Sabtu, 05 September 2015

Mengunjungi Indonesia International Book Fair 2015




Yuhuu...

Indonesia International Book Fair kembali lagi! Event yang diadakan atas kerja sama beberapa negara ini merupakan ajang untuk saling memperkenalkan dunia literasi setiap negara. Selain bisa mengenal karya-karya sastra negara lain, tentu yang menjadi incaran utama setiap pengunjung book fair adalah diskonannya.

Tahun ini adalah tahun kedua diadakannya IIBF. IIBF 2014 diadakan di Gelora Bung Karno. Tahun ini, IIBF diadakan di Cendrawasih Room - JCC. Sewaktu mulai ada woro-woro lokasi IIBF, saya antara senang dan galau. Senang karena JCC lebih dekat daripada GBK. Galau karena... mungkin ada tiket masuk. Ini JCC loh, tempatnya enak, adem, dan kelihatannya mahal. Tempo hari, acara Popcon Asia saja pakai tiket. Oh, ya, buat yang belum tau apa itu Popcon Asia atau seperti apa acaranya, skip dulu, ya. Niatnya mau bikin postingan yang ada videonya tapi yah, begitulah. Haha.

Oke, back to IIBF. Acara ini diselenggarakan tanggal 2-6 September 2015. Saya sudah cuss ke sana tanggal 2 supaya masih sepi dan buku-bukunya masih banyak.

Tidak seperti tahun lalu, tahun ini saya tidak mengunjungi IIBF seorang diri. Berangkatnya sih sendiri, tapi janjian bertemu di sana. Saya, yang tinggal di Bogor, berangkat dari Jakarta. Teman saya, yang tinggal di Jakarta, berangkat dari Bogor. Kebalik kan? Dunia memang seperti itu. #sigh

Sedikit cerita (kalau malas baca cerita nggak penting, skip saja dua paragraf ini), teman saya itu harus ke kampus hari itu. Kampusnya sama dengan saya, yaitu Institut Pertanian Bogor. Seperti namanya, kampus tersebut berada di Bogor. Jadilah teman saya berangkat dari Bogor. Nah, hari itu juga, saya ada acara lain di Jakarta, jadi saya berangkat duluan ke Jakarta. Dan ternyataaaa.... teman yang orang Jakarta itu tidak tahu jalan ke JCC dari Bogor. Oke, Jakarta memang luas, tapi anak itu kan tempat PKL-nya sebelahan dengan tempat PKL saya, yang rutenya melewati JCC. Saya pikir dia nggak pernah berangkat ke tempat PKL dari Bogor, ternyata dia nggak pernah pernah berangkat dari Bogor naik kereta. Dia biasa naik APTB jadi agak keblinger. Saya nggak tanya sih kenapa dia nggak naik APTB.

Berhubung saya baik hati, jadi saya kasih tau rute dari Bogor menuju JCC menggunakan kereta. Pertama, naik kereta menuju Jakarta. Terserah jurusan Jakarta Kota, Duri, Jatinegara, apa pun yang penting ke Jakarta, jangan ke Sukabumi. Turun di Stasiun Cawang. Setelah itu jangan nyebrang rel, ya. Saya juga belum tau itu arah ke mana. Oke? Kalau mau keluar stasiun mesti tapping kartu kan? Tap tuh kartu. Keluar stasiunnya bukan lewat tangga yang langsung kelihatan begitu turun kereta, tapi nyebrang lewat terowongan di samping rel. Naik tangga dan temukan dunia baru halte transjakarta. Yowes, tunggu busnya datang. Kalau udah naik bus, tinggal turun deh di halte Senayan JCC. Kalau nggak mau naik transjakarta, bisa juga naik Kopaja yang biasa ngetem di sana, tapi saya belum pernah. Baidewey, gerbang JCC yang paling dekat halte memang dirantai. Ngolong ajalah. Jalan ke arah kanan, langsung nemu gedungnya. Cendrawasih Room ada di pintu masuk ketiga (kalau nggak salah), sebelah ATM BNI.

So, bisa kan nemu jalan menuju IIBF 2015?

Nah, kalau sudah sampai JCC, nggak akan nyasar karena banyak umbul-umbul dan bagian depannya eye­-catching. 

