Selasa, 04 Agustus 2015

A Dandelion Wish - Xi Zhi


- Amnesia Tidak Selalu Buruk -

Judul buku: A Dandelion Wish
Penulis: Xi Zhi
Penerjemah: Jaenni Hidayat
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan: Ke-1, April 2014
Jumlah halaman: 346
ISBN: 9786027742345


Rasa cinta, welas asih, simpati....
Perasaan yang lemah begitu tidak akan pernah ada di dalam jiwanya.

Dokter Bai Qian Xun selalu mengira dirinya tidak memiliki welas asih. Dia adalah mesin. Semua yang dilakukannya semata untuk mendapatkan sertifikat, pangkat, dan uang. Namun, ketika seorang pria duduk di atas kap mobilnya sambil menyanyikan lagu blues di tengah badai dan mengatakan tidak tahu harus ke mana, Bai Qian Xun pada akhirnya tergerak untuk menampung pria itu di apartemennya meski awalnya dia menyuruh pria itu untuk meminta pertolongan Kepala Rumah Sakit, Xin He Qin. Bai Qian Xun yang sudah melaju meninggalkan tempat parkir pun kembali lagi karena tidak yakin kapan Kepala Rumah Sakit akan muncul di tempat parkir. Bisa-bisa pria itu sudah terkena penyakit paru-paru ketika Kepala Rumah Sakit muncul.

Semula Bai Qian Xun bermaksud hanya menampung pria itu semalam saja, tetapi pria itu berhasil membuat Bai Qian Xun mempekerjakannya. Dengan begitu, pria itu tidak perlu memikirkan harus pergi ke mana. Bai Qian Xun mempekerjakan pria itu sebagai pelayannya: mengurus apartemen dan membuatkan makanan. Pria itu tidak meminta bayaran, yang terpenting adalah dia bisa memiliki tempat tinggal sementara, pakaian, dan makanan. 

Pria itu mengaku bernama Cheng Feng. Bai Qian Xun percaya saja dengannya. Sebenarnya, Cheng Feng hanya nama yang dikarang pria itu. Sebab bagaimana pria itu bisa sampai duduk di kap mobil Bai Qian Xun pun dikarangnya. Bai Qian Xun tidak mau ikut campur urusan pria itu. 

Pria itu hilang ingatan. Dia tidak tahu siapa dirinya atau pun dari mana asalnya. Bai Qian Xun tidak pernah mengetahui hal itu. Ketika kebenaran terungkap, keduanya sudah sama-sama jatuh hati. Sayangnya, kebenaran membuat mereka harus berpisah.

"Aku lupa siapa yang memberitahukan padaku, tapi cobalah ucapkan sebuah permohonan lalu tiup bunga itu sekuat tenaga. Jika bijinya semua lepas dan beterbangan maka permohonanmu akan cepat terkabul." Cheng Feng to Bai Qian Xun (hlm. 128) 

Mungkin karena itulah setiap biji bunga dandelion yang ditiup Bai Qian Xun tidak pernah lepas semua setiap wanita itu membuat permohonan tentang Cheng Feng.

Bai Qian Xun tidak menangis, tidak bersedih. Wanita itu sudah membekukan danau di hatinya menjadi es. Selamanya, wanita itu tidak akan pernah bergelombang, tidak akan bergejolak lagi. - hlm. 269

* * *

Waktu awal terbit, saya pernah membuat Wishful Wednesday buku ini. Hanya sebatas ingin. Akhirnya saya pun membaca buku ini setelah ditimbun sangat lama. Buku ini salah satu buku yang banyak direkomendasikan oleh para peserta Giveaway Spring of Love di blog ini berbulan-bulan lalu. Tidak salah saya pernah menginginkan buku ini.

Sejak awal membaca, saya sudah menyukai Bai Qian Xun. Saya suka gayanya yang tegas dan tidak bertele-tele. Menolak Kepala Rumah Sakit yang mengejarnya pun tetap dengan gaya dingin seorang Bai Qian Xun. Dinginnya pun bukan dingin yang sok jual mahal, melainkan karena memang Bai Qian Xun hanya berkomunikasi seperlunya. Di balik itu semua, Bai Qian Xun seperti tidak mengenal diri sendiri. Dia hanya tahu dirinya mesin, sudah merencanakan masa depan, dan tidak memiliki welas asih. Hidup Bai Qian Xun selalu diarahkan oleh ibunya. Bai Qian Xun selalu berusaha melampaui ibunya. Sayangnya, menjadi dokter ahli bedah jantung di usia 27 tahun tidak bisa membuatnya lepas dari bayang-bayang ibunya yang seorang dokter ternama. Orang-orang selalu mengatakan hal-hal semacam "Memang benar dia anak . . .". Mereka tidak memandang Bai Qian Xun sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai anak ibunya.

Semua orang akan mengira wanita itu adalah orang yang sombong dan angkuh, tanpa menyadari bahwa keteguhannya ini adalah cara wanita itu untuk melindungi dirinya sendiri - hlm. 125

Cheng Feng pun karakter yang lovable. Seperti halnya Bai Qian Xun, saya pun kepincut masakan Cheng Feng (padahal nggak ngerasain). Cheng Feng adalah orang yang santai. Dia pun berhasil membuat Bai Qian Xun mau bersantai. Dalam ensiklopedi Bai Qian Xun, santai adalah suatu kesalahan. Cheng Feng pun pandai menginvestasikan uang. Uang belanja yang diberikan Bai Qian Xun sebagian dia gunakan untuk berinvestasi. Dia juga membuat Bai Qian Xun berani menentang ibunya sehingga wanita itu berani berpegang pada keinginannya sendiri. Cheng Feng teramat sangat baik. Sayangnya, kebaikannya menjadi bumerang.

