Minggu, 19 Juli 2015

Evil Under the Sun - Agatha Christie


- Kecantikan Penarik Kejahatan -

Judul buku: Evil Under the Sun
Judul terjemahan: Pembunuhan di Teluk Pixy
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Joyce K. Isa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ke-6, Januari 2014
Jumlah halaman: 288
ISBN: 9789792232691

"Tempat ini memang romantis, ya?" Hercule Poirot menyetujui. "Tenang. Matahari bersinar. Lautnya biru. Tapi Anda lupa, Mademoiselle Brewster, kejahatan ada di mana saja di bawah matahari." - hlm. 18

Hercule Poirot sedang berlibur Hotel Jolly Roger. Semua tampak menyenangkan. Makanan-makanan yang baik. Tamu-tamu yang biasa. Nyaris tidak ada yang mengganggu dalam liburan. Hanya satu masalah: di antara para tamu, terdapat seorang tamu wanita yang dibenci wanita-wanita lain. Arlena Marshall. Cantik, bertubuh menarik, dan mencolok. Dia adalah tipikal wanita yang membuat wanita lain iri sekaligus membencinya. Dia adalah istri Kapten Marshall sekaligus ibu tiri Linda Marshall.

Dia menyebabkan pasangan yang baru menikah merasa terganggu: pasangan Redfern. Patrick Redfern terpikat oleh Arlena. Istrinya, Christine Redfern, adalah wanita yang sangat berbeda dari Arlena. Christine tampak sebagai wanita kecil, rapuh, dan dikasihani wanita lainnya. Di sisi lain, suami Arlena, Kapten Marshall, cenderung tampak tertutup.

Pada suatu hari yang cerah, Arlena Marshall ditemukan mati dicekik di Teluk Pixy. Hercule Poirot adalah orang terakhir yang melihat Arlena dalam keadaan hidup.

Seperti kasus-kasus pembunuhan lainnya, para tersangka memiliki motif yang memungkinkannya membunuh, tetapi terpentok alibi. 

Kapten Marshall memiliki motif diselingkuhi, juga bisa mendapatkan harta istrinya kalau istrinya itu meninggal, tapi alibinya sempurna. Dia berada di pantai pagi itu lalu mengetik dengan mesin tik di kamarnya sampai siang. Dia tidak mungkin menyiapkan ketikan karena surat balasan yang dibuatnya tidak mungkin dibuat sebelum melihat surat yang ditujukan padanya. 

Patrick Redfern mungkin tampak tidak mempunyai motif, tapi selalu ada kemungkinan orang yang tidak memiliki motif adalah pelakunya, tapi lagi-lagi alibinya sempurna. Dia berada di pantai bersama yang lain lalu mendayung ke Teluk Pixy bersama Miss Brewster dan menemukan tubuh mati Arlena.

Christine Redfern tentu memiliki motif pernikahan yang terancam. Linda Marshall membenci ibu tirinya sampai membuat patung lilin Arlena dan menancapnya dengan peniti. Sayangnya, tangan-tangan Christine dan Linda terlalu kecil untuk mencekik. Mereka pun sedang berada di Teluk Camar pada waktu kejadian. 

Rosamund Darnley mungkin ingin menyingkirkan Arlena Marshall. Dia adalah teman masa kecil Kapten Marshall. Saat kejadian, dia berada di Sunny Ledge, sedang berjemur. Payungnya terlihat oleh Patrick dan Miss Brewster ketika mendayung. Dia sempat kembali ke hotel dan meyakinkan alibi mengetik Kapten Marshall. Kapten Marshall pun meyakinkan dia melihat Miss Darnley.

Stephen Lane, seorang pendeta. Dia terobsesi dengan kekuatan jahat dan Arlena adalah sebentuk iblis wanita jahat. Saat kejadian dia sedang berjalan-jalan lalu mampir ke sebuah gereja. Alibinya adalah buku tamu gereja. Horace Blatt, seorang pengusaha. Saat kejadian dia sedang berlayar. Layar kapalnya cukup mencolok untuk dilihat orang-orang. Dia diduga memiliki hubungan dengan narkotika berkat penemuan sejumlah heroin di Gua Pixy dan Arlena Marshall mungkin dibunuhnya karena memergokinya bertransaksi. 