Pintu masuk IIBF 2015

Begitu masuk, di kiri dan kanan ada Galeri Mahakarya Literasi & Budaya Indonesia. Beberapa buku yang "Indonesia banget" dipajang di sini, fiksi dan nonfiksi. Bolehlah baca-baca sedikit di sana. Intip beberapa buku seru yang menunjukkan ciri khas Indonesia. Di sebelah kanan, mungkin ditujukan untuk talkshow atau semacamnya, tapi tidak ada acara apa pun ketika kami datang.

Galeri Mahakarya Literasi & Budaya Indonesia

Melewati Galeri Mahakarya Literasi & Budaya Indonesia, masuk ke gang di sebelah kanan, ada Penerbit Haru dan beberapa booth lain. Buku-buku Penerbit Haru dibanderol mulai dari Rp10.000. Ada harga, ada kondisi. Kalau pintar memilih, bisa mendapatkan buku yang mulus atau bahkan segel. Ada juga buku Fate karya Orizuka yang diterbitkan Authorized Books. Buku-buku yang rencananya terbit bulan ini pun sudah ada di sana. Buku Penerbit Spring, imprint Haru, yang kami lihat di sana hanya Fangirl. Kalau beli Fangirl di sana, bisa dapat pouch Fangirl dari Emerald Green Label. Kalau beli seri Audy, bisa dapat tempat pensil. Merchandise tersebut nggak dijual, jadi kudu beli bukunya. Kalau mau merchandise lain, ada juga kok. Ada merchandise golongan darah dan book cover. Di sini juga sedang ada voting kaver baru So, I Married an Anti-fan. Vote dan beri komentar pada papan yang disediakan. Sekalian tulis ke kritik, saran, request, atau hal-hal lain yang ingin disampaikan ke Haru juga bisa. 

Buku baru ada, buku lama juga ada
Vote di sini

Lanjut ke samping pintu menuju panggung utama, ada booth CGVblitz. Membaca kata “Blitz” mungkin mengingatkan pada Blitzmegaplex. CGVblitz memang semula adalah Blitzmegaplex, tetapi berubah nama. Di sini, pengunjung bisa membuat kartu member CGVblitz gratis. Pengunjung yang membuat kartu member di sana juga akan mendapatkan popcorn atau poin 15000 untuk kartunya. Saya sih pilih popcorn supaya bisa dinikmati langsung. Poin kan dinikmatinya kapan-kapan. Hehe. Popcornnya juga lumayan besar. Sayangnya, saya nggak sempat foto, sudah habis ditelan. Hoho.

Lurus dari CGVBlitz ada sekumpulan booth yang saya tidak mengerti. Sepertinya penerbit-penerbit dalam dan luar negeri, tapi mereka tidak jualan buku. Mungkin hanya untuk lebih dikenal. Lalu, nggak jauh dari sana, ada M&C. Buku-bukunya diskon 20%. Manga dan manhwa ada di sana. 

Masuk ke area panggung utama, booth Korea mendapat tempat yang lebih besar daripada booth lain dan langsung tertangkap mata. Terang saja, Korea Selatan menjadi tamu kehormatan tahun ini. Buat yang ngaku pecinta Korea, harus mampir ke sini. Jangan cuma kenal musik dan dramanya saja, tapi kenalan juga dengan buku-bukunya. Di booth Korea, saya sempat gagal fokus karena ada tv yang sedang memutar video musik boyband. Hehe.

Booth Korea juga memamerkan buku-buku dari penerbit Korea, baik berbahasa Korea maupun Inggris. Ada buku-buku berat semacam buku sejarah dan budaya, ada buku-buku panduan belajar bahasa Korea, juga buku-buku anak. Buku-buku tersebut diperuntukan untuk dibaca di sana. Setelah dibaca, tulis komentar tentang buku tersebut dan dapatkan notes dan pulpen. Buku-buku yang dipamerkan nggak semua ditulis oleh orang Korea. Saya saja memilih buku The Fox and The Stork karya Aesop. Buku tersebut menggunakan bahasa Inggris, diterbitkan oleh penerbit Korea, Happy House. Teman saya memilih buku panduan belajar bahasa Korea. Buku-buku panduan yang dipajang memang cukup lengkap, bergantung kebutuhan. Ada untuk belajar grammar, vocabulary, daily conversation, dll.