Image source: lovethispic, edited by me.

Tokoh lain yang saya suka adalah Song Jia Jia. Dia adalah dokter muda yang sangat mengagumi Bai Qian Xun (sepertinya tidak ada yang tidak mengagumi ahli jantung satu ini). Song Jia Jia memiliki semangat kerja seperti Bai Qian Xun. Dia satu-satunya orang yang berani dekat-dekat dengan dokter yang sangat dingin itu. Dia bertolak belakang dengan Bai Qian Xun. Song Jia Jia adalah gadis yang ceria.

Buku ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. Hal ini membuat pikiran setiap tokoh dapat terlihat jelas, tapi tidak cukup dalam untuk membuat saya merasakan sakit luar biasa. Sudut pandang orang ketiga membuat saya merasa seperti sedang menonton, bukan menyelam jauh ke dalam kehidupan orang lain. Saya suka gaya bercerita yang semacam ini karena tidak membuat pening, tapi tetap bisa merasakan emosi setiap tokoh.

Hubungan Bai Qian Xun dan Cheng Feng diceritakan perlahan-lahan. Mulai dari sekadar orang asing, hubungan pekerja dan pemilik rumah, Bai Qian Xun yang sangat menyukai pelayanan-pelayanan Cheng Feng, sampai akhirnya terjadilah adegan eksplisit. Iya, adegan eksplisit. Adegan dewasa yang eksplisit. Saya pun sempat sedikit syok membacanya. Saya tidak mengira penerbit memasukkan adegan ini dalam versi terjemahan karena sebagian besar buku-bukunya, yang saya tahu, bisa dibaca siapa pun. Sebetulnya beberapa kali disebutkan mengenai Kepala Rumah Sakit yang suka "main", tapi ternyata "permainan" itu dilakukan tokoh utama. Setidaknya hanya 1-2 halaman. Selebihnya, adegan-adegan manis. Beberapa adegan pun membuat saya iri, terlebih adegan yang berhubungan dengan makanan. Penulis membuat seolah makanan memang mampu membuat seseorang jatuh cinta.

Bai Qian Xun digambarkan sebagai orang yang sangat logis. Masalah cinta pun dia menyalahkan hormon. Dia sempat berpikir mengatur hormon dapat menekan perasaan tertarik pada lawan jenis. Saya rasa Bai Qian Xun benar. Sayangnya, kekuatan hormon sangat di luar dugaan.

"Ckckck, bukannya kau lebih percaya kalau aku itu sepupunya Spiderman, Superman, atau Hulk? Kok sekarang kau percaya kalau bunga dandelion bisa mengabulkan permohonanmu?" - Cheng Feng to Bai Qian Xun (hlm. 134)

Salah satu amanat yang saya dapatkan dari buku ini adalah cinta merupakan perkara kualitas, bukan kuantitas. Lamanya orang-orang saling mengenal tidak menjamin mereka saling cinta. Mungkin salah satu mencintai, tapi bukan berarti cinta itu bisa terbalas. Menyakitkan memang, tapi lebih menyakitkan memenjarakan cinta orang yang kita cintai dan berpura-pura yakin bahwa orang yang kita cintai bisa balas mencintai.

Dari sisi keluarga, buku ini juga mengungkapkan amanatnya melalui hubungan keluarga Bai Qian Xun. Orangtua Bai Qian Xun bercerai karena masalah karir. Ibu Bai Qian Xun mendidik anaknya sedemikian rupa hingga menjadi seperti robot. Kalau saya membahas lebih panjang, saya khawatir saya benar-benar akan dilabeli sebagai ember bocor.

Tentang typo, saya sudah senang karena mengira tidak akan menemukannya. Menjelang akhir, saya menemukan dua typo. Pada halaman 316, lau yang seharusnya lalu. Pada halaman 321, shingga seharusnya sehingga. Hanya dua dan sebetulnya tidak terlalu menganggu. Saya hanya sedang iseng menandainya. Lagipula, akan sangat lebih baik kalau benar-benar bersih, kan?

Saya rasa, review kali ini cukup sampai di sini. Dari segi cerita, buku ini saya kategorikan berada di pertengahan, tidak terlalu ringan, tapi juga terlalu berat. Unsur romance dalam buku ini manis, hanya saja terdapat konten dewasa.

Rating:



5 komentar:

  1. Wiih kayak apa ya kalo di dunia nyata ada orang yang menganggap dirinya mesin ...

    BalasHapus
  2. Masih dalam level 'penasaran' belum sampai 'sebegitunya' buat baca buku ini, karena masih mupeng sama yang doble spin itu huahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pantesan waktu itu aku dikirim ke bulan. Biar mengurangi saingan. -.-

      Hapus
    2. Pantesan waktu itu aku dikirim ke bulan. Biar mengurangi saingan. -.-

      Hapus