Jumat, 25 Desember 2015

The Giver - Lois Lowry


 - Hidup Tanpa Pilihan -


Judul buku: The Giver
Penulis: Lois Lowry
Penerjemah: Ariyanti Eddy Tarman
Editor: Barokah Ruziati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ke-1, Agustus 2014
Jumlah halaman: 232
ISBN: 9786020306681


Jonas mengulanginya. "Cinta." Itu kata dan konsep yang baru untuknya. - hlm. 151

Dunia yang teratur dan damai mungkin impian semua orang. Begitulah dunia tempat tinggal Jonas. Dia tinggal di salah satu komunitas di dunia itu. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kesakitan. Tidak ada konflik. Tidak ada hal yang tidak terduga di tempat itu. Bahkan, tidak ada warna sehingga semua orang akan tampak setara. Segala hal sudah direncanakan dengan baik. Semua orang hidup tenteram dan sejahtera. Semua orang tidak pernah berbohong.

Menjelang Dua Belas, Jonas mulai merasa khawatir. Orang-orang di komunitas menerima Penugasan mereka ketika Dua Belas. Penugasan itu akan menjadi pekerjaan mereka sampai mereka lanjut usia. Jonas tidak bisa memperkirakan Penugasan apa yang akan diberikan kepadanya.

"Yang kuberikan padamu hanyalah satu perjalanan, dengan satu kereta luncur, pada satu salju, di satu bukit. Aku punya sedunia hal seperti itu dalam ingatanku. Aku bisa memberikannya kepadamu satu per satu, seribu kali, dan masih lebih banyak yang tersisa." - hlm. 104

Tidak pernah terpikir oleh Jonas dia akan mendapat Penugasan sebagai Penerima Ingatan, Penugasan yang sangat langka. Dia mendapat pelatihan khusus dari Sang Pemberi. Orang itu menyimpan ingatan seisi dunia. Sang Pemberi harus menanggung rasa sakit sejati sebagai konsekuensi tugasnya. Dia pun menyimpan kenikmatan hidup yang tidak pernah dirasakan orang-orang di komunitas.

Dengan terpilihnya Jonas sebagai Penerima, Sang Pemberi memindahkan ingatannya kepada Jonas. Jonas belajar bahwa ada hal-hal indah yang pernah dialami dan dirasakan orang-orang di masa lalu. Jonas juga belajar bahwa ada hal-hal yang sangat menyakitkan dan menyedihkan yang pernah terjadi di dunia. Jonas pun tahu, selama ini dia telah dibohongi. 

Perasaan-perasaan ini lebih dalam dan tidak perlu diungkapkan. Tetapi dirasakan. - hlm. 159

* * *

Aku membuat kesalahan. Biasanya, aku menonton film lebih dulu daripada membaca buku. Aku berpikir bahwa buku umumnya lebih baik daripada film jadi aku menyisakan yang lebih baik belakangan. Karena itu, aku menonton film The Giver lebih dulu sebelum membaca bukunya. Ketika membaca buku ini, aku menyesal sudah menonton filmnya lebih dulu.

This book is much better than the movie. Kalau saja aku belum menonton filmnya, imajinasiku pasti lebih baik. Banyak hal berbeda antara buku dan film, seperti kebanyakan film adaptasi. Aku tidak mengatakan bahwa film adaptasinya mengecewakan. Hanya saja, buku ini mengajak untuk melihat sesuatu lebih dalam. Hal itu akan lebih baik seandainya aku tidak mempunyai gambaran jalan cerita atau ekspektasi apa pun.

Buku ini mengingatkanku pada pertumbuhan dan perkembangan yang dialami seorang manusia, terutama diriku sendiri. Di bagian awal, Jonas menganggap semua hal yang dialaminya setiap hari adalah hal biasa dan sudah seharusnya. Sewaktu kecil, ketika masih hidup sebatas rumah dan orangtua, apa pun yang dikatakan orangtua seolah benar dan sudah seharusnya. Tidak terpikirkan bahwa ada banyak hal yang bisa menjadi alternatif dan lebih baik.

Kemudian, Jonas mulai menerima ingatan dari Sang Pemberi. Sedikit-sedikit, dia mendapat pengetahuan yang berbeda. Caranya memandang dunia sekitar tidak lagi sama. Sama halnya ketika kita (aku) diperkenalkan tentang hal-hal baru sedikit demi sedikit. Dunia tidak lagi sama. Dunia ternyata lebih besar. Keingintahuan pun muncul. Lama-kelamaan, ada ketidakpuasan dengan dunia yang tersistematis.