Beberapa buku Korea yang bisa dibaca di tempat
Tulis komentar tentang buku Korea

Kalau mau belajar bahasa Korea dengan mobile application, ada pengenalan aplikasi-aplikasinya. Coba saja satu per satu untuk menemukan aplikasi yang paling cocok. 

Beragam aplikasi untuk belajar bahasa Korea

Sewaktu kami di sekitar panggung utama, sedang ada penampilan perkusi ala Korea. Saya merasa lagu yang mereka mainkan muter-muter terus di nada yang sama, tapi mereka menarik minat penonton dengan penampilan mereka jingkrak-jingkrak.  Semula saya mau memasukkan videonya di postingan ini, tapi koneksi tidak merestui. 

Buku-buku Indonesia yang masih berhubungan dengan Korea memiliki tempat tersendiri. Buku-buku tersebut merupakan buku terjemahan atau pun buku-buku karya penulis Indonesia dengan latar dan tokoh Korea. 

Buku rasa Korea

Lanjut muter-muter.  

Periplus juga buka booth. Buku-bukunya diskon 30%. Ada buku-buku Dan Brown, Sylvia Day, Septimus Heap, dan Lauren Conrad pun ada. Buku-buku dari penulis lain tentu banyak. Mungkin kalian bisa menemukan harta karun.

Buku-buku GPU diskon 20%. Buku-buku Robert Galbraith, Sir Arthur Conan Doyle, Keri Smith, Ika Natassa, Ilana Tan, aliaZalea tersedia di sini. Boxset-boxsetnya amat sangat minta diculik. Duuuh, itu boxset Agatha Christie-nya lengkap banget. Siapa saja yang membaca postingan ini, beliin dong. Nanti aku kasih hadiah berupa... doa. 

Daripada mupeng, melipir ke booth lain, yuk! Elexmedia diskon juga, 20%  kalau nggak salah. Kinokuniya diskon sampai 70%. Ada buku Anne Frank yang saya pengin beli tapi dipikir-pikir kayaknya nggak akan saya baca. Penerbit-penerbit dari berbagai universitas pun membuka booth di sini. 

Berdasarkan nama acaranya, booth negara-negara lain seharus bisa ditemukan di IIBF. Sayangnya, kami hanya menemukan booth Malaysia. Entah memang tidak ada, atau terlewat oleh kami. 

Booth Institut Terjemahan & Buku Malaysia

Perpustakaan DKI Jakarta membuka booth untuk memperkenalkan aplikasi ebook mereka: iJakarta. Aplikasi ini bisa di-download di App Store dan Google Play, juga akan segera rilis versi PC. Ebook yang bisa dibaca menggunakan aplikasi tersebut ada banyak loh. Fiksi, nonfiksi, buku lama, buku, baru, textbook, sampai komik.

Di seberangnya, ada booth Perpustakaan Nasional. Literatur yang berkaitan dengan Korea bisa dibaca di tempat. Kalau belum punya kartu anggota Perpusnas, bisa bikin di booth ini. Cukup daftar dengan komputer yang tersedia. Setelah mendapat nomor anggota, langsung difoto. Voila! Kartu Perpusnas pun jadi. Kartunya bukan kartu keras loh, tapi dicetak seperti KTP atau kartu ATM. Setelah daftar, kami diberi berbagai brosur dan Katalog Pameran Beranotasi. 


Daftar jadi anggota Perpusnas, yuk!

Foto dulu untuk kartu anggota

Dalam rangka IIBF 2015, berbagai lomba pun diadakan. Sewaktu kami di sana, berlangsung lomba membaca puisi. Sayangnya, kami tidak bisa menyaksikan lomba tersebut. Berhubung matahari sudah lengser, kami harus pulang. 

Overall, kami tidak menyesal datang ke IIBF 2015. Selain bisa dapat diskonan, barang-barang gratis juga bertebaran, bahkan pengunjung yang beruntung bisa jalan-jalan gratis ke Korea.

Jadi, langsung saja siapkan dompet, wishlist, dan keberuntungan. ^^

4 komentar:

  1. Buku-buku penerbit Haru cuma 10 ribuan mak??? Duh langsung melipir deh besok :DD

    BalasHapus
  2. Wah seru banget. Belum pernah ke pameran buku sebesar itu. Pernah beberapa kali ke JCC sih, tapi lihat pameran kerajinan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah belum pernah ke pameran kerajinan yang di JCC.

      Hapus