Minggu, 05 Juli 2015

12 Tahun GagasMedia #TerusBergegas Memikat Pembaca



Selamat 12 tahun GagasMedia!

GagasMedia sudah remaja. Walaupun remaja biasanya labil, GagasMedia sepertinya sudah tidak labil dalam usia ini. GagasMedia sudah semakin memantapkan diri dalam dunia penerbitan.

Saya mengenal GagasMedia sekitar enam tahun lalu, tapi ternyata GagasMedia sudah ada sejak enam tahun sebelumnya. Sejak dulu GagasMedia sering menerbitkan buku-buku berseri dengan tema khusus. Beberapa seri yang saya tahu pernah digarap GagasMedia antara lain, songlit,  STPC, SCHOOL, dan yang masih hangat adalah Love Cycle. Seri semacam ini sukses membuat pembaca ingin mengetahui lebih banyak buku-buku GagasMedia. Tak hanya buku-buku berseri, GagasMedia juga menerbitkan buku-buku lepas (istilahnya apa, ya?) yang tidak kalah menarik. GagasMedia selalu memiliki karakter tersendiri yang mampu memikat pembaca dan calon pembaca.


Beberapa buku GagasMedia juga sudah difilmkan. Dulu ada Jomblo karya Adhitya Mulya yang diangkat ke layar lebal. Tidak lama lagi, konon katanya, karya Adhitya Mulya lain yang diterbitkan GagasMedia akan difilmkan juga, yaitu Sabtu Bersama Bapak. Buku-buku pengaran favorit saya, Winna Efendi, juga sudah banyak difilmkan. Hal ini tentu membuktikan buku-buku terbitan GagasMedia bukan buku-buku kacangan karena tidak mungkin ada yang tertarik menjadikan buku-buku kacangan di angkat ke layar lebar.

Saya adalah pembaca random. Tidak ada penulis atau penerbit tertentu yang membuat saya fanatik, tapi dihitung-hitung, GagasMedia cukup banyak menjadi pilihan saya. Saya juga baru sadar waktu iseng menghitung tadi. Hehe.

Nah, sekarang saya mau memeriahkan salah satu event dalam ulang tahun GagasMedia yang ke-12. 



1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!

1. Harry Potter and The Order of The Phoenix - J.K. Rowling
Buku dari serial Harry Potter yang pertama saya baca. Paragraf pertamanya langsung membuat saya jatuh cinta. Daaan, ternyata, buku ini adalah bagian yang paling banyak menguak rahasia dan konfliknya paling banyak.

2. The Five People You Meet in Heaven - Mitch Albom
Ceritanya sederhana, tapi cukup nancep kalau sedang upset atau mempertanyakan tujuan hidup.

3. Forgiven - Morra Quatro
Gimana nggak berkesan, buku ini sukses memporak-porandakan hatikuh. #halah

4. Notasi - Morra Quatro
Buku ini sukses membuat saya banyak berpikir tentang kejadian tahun 1998. Perjuangan para mahasiswa, juga love story yang terselip dalam suasana negeri yang memanas.

5. Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela - Tetsuko Kuroyanagi
Buku yang cute, tapi sekaligus bikin mikir.

6. Totto-chan and Totto-chan's Children - Tetsuko Kuroyanagi
Merasa hidupmu susah? Baca buku ini, banyak anak yang lebih susah, bahkan kata susah rasanya nggak cukup untuk menggambarkan keadaan mereka. Gambar-gambar di dalam buku pun... duh, sedih lihatnya.

7. The Fault in Our Stars - John Green
Saya suka penulis yang sepertinya sangat mengerti pengidap kanker. Buku ini nggak menye-menye, rasanya kayak membaca buku young adult biasa, bukan sicklit.

8. Tomodachi - Winna Efendi
Novel dengan rasa komik

9. Towards Zero - Agatha Christie
Saya masih kepikiran dengan pelaku yang kejam banget.

10. Ai - Winna Efendi
Karena yang pertama selalu berkesan. Novel romance pertama yang saya punya. Novel pertama yang saya beli hanya gara-gara suka covernya. Novel pertama yang saya beli di online shop. Novel pertama yang membuat saya suka yang melow-melow.

11. After Rain - Anggun Prameswari
Tarik napas dulu. Cinta itu kadang-kadang... ya begitu deh. Tapi, yang paling berkesan sih Elang Mahardhika. Huehehe. 

