini akau berbeda jadinya.

“Kalian ini kenapa, sih?” Aro memutar bola matanya. “Aku kan bukan mau ke tiang gantungan atau apa.”
“Tapi, yang kau lakukan sekarang itu ibarat datang ke pesta pernikahan mantan pacarmu,” desahku. “Untuk beberapa orang, itu lebih menyakitkan daripada tiang gantungan, lho.” – hlm. 224

Aku memang menyukai Erika, tapi tokoh favoritku bukan dia. Tokoh favoritku justru Aro. Aku juga memfavoritka orangtua Aro. Mereka sangat baik dan lucu. Aku suka ketika orangtua Aro membuli anak mereka. Bagian itu sangat menghibur dan menghangatkan.

Jadi, ada banyak alasan bagiku untuk menyukai buku ini. Tokoh-tokoh dalam buku ini masih murid SMA, tapi cerita mereka jauh dari kehidupan hedon remaja. Karakter mereka pun unik dan bukan sekadar tempelan supaya mudah diingat. Cerita buku ini memang melow, terutama untuk ukuran cerita remaja, tapi buku ini juga bisa membuatku tersenyum dan tertawa. Lalu, yang tidak kalah penting, buku ini sangat minim typo. Semoga semakin banyak buku GagasMedia yang seperti ini. Hehe.

Aku memang menunda membaca buku ini, tapi aku tidak menyesal karena aku membacanya di waktu yang tepat. Walaupun begitu, aku menyesal kenapa dulu aku terpengaruh spoiler. Ketika membacanya sendiri, sensasinya sangat berbeda. Sangat mengejutkan karena rasanya seperti aku tidak mengetahui ending­-nya sama sekali.

4 tanda cinta untuk buku ini.

Rating:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar