Senin, 28 Desember 2015

Perfect Pain - Anggun Prameswari


- Cinta (Tidak) Menyakiti -

Judul buku: Perfect Pain
Penulis: Anggun Prameswari
Editor: Jia Effendie
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: Ke-1, 2015
Jumlah halaman: 316
ISBN: 9797808408

"Mereka selalu dituntut untuk mengalah demi kedamaian, demi memperbaiki keadaan." - hlm. 145

Bidari, biasa dipanggil Bi, seorang istri sekaligus ibu. Bertahun-tahun dia mengalami KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) yang dilakukan oleh suaminya, Bram. Suaminya itu seolah mempunyai dua kepribadian. Ketika sedang kesal, Bram akan memukuli Bi sampai babak belur. Ketika sadar, berulang kata maaf terucap.

Masa lalu membuat Bi menjadi perempuan rendah diri. Hal itulah yang membuat Bi menikahi Bram. Sayangnya, cerita pernikahan mereka tak semanis janji-janji Bram. 

Bi memilih bertahan demi anak mereka, Karel. Anak itu adalah sumber kekuatan Bi. Tapi, ketika Bram mulai melukai Karel, Bi tidak bisa lagi diam. Bi pun membawa Karel kabur.

Bi dan Karel mendapat bantuan dari Sindhu, kekasih Miss Elena, guru Karel. Sindhu sangat baik terhadap Bi dan Karel dan hal itu membuat Bi sungkan. Belum lagi, Bi merasa dirinya dan Karel menjadi sumber pertengkaran Sindhu dan Miss Elena. 

Naluri perempuan Bi membuat Bram kembali bisa menghubunginya. Bram hancur tanpa Bi. Sulit untuk tidak mengabaikan ayah dari anaknya.  

Tanpa menjawab apa-apa, dia hanya tersenyum. Senyum yang begitu lebar dan hangat, dengan mata tertarik ke atas. - hlm. 89

* * *

Sangat sulit menyelesaikan buku ini karena terkesan sangat suram. Bi adalah tokoh perempuan paling menderita yang pernah kutemui. Sejak kecil, dia sudah mendapat perlakuan buruk dari ayahnya. Ketika menikah, dia pun kembali mendapat perlakuan buruk dan kali ini fisiknya pun harus menanggung beban. Kalau penulis tidak menceritakan hubungan masa lalu dengan sifat Bi, mungkin aku akan memasukkan Bi ke dalam daftar tokoh perempuan yang tidak kusuka.

Kilasan-kilasan masa lalu Bi tertuang dalam satu adegan utuh atau sekadar sepatah dua patah kalimat yang diselipkan dalam suatu adegan. Pembaca diajak mengerti awal mula Bi menjadi perempuan seperti itu. Ucapan-ucapan dari masa lalu yang sering tiba-tiba muncul menjadikan tokoh Bi semakin mudah diterima.

Sudut pandang orang pertama membuat pembaca lebih mudah mengerti apa yang dipikirkan korban KDRT. Keluar dari lingkaran KDRT tidak semudah mengucap suruhan untuk kabur dari rumah. Ada banyak faktor yang membuat seseorang terus-menerus menjadi korban KDRT. Sekali pun sudah keluar, kemungkinan korban kembali ke lingkaran setan sangat besar.

"Maafkan dulu semua yang menyakitimu. Maafkan juga dirimu sendiri karena selama ini membiarkan dirimu disakiti." - hlm. 205

Buku ini juga memberikan gambaran mengenai anak yang tumbuh dalam ketakutan. Bi, yang tumbuh dengan perkataan-perkataan buruh ayahnya. Karel, yang tumbuh dengan menyaksikan ibunya disiksa oleh sang ayah.

Hero dalam buku ini pun mempunyai alasan kuat kenapa dia sangat gigih menolong korban-korban KDRT. Sindhu, sebagai hero, terlihat sebagai seseorang yang sempurna dari luar. Tapi, hal itu adalah caranya untuk mengobati luka. 

Sindhu dan Karel seolah menjadi penerang bagi buku ini. Dengan luka-luka batin yang pernah dialaminya, Sindhu tetap bisa menjadi seseorang yang jenaka. Karel, dengan keadaan yang membuatnya dewasa sebelum waktunya, menjadi tokoh dengan hati dan kemauan yang kuat sekaligus lembut.

Perubahan sifat Bi berlangsung sedikit demi sedikit. Bi perlu banyak suntikan untuk berubah. Dari Karel, dari Sindhu, juga dari orang-orang di Rumah Puan, sebuah tempat bagi perempuan-perempuan korban kekerasan. Orang-orang di Rumah Puan memberikan gambaran bagaimana sebaiknya memperlakukan korban kekerasan karena bagian tersulit adalah menyembuhkan luka psikis.

Aku berharap ada bagian yang menjelaskan alasan seseorang bisa menjadi pelaku KDRT. Aku berharap masa lalu Bram atau apa pun yang bisa berkaitan dengan tindakannya itu diceritakan. Sayangnya, aku tidak menemukan hal itu. Mungkin karena buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama dan lebih fokus terhadap korban. Aku hanya bisa menerka-nerka dari sedikit informasi yang diberikan oleh Bi.

Image soruce: Unsplash, edite by me.

Buku ini membuatku bersyukur dengan kehidupanku. Aku tidak mengalami kekerasan yang membuat tubuhku hancur dan membuatku teramat sangat tidak percaya diri. Buku ini juga mengajarkan makna kebahagiaan. Sumber kebahagiaan adalah diri sendiri, begitu pun sumber kekuatan untuk bertahan hidup. Berulang kali Bi berusaha kuat demi Karel, tapi hal itu dipatahkan oleh tokoh-tokoh yang menjadi hero. Kalau sumber kekuatan berasal dari orang lain, ketika orang itu pergi, apa lagi alasan untuk hidup? Walaupun begitu, aku tetap menangkap Bi bisa bertahan hidup pun karena Karel.

Walaupun awalnya agak sulit membaca buku ini, lama-kelamaan, aku pun bisa menikmatinya. Sayangnya, aku cukup terganggu dengan kehadiran typo. Tidak sampai setiap bab ada typo memang, tapi, setelah jarang menemukan typo di buku-buku yang kubaca sebelumnya, rasanya janggal menemukannya lagi di sini. Ketika membaca buku lain terbitan penerbit yang sama beberapa waktu lalu dan bersih typo, kupikir buku-buku terbitannya sudah lebih baik dalam hal mengurangi typo. Sayangnya, aku kembali menemukannya di buku ini. Untungnya, buku ini sangat sayang untuk tidak dinikmati hanya karena kesalahan cetak.

"Bi, setia orang layak dicintai. Kalau di kepalamu selalu tertanam ide bahwa kamu nggak pantas dicintai, maka itulah cara orang akan memperlakukanmu." - hlm. 187-188
After all, buku ini akan menempis judgement seputar korban KDRT. Kadang, semenderita apa pun seseorang, masih saja bisa menimbulkan pernyataan-pernyataan sinis seolah keluar dari kondisi seperti itu mudah. Penulis mencampuradukkan emosi pembaca sehingga lebih mudah menyelami pemikiran korban KDRT. Dengan memahami perasaan korban secara lebih mendalam, akan lebih mudah menghindari hal-hal yang mungkin bisa membuat korban lebih terluka dan membuatnya merasa sendiri. Walaupun begitu, satu hal, perasaan dan pemikiran tiap orang mungkin berbeda.

Rating:


Diikutsertakan dalam:

Baca Bareng Satu Judul



1 komentar:

  1. Kayaknya menarik nih, tapi belum sempat ke tokbuk :)

    Salam kenal mbaak

    BalasHapus