Jumat, 28 Agustus 2015

A Piece of Dream - Mami Ishikawa

Yang follow blog ini atau merhatiin blog ini (emang ada? kepedean), pasti tahu kapan sebetulnya postingan ini dibuat. Hehe. Biarin dong, daripada nggak bikin. Linky Posbar juga belum ada. Setelah membaca buku ini, saya jadi kepikiran terus untuk mereviewnya. Sayangnya, hanya sebatas kepikiran, nggak benar-benar dilakukan. Ngedraftnya separo-separo. :P


- Memimpikan Kedamaian -

Judul buku: A Piece of Dream
Penulis: Mami Ishikawa
Penerjemah: Julianti
Editor: Nia I.
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Ke-1, 2005
Jumlah halaman: 223
ISBN: 9792073728


Buku ini berisi dua cerita. Cerita pertama berjudul Pada Hari di Musim Panas Itu. Cerita kedua berjudul Di Seberang Langit Sana.

Pada Hari di Musim Panas Itu menceritakan Hiro Uehara yang ditolong seorang pemuda ketika terjadi penyerangan. Pemuda itu bernama Kotaro Miyagi. Hiro tentu saja merasa berutang budi, tapi pertemuan mereka sangat singkat.

Ketika keadaan semakin genting, remaja putri diminta menjadi perawat sukarela sedangkan remaja putra menjadi pasukan militer kerajaan. Remaja putri ditempatkan di rumah sakit di medan perang. Rumah sakit itu hanya berupa lubang perlindungan dengan beberapa tempat tidur. Selebihnya, pasien hanya akan ditidurkan di atas selimut yang dihamparkan di tanah. Listrik pun tidak ada. Penerangan saat operasi hanya berupa lilin yang dipegang oleh perawat.

Hiro dan Miyagi pun kembali bertemu. Sayangnya, keadaan Miyagi terluka parah. Untungnya, Miyagi berhasil dioperasi. Namun, musuh semakin mendesak dan wilayah mereka semakin tidak aman. Mereka pun harus pindah. Pasien yang tidak bisa berjalan harus bunuh diri dengan sianida. Hal itu lebih baik daripada dijadikan tawanan musuh. Hiro pun membantu Miyagi berjalan agar tidak perlu membunuh Miyagi. Sayangnya, keadaan di mana pun semakin sulit.

Di Seberang Langit Sana dimulai dengan cuplikan masa kecil yang menyenangkan dari tiga sahabat: Hana, Minoru, dan Kak Shin. Hana ingin terbang, tapi perempuan tidak bisa masuk ke pelatihan penerbang. Kak Shin berjanji akan masuk ke pelatihan penerbang dan mengajak Hana terbang.

Sebelum impian itu terwujud, perang mulai berkecamuk. Kak Shin masuk ke angkatan darat. Hana dan Minoru bekerja di pabrik pembuatan mesin pesawat. Hana sering mengantar kepergian pasukan Kamikaze, pasukan di angkatan darat dan angkatan laut yang pada akhirnya akan menabrakkan pesawat mereka ke pesawat atau kapal musuh. Pasukan bunuh diri. Hana takut Kak Shin pun akan bertugas sebagai Kamikaze.

* * *

Tahun 1941, Jepang mendarat di Indonesia. Kedatangan Jepang disambut baik karena menjanjikan kemerdekaan dari Belanda. Nyatanya? Belanda memang pergi, tapi berganti Jepang yang menjajah Indonesia.

Saya tidak suka pelajaran Sejarah, terutama sejarah Indonesia. Maafkan diriku yang tidak mempunyai jiwa patriotisme dan nasionalisme ini, tapi sejarah Indonesia umumnya kelam. Penyampaian kisah mengenai perjuangan hingga kemerdekaan pun saya rasa masih kelam, tidak seheroik buku fiksi. Jangankan membaca buku sejarah, membaca novel berlatar sejarah saja saya tidak sanggup, bukan sejarah Indonesia saja, tapi sebagian besar novel sejarah. Memang beberapa buku pengecualian, seperti novel Notasi.

Walaupun saya tidak suka membaca sejarah Indonesia, bukan berarti saya memihak penjajah. Sesuka-sukanya saya dengan Jepang, saya tetap kesal setiap pelajaran Sejarah membahas penjajahan Jepang. Namun, membaca A Piece of Dream untuk kesekian kalinya membuat saya lebih terbuka mengenai penjajahan Jepang.

Saya membeli buku ini sewaktu kelas 7. Saat itu, ada tugas mencari cerita sejarah. Pilihan paling aman bagi saya adalah mencari komik dengan tema sejarah. Kalau komik, saya pasti bisa membacanya sampai selesai.

Semasa sekolah, saya sudah membaca komik ini berkali-kali, tapi saya membacanya hanya sebatas seperti membaca komik lain. Tidak disangkutpautkan dengan kehidupan nyata. Setiap kali membaca komik, saya sedih dan semakin tidak mengerti mengapa ada perang, tapi hanya sampai di situ.