Komunitas dengan segala hal yang terencana dan tersusun rapi seolah menggambarkan orang-orang yang selalu lebih memilih jalan hidup yang dianggapnya aman. Tapi, ketidakamanan bisa memunculkan hal-hal yang lebih baik walaupun ada juga kemungkinan memunculkan hal-hal yang lebih buruk. Peluang kemunculannya sama besar. Selalu ada pilihan untuk hidup aman tetapi begitu-begitu saja, atau mencoba hal lain yang bisa memberikan lebih banyak hal baik dengan resiko mendatangkan hal buruk. 

Aku rasa, setiap orang bisa mempunyai pandangan berbeda mengenai buku ini. Setiap orang bisa mendapat sesuatu yang lain dari buku ini. Penulis tidak dengan sengaja menuang pandangan tertentu ke dalam buku ini. Penulis hanya memberikan hal yang dilihat dan dirasakannya. Setiap orang bisa menerimanya dalam bentuk berbeda.

Sekalipun mereka semua sudah dilatih bertahun-tahun dalam ketepatan berbahasa, kata-kata apa yang bisa kaugunakan sehingga orang lain juga dapat merasakan pengalaman sinar matahari? - hlm. 112

Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga, tetapi sisi Jonas lebih dominan. Hal ini menjadikan pembaca lebih mudah melihat kekhawatiran seorang anak yang tiba-tiba mendapat begitu banyak pengetahuan mengenai kebenaran. Walaupun sisi Jonas dominan, aku senang penulis tidak menggunakan sudut pandang orang pertama. Biasanya, sudut pandang orang pertama akan menjadikan cerita lebih rumit karena semua kekhawatiran tokoh utama akan tertuang. Sudut pandang orang pertama pun menjadikan deskripsi sebatas apa yang dilihat dan dirasakan tokoh utama. Dengan sudut pandang orang ketiga, pembaca diajak melihat dunia yang berbeda secara global. Karena sudut pandang ini pun, aku merasa seperti sedang didongengkan.

Gaya bahasa buku ini sederhana sehingga mudah dipahami. Hal ini membuat The Giver bisa dimasukkan ke kategori buku anak atau pun young adult. Ketika aku melihat buku ini di Goodreads, aku agak heran kenapa lebih banyak yang memasukkan buku ini ke genre children daripada ke genre young adult. Terlebih, sampul asli buku ini terlihat "berat" dan sangat jauh dari kesan "anak-anak".

Sampul buku terbitan GPU pun tidak tampak seperti buku anak-anak, lebih seperti buku young adult. Rupanya, sampul hitam itu hanya sebagai jaket. Di dalamnya, ada sampul dengan gambar berbeda dan lebih cerah. Aku pribadi, lebih menyukai sampul luar buku ini daripada sampul bagian dalam. Walaupun sampul luar adalah versi film dan agak berbeda dengan cerita buku ini, aku menyukai kesan gelap dan futuristiknya. Lagipula, hal yang berbeda hanya masalah posisi.


Aku akan menilai buku ini sempurna seandainya tidak ada kesalahan pengetikan. Aku beberapa kali menemukan spasi yang kurang atau kata yang berulang. Beberapa kata di buku ini memang sengaja tidak diberi spasi karena memang menjadi istilah di Komunitas. Spasi yang kurang yang kumaksud, misalnya setelah titik tidak ada spasi. Untungnya, terjemahan dan jalan cerita buku ini bisa membuatku mengabaikan hal seperti itu.

Buku ini adalah buku pertama dari The Giver Quartet. Aku berharap ketiga buku lainnya diterjemahkan juga. Rating ketiganya memang belum setinggi The Giver, tapi aku penasaran dengan hal yang akan kudapat dari ketiga buku itu.

Di akhir tahun ini, aku sangat senang karena sudah membaca buku yang bisa kuberi lima hati.

Rating:



Image source: Unsplash, edited by me.

7 komentar:

  1. waaah ternyata versi barunya ada sampul luarnya yaa. Dulu aku beli sebelum filmnya keluar. Cuma sampul asli aja. Ehehehee. Dan betul banget novelnya memang lebih bagus dari filmnya. Nice review Mak! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mak. Aku beli waktu dekat-dekat filmnya keluar. Sempat nyari sampul asli juga, ternyata dobel. :))
      Makasih udah berkunjung. ^^

      Hapus
  2. Liat covernya tak kira buku yang berbau horor lhooo...tapi masuk ke cerita fantasi ya mbak? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Covernya memang agak nipu. Hoho. Iya, fantasi. :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Aku yang makasih, karena udah berkunjung ke sini. :))

      Hapus
  4. Aku baru nonton filmnya, biasanya juga baca buku baru nonton filmnya. Penasaran pengen baca bukunya :)

    BalasHapus