Senin, 09 November 2015

Vampire Flower 1 - Shin Ji Eun




- Vampir yang Membutuhkan Manusia -


Judul buku: Vampire Flower 1
Penulis: Shin Ji Eun
Penerjemah: Putu Pramania
Editor: KP Januarsi
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan: Ke-1, Agustus 2015
Jumlah halaman: 518
ISBN:  9786027742468
Harga: Rp69.500 (bisa dibeli di Bukupedia)


Jelas saja keberadaanku saja bisa membuatnya takut, kenapa aku harus berpikir aneh-aneh lagi. – hlm. 149

Vampir-vampir keluar dari persembunyian dan menyerang manusia. Berita mengenai pembunuhan oleh vampir memenuhi media massa. Semua orang dihimbau untuk tidak keluar malam hari. Namun, tetap saja ada remaja-remaja nekat yang tidak mengindahkan himbauan itu.

Kang Seo Yeong tidak suka berkeliaran pada malam hari, tetapi temannya mengajaknya pergi malam itu. Seo Yeong menunggu temannya itu di gerbang sekolah. Ketika mereka bertemu, Seo Yeong merasa ada yang aneh dengan temannya. Dia bukan seseorang yang dikenal Seo Yeong. Dia sosok vampir yang meniru teman Seo Yeong. Temannya telah dibunuh vampir. 

Seorang vampir bernama Loui menawarkan diri untuk menyelamatkan Seo Yeong, tapi dengan satu syarat: Seo Yeong harus membantu Loui menemukan Bunga Vampir. Perjanjian pun disetujui.

“Kelopak bunganya lebih merah daripada darah, wanginya juga sangat kuat sampai mampu memikat vampir mana pun. Dengan mencicipi bunga itu sedikit saja, berbagai luka bisa disembuhkan. Siapa pun yang memiliki bunga ini maka ia akan berada di posisi yang lebih tinggi daripada vampir. – hlm. 28

Namun, menemukan Bunga Vampir tidak mudah. Tidak ada yang mengetahui wujud bunga itu. Belum lagi, vampir-vampir lain pun mengejar bunga itu. Hal itu membuat Seo Yeong dalam bahaya. Dunia vampir pun semakin bergejolak dengan perebutan kekuasaan dan munculnya makhluk-makhluk berbahaya. 

Karena rasa benci selalu berpasangan dengan rasa cinta. Tidak mungkin ada rasa benci jika tidak ada rasa cinta. Memiliki rasa benci kepada seseorang menandakan bahwa ia tertarik dengan orang tersebut. – hlm. 398

* * *

Membayangkan vampir, hal apa yang terlintas? Kulit putih pucat, penampilan menawan, berkekuatan melebih manusia, makhluk abadi? Intinya, vampir selalu digambarkan sebagai makhluk sempurna. 

Vampir-vampir dalam buku ini tidak demikian. Mereka tidak abadi, hanya berumur panjang sampai ribuan tahun. Mereka memiliki kelemahan. Mereka bisa terluka, walaupun cepat sembuh. Mereka juga tumbuh. 

Yap, tumbuh, walaupun dengan cara yang berbeda dengan manusia. Hal pertama yang membuatku betah membaca buku ini sangat sangat subjektif. Tokoh Loui versi belum dewasa digambarkan sebagai pemuda dua belas tahun, dengan pesona tersendiri tentunya. Dengan mudah, aku membayangkan Loui dengan tokoh anime favoritku, Ciel Phantomhive dalam Black Butler. Terlebih, Ciel dan Loui sama-sama memiliki kenangan buruk terhadap masa lalu.

Image source: Wikipedia.

Walaupun begitu, apalah arti tokoh yang membuatku terpesona kalau jalan cerita membuatku tidak tertarik. Vampire Flower cukup bisa menghiburku sampai halaman terakhir. Tokoh vampir yang tidak sempurna menjadi kelebihan tersendiri.

Sayangnya, beberapa kali aku menemukan vampir-vampir itu terpesona dengan kemampuan analisis Seo Yeong. Bukannya apa-apa, menurutku, hal-hal tersebut sebetulnya mudah ditebak. Belum lagi,  penulis menjabarkan cara berpikir Seo Yeong. Seharusnya, cara berpikir seperti itu bisa juga dilakukan vampir. Bagaimanapun, vampir tetap memiliki kemampuan intelektual di atas manusia. Itu saja, sih, hal yang membuatku kurang sreg. 

Sisi romance dalam buku ini pun tumbuh dengan hal-hal yang bisa diterima. Seo Yeong tidak jatuh cinta pada Loui karena fisik atau pesona vampir semata. Perasaannya tumbuh sedikit demi sedikit. Di sisi lain, Seo Yeong pun memiliki daya tarik tersendiri bagi Loui atau vampir lainnya dan hal itu memang sesuatu yang bisa menjadi alasan seseorang disukai. 

Image source: Dekstop Nexus, edited by me.

Pergolakan politik dunia vampir pun disajikan slow but sure. Fokus bagian awal hanya pada Bunga Vampir dan masalah perebutan kekuasaan hanya muncul sesekali, tetapi semakin ke belakang, ketegangan semakin bertambah. Penulis menjadikan beberapa tokoh abu-abu, tidak jelas memihak siapa. 

Melalui sudut pandang orang ketiga, penulis menghadirkan kisah vampir dengan cukup banyak konflik batin. Sudut pandang ini menjadikan pemikiran dan perasaan setiap tokoh tergambarkan. Sudut pandang ini juga menjadikan beberapa tokoh sulit ditebak sebetulnya baik atau tidak.

Aku sangat jarang membaca buku mengenai vampir, tapi beberapa kali menonton film tentang vampir. Jika dibandingkan film-film itu, Vampire Flower menyajikan sesuatu yang berbeda. Memang tidak boleh membandingkan media berbeda, sih, tapi dua hal itu sama-sama memiliki jalan cerita. 

Setelah membaca buku ini, aku ingin segera membaca buku kedua. Di sisi lain, aku ingin menunda membaca buku kedua karena dengar-dengar, masih akan ada buku ketiga. Kalau ada kesempatan, entah yang mana yang akan kulakukan.

“Kalau kau berani mengganggu pengantin wanita milik orang lain... bukankah seharusnya kau siap mendapat perlakuan seperti itu, Achel?” – hlm. 297
 

Rating: 


6 komentar:

  1. Kalau vampir korea mah ganteng2 yaa...aku naksir bukannya takut wkwkkw...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Langsung kebayang anggota boyband. :D

      Hapus
  2. kayaknya menarik, jadi tertarik pengen baca bukunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di toko buku masih tersedia loh. :))

      Hapus
  3. Di korea, alien aja gantengnya begindang haha ini vampire juga gitu

    BalasHapus
  4. Waaks, faaah aku mau lah dipinjemin bukunyaaa :D
    Seruuu mana sama drama korea fah? :v

    BalasHapus