Sekarang, selain saya mendapatkan ke-gloomy-an dan semangat melanjutkan hidup demi para pahlawan, saya juga mendapatkan ke-engeuh-an tentang alasan Jepang menjajah Indonesia. Beginilah kalau jarang memperhatikan pelajaran Sejarah.

Bangsa Jepang amat sangat mencintai sekali negaranya. Maaf hiperbol, tapi memang begitulah. Tahun 1939, Perang Dunia II dimulai dan Jepang ikut nyemplung sebagai salah satu blok poros. So, negara Jepang juga ikut-ikutan dibombardir. Jepang yang kecil begitu dibombardir Amerika. Walaupun mereka pintar, mereka tetap terdesak.

Demi mendapat kekuatan tambahan, menjajahlah mereka ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Saking cintanya dengan negara, mereka bisa menginjak negara lain supaya negera mereka tidak disakiti musuh terus-menerus dan semakin banyak rakyat yang mengorbankan diri. Untuk yang satu ini, saya salut dengan mereka.

Jadi, mungkin, kalau Jepang tidak ikut Perang Dunia II, Indonesia tidak akan dijajah Jepang. Tapi, kalau tidak dijajah Jepang, apa kabar dengan penjajahan Belanda? Hal yang masih membuat saya bingung adalah, apa yang dibisikkan Jepang kepada Belanda sehingga Belanda mau menyerahkan Indonesia setelah 350 tahun? Harusnya, saya mencari jawaban ini di kitab sejuta umat, tapi kemajuan teknologi tidak lantas membuat saya maju dalam hal kemauan mengulik sejarah. *ngumpet di belakang Haruma Miura*

Image source: Miko Russell, edited by me

Anyway, postingan ini seharusnya berisi review buku, bukan membahas sejarah. Maka dari itu, mari kembali ke jalan yang lurus. Tapi saya bingung mau mulai dari mana.

Oke, mulai dari penokahan. Dua tokoh utama dalam buku ini, Hiro dan Hana, serupa tapi tak sama. Hiro bisa dibilang terlalu melankolis dan kurang tegar, sampai-sampai sering ditegur temannya. Mau bagaimana lagi, saat perang pun orang-orang seperti itu pasti ada. Kalau menyangkut Miyagi, Hiro bisa menjadi lebih kuat dan lebih keras kepala. Hana... cengeng kalau menyangkut Kak Shin. Minoru juga cengeng kok kalau tentang Kak Shin. Hal yang kusuka dari Hana adalah dia tetap bisa cheerful.

Inside para tokoh banyak dimunculkan dalam buku ini. Penggambaran perasaan menjadi kekuatan bagi buku ini.  Takut, sedih, haru, damai, digambarkan dengan sangat jelas.

Sampul. Tebak, sampul buku ini dari cerita yang mana? Dari cerita kedua. Biasanya, sampul komik dengan beberapa cerita menggunakan cerita pertama untuk sampulnya, tapi saya senang karena cerita kedua yang digunakan. Saya lebih menyukai cerita kedua. Romance-nya tidak terlalu kental tapi lebih ke arah persahabatan. Kutipan-kutipan semangat tentang membela negara pun lebih banyak di cerita kedua. Cerita pertama lebih ke arah romance, bahwa di dalam perang pun cinta bisa tumbuh walaupun harus melalui banyak pengorbanan. Sebanarnya, sepertinya cerita utama dalam komik ini adalah cerita pertama karena sampai dibagi menjadi dua bab.

Untuk gambar dan teks, sepertinya komik ini kurang bisa kurekomendasikan untuk orang-orang yang jarang membaca komik Jepang. Teman-teman saya yang tidak menyukai komik Jepang umumnya kerena bingung dengan urutan membacanya. Komik ini bisa dibilang cukup membingungkan. Kalau mau mencoba membacanya sih tidak apa, toh ceritanya bagus. Mungkin saja setelah membaca komik ini bisa menjadi penggemar komik Jepang.

Kalau membaca komik ini, lupakan sejenak bahwa dengan latar waktu yang sama, Jepang sedang menjajah Indonesia. Lagipula, hubungan Indonesia dan Jepang sekarang sudah sangat baik. Cerita dalam komik ini sangat cantik. 

Sepertinya, review ini sampai di sini saja. Sudah cukup panjang juga (walaupun bukan dengan bahasan review). 

Rating:



Diikutsertakan pada

Tema: Perang Dunia

2 komentar:

  1. Ini salah satu komik serial cantik jadulnya elex!
    Punyaku malah masih segelan. Beli tok, lapar mata. Belum dibaca sampai sekarang. Jadi timbunan tok :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kasihan komiknya ditimbun. Aku nggak bisa nimbun komik, kecuali komik seri yang ditunggu sampai selesai dulu.

      Hapus