Ada juga tamu-tamu lain, yaitu Mayor Barry (pensiunan opsir tentara) dan pasangan Gardener (turis asal Amerika). Mereka adalah orang-orang yang masih tinggal di hotel saat kejadian.  Juga, ada kemungkinan pembunuhnya adalah orang luar yang pernah menjalin hubungan dengan Arlena Marshall.

* * *
Huwaaah. Sinopsisnya panjang banget. Semoga sinopsis atau pun review nggak bisa jadi spoiler. Kasus ini muter-muter. Mulai dari hanya kasus pembunuhan biasa, dugaan pemerasan, dugaan sakit hati seseorang dari masa lalu, juga dugaan ada hubungannya dengan narkotika.

Saya kurang suka karena pelakunya adalah salah satu tokoh favorit saya. Sebenarnya dalam cerita ini, banyak tokoh yang saya sukai sehingga sangat disayangkan kalau mereka adalah pelakunya. Cara penyelesaiannya pun membuat saya ingin berkata, "Kok gitu sih?" Bukan karena puzzle yang ada pada akhirnya tidak rampung, melainkan karena saya baru pertama kali menemukan pembunuhan semacam ini. Kok ada orang seperti itu. Kejam, tapi memang tidak sekejam pelaku di Towards Zero. *Namanya juga novel misteri, kejam itu wajar, Fah. Gimana sih?*. Saya jadi teringat film Minions. 

Di sisi lain, saya rasa "Kok gitu sih?" tidak terlalu masalah agar cerita tidak "gitu-gitu" saja. Buku ini menunjukkan bahwa kejahatan bukan sekadar timbul karena niat dan kesempatan, tapi juga ada karena memang ada, bukan bentuk negatif dari kebaikan.

"Zaman sekarang tidak ada orang yang percaya adanya kejahatan. Paling-paling itu hanya dianggap bentuk negatif kebaikan. Kata orang, kejahatan dilakukan oleh mereka yang tidak tahu apa-apa--mereka yang tidak terbuka pikirannya--mereka yang harus dikasihani dan bukannya disalahkan. Tapi, M. Poirot, kejahatan itu ada! Kejahatan itu fakta! Saya percaya adanya kebaikan. Kejahatan memang ada! Ia berkuasa! Ia mengitari dunia!" - Stephen Lane (hlm. 20)

Hercule Poirot, seperti disebutkan oleh tokoh-tokoh dalam novel ini, memiliki cara penyelidikannya sendiri. Tokoh utama detektif memang selalu unik. Kepingan puzzle yang seolah tidak saling berhubungan ternyata memiliki hubungan walaupun jalannya harus jauh.

Saya suka bagian penutup cerita ini. Pada akhirnya, kematian Arlena amat sangat tidak sia-sia. Sejak awal, kematian Arlena memang tidak terlalu merugikan. Pihak yang paling dirugikan mungkin adalah pihak hotel. Tidak ada yang benar-benar merasa sedih pada kematian Arlena.

Di novel ini, saya baru tahu narkotika merupakan urusan kepolisian pusat, dalam hal ini Scotland Yard. Sering baca misteri tapi baru tahu yang macam begini. Ke mana aja sih saya? 

Dari segi terjemahan, saya suka dengan pemilihan kata yang tidak biasa, seperti "kamar makan", bukan "ruang makan". Saya tidak tahu saya yang kurang vocab atau dulu memang istilahnya seperti itu. Buku versi terjemahan ini pertama kali diterbitkan tahun 1985.

"Kalau sedih, itu lain bagi kita... kita tidak bisa mengenyahkan itu. Tapi kita bisa melupakan guncangan dan perasaan takut hanya dengan tidak membiarkan pikiran kita lama-lama memikirkan setiap saat." - Rosamund Darnley to Linda Marshall (hlm. 203)

Rating:



1 komentar:

  1. Sepertinya semua buku Agatha Christie sudah kubaca, tapi itu jaman kuliah, sdh lama sekali, byk yg lupa ceritanya.

    BalasHapus