Selasa, 15 September 2015

Mr Midnight #4: Komputerku Kerasukan!, Foto Berhantu - James Lee




- Ada Hantu dalam Teknologi -


Judul buku:Mr Midnight #4: Komputerku Kerasukan!, Foto Berhantu
Penulis: James Lee
Penerjemah: Zadika Alexander
Editor: Namira Tjajapernama
Penerbit: Genera Publishing
Cetakan:
Jumlah halaman:  144
ISBN:9786029395037


Ceita 1: Komputerku Kerasukan!

"Tolong lepaskan aku, Komputer. Aku tidak akan mengkhianatimu lagi!"

Ashraf sedang bermain komputer bersama Hafiz dan Ting Xuan ketika tiba-tiba komputer itu menjadi aneh. Komputer itu memunculkan kata TOLONG. Segara saja ketiganya meninggalkan kamar Ashraf. Walaupun demikian, keanehan terjadi lagi. Malam harinya, komputer itu menyala sendiri dan seolah berbicara pada Ashraf. Komputer itu pun memberikan jawaban PR Matematika kepada Ashraf dan jawaban ujian esok. Jawaban yang diberikan komputer itu benar semua. Ashraf pun menjadi bintang sekolah, tapi dia hal itu justru membuatnya takut.

Cerita 2: Foto Berhantu

Aku tidak bisa memercayai mataku....

Perlyn dan Jamie ingin memberikan kado ulang tahun berupa foto kepada Mum. Mereka berfoto di boks salah satu pusat perbelanjaan. Ketika hasilnya keluar, mereka dikejutkan dengan sosok lain yang tertangkap foto itu. Sosok yang mengaku bernama Angelina itu mendatangi mereka lagi di rumah. Perlyn dan Jamie pun terperangkap di antara dua dunia.

* * *

Saya tidak akan menceritakan mengenai Mr Midnight karena saya sendiri tidak tahu siapa itu Mr Midnight. Satu hal yang pasti, setiap buku Mr Midnight menceritakan kisah-kisah yang konon menyeramkan.

Ketika melihat seri Mr Midnight di toko buku, saya langsung ingat seri horror lain yang dulu saya sukai. Saya pun cap cip cup memilih Mr Midnight yang ada karena belum mengenalnya sama sekali. Pilihan pun jatuh ke tangan buku ini karena... buku ini berwarna biru. Paling adem dilihat. :P

Tapi, cerita horror mana ada sih yang adem? Untuk ukuran horror, mungkin buku ini yang ceritanya paling adem. Horror anak-anak sih. Tokohnya pun masih sekolah dasar. Horror dalam buku ini lebih seperti ketakutan ala anak-anak. Makhluk-makhluk lain ada. Ketakutan ada. Tapi, tidak sampai membuat merinding.

Karena dibagi menjadi dua cerita dalam satu buku, cerita yang disampaikan menjadi terlalu singkat. Hal itulah yang mengurangi kesan teror khas cerita horror. Kalau hanya satu cerita dalam satu buku, saya rasa 140 halaman cukup untuk membangun teror.

Saya menikmati buku ini seperti menikmati buku anak-anak lainnya. Bedanya mungkin karena ekspektasi saya adalah bahwa saya akan menemukan cerita yang membuat merinding. Ternyata, buku ini seperti buku petualangan fantasi. Saya rasa buku ini lebih untuk membangkitkan keberanian daripada untuk menceritakan cerita seram.

Kedua cerita dalam buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Pikiran-pikiran yang muncul di saat situasi gawat khas anak-anak. Ada yang sempat berpikir takut dimarahi orangtua karena PR mereka rusak di saat nyawa mereka terancam.

Di bagian akhir, ada bab pertama buku kelima. Dari cuplikan itu, saya justru tertarik membaca buku kelima. Latar tempat dan suasana yang disebutkan di bab pertama sudah cukup membuat saya berpikir akan mendapat cerita horror mencekam. Kalau ada buku kelima di toko buku, mungkin saya akan membelinya. 

Review kali ini sepertinya singkat saja, sesingkat waktu yang saya gunakan untuk menghabiskan buku ini.

Rating:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar