Sabtu, 31 Oktober 2015

NY Over Heels - Dy Lunaly


Designing The Dream -


Judul buku: NY Over Heels
Penulis: Dy Lunaly
Editor: Starin Sani
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: Ke-1, Maret 2013
Jumlah halaman: 272
ISBN: 9786029397819



Untuk kali kesekian aku jatuh cinta pada kota ini. Kota ini penuh inspirasi! – hlm. 15

Zee sangat mencintanya dunia fashion. Mimpinya adalah magang di Casablanca dan berkuliah di Parsons. Salah satu mimpi itu pun menjadi kenyataan ketika dia diterima magang di Casablanca, ready-to-wear clothing line yang sangat terkenal. Dia pun terbang ke New York untuk menjalani hari-hari barunya.

Di hari pertama, dia sudah mendapat musuh. Janna, desainer aksesori sekaligus fashion stylist untuk runway, langsung membencinya. Untungnya, segala hal lainnya sempurna. Lingkungan kerjanya sangat menyenangkan. Walaupun dia sudah mendapatkan setumpuk pekerjaan, sejak hari pertamanya bekerja, hal itu sangat setimpal.

“Nggak ada yang salah dengan melakukan kesalahan, yang penting kamu nggak mengulanginya lagi. Kamu belum kenal dunia kerja, wajarlah.” – hlm. 54

Bossnya seorang workaholic, tapi menghargai pendapat pegawai magang. Tentu saja, selama hasil kerja Zee sesuai dengan prinsip Casablanca. Dia pun mendapat sahabat-sahabat yang sangat baik: Debbie, George, dan Micheal. Dan, yang tidak kalah penting, seorang cowok keren bernama Josh selalu memberi perhatian kepadanya!

Sempurna, bukan? Tapi, seperti kata Alexander McQueen, “I’m human. If I didn’t make mistakes, I’d never learn. You can only go forward by making mistakes." Kita tidak akan belajar apa pun kalau kehidupan kita terlalu sempurna, dan hidup tidak akan menarik. Begitu juga dengan kehidupan Zee.

Rasanya benar-benar menyedihkan, tapi memang harus ada yang dikorbankan untuk melangkah maju dan menjadikan mimpi itu nyata, kan? – hlm. 254
 
* * * 

Pandangan pertama tentu saja pada cover. Warna-warna pada cover buku ini cerah-ceria. Gambar perempuan dengan wajah gembira menambah keceria cover ini. Gambar Patung Liberty menunjukkan ke-New York-an buku ini. Satu hal yang baru kusadari setelah menutup buku ini adalah gambar apel besar yang dijadikan sebagai pijakan perempuan itu. Kupikir, dia berdiri di atas tanah, tapi New York dan tanah sepertinya dua hal yang sulit dipadankan. Rupanya, aku sangat kurang jeli. Secara keseluruhan, cover buku ini ceria dan terkesan belia.

Cerita buku ini pun ceria, tapi menurutku terlalu ceria. Kehidupan Zee terlalu sempurna. Diterima di tempat impian, dipuji boss, desainnya dipakai untuk A-list actress. Beberapa kali Zee memang menemukan polisi tidur, tapi sekadar polisi tidur, bukan sebuah dinding yang memerlukan kekuatan besar untuk melaluinya. 

Sampai halaman sekian ratus, aku masih bertanya-tanya apa konflik sebenarnya yang akan dialami Zee. Masalah-masalah kecil yang dialaminya bisa selesai hanya dalam satu-dua halaman. Kurasa, penulis ingin menyampaikan bahwa hidup bisa menyenangkan kalau kita menikmati hal yang kita lakukan dan percaya pada pilihan kita. Mungkin juga penulis ingin mengatakan kepada pembaca untuk percaya pada diri sendiri. Sayangnya, aku kurang bisa menangkap maksud tersebut karena setiap kali Zee merasa khawatir, kenyataan yang terjadi selalu berakhir terlalu menyenangkan.

Mungkin, hal itu karena sasaran pembaca buku ini adalah remaja kinyis-kinyis yang menyukai segala hal yang menyenangkan. Walaupun begitu, aku kan belum lama meninggalkan masa remaja kinyis-kinyis. Jadi, sepertinya, aku yang dulu malah berpikir ulang untuk menghabiskan buku dengan tokoh yang terlalu sempurna seperti ini. Aku yang sekarang sih oke-oke saja, sebagai bacaan hiburan dan mengingatkan masa muda. Well, ini semua masalah selera.

Untungnya, cara bercerita penulis sangat refreshing sehingga aku bisa bertahan sampai akhir. Aku pun menemukan konflik yang sangat menganggu Zee. Aku bisa menghabiskan buku ini dan menemukan paragraf terakhir yang sangat baik untuk mengakhiri sebuah novel.

Image source: The Stripe, edited by me.
 
Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama, yaitu Zee. Sangat terlihat karakter Zee, bahkan ketika dia bermonolog. Dia sering heboh sendiri. Siapa sih yang nggak akan heboh kalau menginjakkan kaki di tempat impian? Lagipula, Zee ini fashionista, jadi pantas kalau dia heboh dan malah harus seperti itu. Kalau dia pendiam dan melankolis, justru out of character

Karakter Zee yang dinamis dipertegas dengan pemilihan katanya. Dalam narasi, beberapa kali dia menggunakan bahasa Inggris. Bagi sebagian orang, menggunakan kata dalam bahasa Inggris di tengah kalimat adalah hal yang spontan. Bukannya aku tidak menghargai bahasa Indonesia, tapi kadang memang sulit menemukan arti kata tertentu hingga cocok dengan kalimat yang ingin diungkapkan. 

Penggunaan bahasa Inggris yang cukup mengangguku adalah dalam percakapan. Bahasa yang digunakan dalam percakapan campur-campur antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Di awal, aku sempat bingung Zee dan Debbie berbicara menggunakan bahasa Indonesia campur-campur atau sepenuhnya bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang digunakan terlalu banyak. Menurutku, lebih baik bahasa Inggris dalam percakapan yang sebenarnya berbahasa Inggris hanya digunakan untuk kalimat-kalimat yang umum, seperti kalimat sapaan. Setidaknya, percakapan semacam ini semakin berkurang ketika menginjak bagian tengah dan lebih banyak percakapan dengan bahasa Indonesia. Pemilihan kata yang digunakan pun tidak selalu baku sehingga tidak terkesan kaku.

Sisi baik percakapan dengan banyak bahasa Inggris adalah kita bisa sekaligus belajar bahasa Inggris. Terlebih, dalam buku ini, banyak bertebaran istilah fashion. Kurasa, penggemar fashion akan senang membaca buku ini. 

Tak cuma istilahnya yang bertebaran, cara padu-padan pakaian pun sangat mudah ditemukan dalam buku ini. Untuk yang kurang menggemari fashion, mungkin akan sulit membayangkannya pada awalnya, tapi lama-kelamaan bisa terbiasa. Walaupun istilahnya panjang, justru hal itu membantuku membayangkan seperti apa bentuknya tanpa perlu repot-repot mencarinya di Google. 

Selain detail mengenai fashion, detail mengenai New York pun cukup menarik. Sikap Zee yang selalu seperti turis, membuatnya selalu mendeskripsikan tempat-tempat yang dikunjunginya. Kota New York yang penuh hiruk-pikuk berubah menjadi kota yang menyenangkan dari mata Zee. 

Overall, buku ini memang cukup tebal, tapi sangat sangat ringan dan sangat remaja. Tak lupa, buku ini pun mengajak pembaca untuk percaya diri dan percaya pada mimpi. Siapa pun bisa saja sampai ke New York seperti Zee, kan? 

“Ada sesuatu yang harus menunggu saatnya untuk diucapkan.” – hlm. 194


Rating:






8 komentar:

  1. Jadi penasaran pengen baca bukunya, komplit banget ini ulasannya :)

    BalasHapus
  2. Waa setuju banget penampilan menarik emang bikin pede, dan menikmati aktivitas sepenuh hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap. Berlaku bagi semua orang, ya, nggak cuma fashionista. :))

      Hapus
  3. Hm, sama dengan Mba Hidayah di atas, jd pengen punya buku ini deh. :)

    *saran : Mba, bikin opsi Name/Url donk untuk pemberi komentar, jadi akan lebih banyak visitor yang bisa komen. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, diburu juga, Mbak.

      Makasih ya sarannya. ^^

      Hapus
  4. asik isi nya sangat menarik
    dan sangat menghibur
    thanxs gan

    BalasHapus