12. Rain Affair - Clara Canceriana
Saya nggak tahu kalau saya membaca buku ini lagi masih akan meninggalkan kesan yang sama atau tidak. Waktu saya membacanya, hidup saya nggak beda jauh dengan membaca novel ini. Setelah membaca novel ini, saya nge-wall (belum zaman nge-tweet) penulis dan bilang saya mengerti dengan keadaan Lea. Eh tapi saya hanya "pembaca", ya, bukan tokoh utama. ^^v

Cover depan Rain Affair. Image source: Goodreads

Buku-buku yang kusebutkan, nggak urut berdasarkan mana yang paling berkesan, ya. Yang pasti, buku-buku itu lebih berkesan daripada buku-buku lain yang sudah kubaca. 

2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?

Sepertinya saya cengeng kalau membaca buku, gampang banget dibuat menangis oleh buku. Jadi, ada banyak buku yang pernah membuat saya menangis. Saya kasih tahu yang pertama membuat mata saya mengeluarkan air mata dan yang membuat saya menangis deras saja, ya.

Buku yang pertama membuat mata saya basah adalah komik karya Yoko Shoji yaitu Pop Corn volume 19. Saya nggak mengikuti serial ini, saya bacanya lompat-lompat, lalu ketemulah dengan volume 19. Sebelum-sebelumnya, saya sudah mengetahui mereka mempunyai circle persahabatan. Di volume ini, saya baru tahu ada perasaan lebih antara tokoh utama perempuan (kalau nggak salah, namanya Nakki) dengan Okita. Ternyata perasaan itu dua arah, tapi mereka belum menyatakan perasaan itu (nggak tahu sih Nakki pernah menyatakan atau nggak). Suatu hari, Okita mau naik gunung. Lalu, dia ketemu salah satu sahabat perempuan di circle mereka dan bilang dia akan menyatakan perasaannya pada Nakki begitu turun gunung. Sayangnya, terjadi tragedi sehingga Okita harus berjuang bertahan hidup di gunung bersalju. Perjuangan Okita bertahan hidup betul-betul membuat saya ingin teriak-teriak a la cheerleader untuk menyemangatinya. Sahabat-sahabat Okita yang khawatir juga nggak kalah bikin deg-degan. Dan pada akhirnya, kalau nggak nangis mah keterlaluan.

Buku yang pertama membuat saya menangis deras adalah Notasi karya Morra Quatro. Saya copas dari review saya, ya, adegan mana yang membuat saya mewek nggak berhenti-berhenti. Malas nulis lagi.
Bagian favorit saya dari novel ini bukan ketika Nalia bersama Nino, walaupun adegan ini secara tidak langsung berhubungan dengan Nino. Bagian favorit saya adalah ketika Nalia kabur dari rumah dan bertemu tukang becak yang dengan semangat mengantarkan Nalia tanpa dibayar, lalu ia bertemu seorang ibu yang membawa kardus berisi botol-botol air mineral dan memberikan dua botol kepada Nalia. Semua itu mereka lakukan karena Nalia akan ikut berdemonstrasi! Bagi saya, itu adalah adegan yang mengharukan. Seperti seorang pahlawan yang yang diberi semangat oleh rakyat.

Mengesampingkan pro dan kontra dengan hal yang telah dilakukan para mahasiswa pada zaman itu, adegan itu terasa sangat dalam. Satu niat berjuang yang kemudian semakin ditumbuhkan oleh harapan-harapan orang lain mampu membuat saya merinding.

3. Apa quote dan buku yang kamu ingat dan menginspirasimu?

"It is unknown we fear when we look upon death and darkness, nothing more." - Dumbledore (Harry Potter and The Half-Blood Prince)

Saya  dulu takut gelap dan takut dengan masa depan yang belum jelas. Dipikir-pikir, Dumbledore betul juga. Dalam gelap, kita nggak tahu apa yang mendekati kita. Masa depan, siapa sih yang tahu. Ada banyak hal lain yang kita nggak bisa ketahui. Kalau setiap hal yang nggak diketahui membuat takut, kapan beraninya dong. Karena nggak tahu, anggap saja semua akan baik-baik saja, sambil tetap waspada. Kalau takut terus, kapan majunya. Saya mikirnya, Dumbledore mau bilang, "Jangan parno terus!" tapi kan itu bukan gayanya Dumbledore. Hehe. Btw, kalau tentang kematian, saya tetap masih takut sih.

4. Siapakah tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu cocok jadi pasangannya. Hehehe.

Sebetulnya sih saya mau menyebutkan Elang Mahardhika, tapi saya mah sadar diri, nggak cocok jadi pasangan Elang. Saya dan Elang sama-sama cool. Kalau cool dengan cool, bisa-bisa jadi cold atau freezing. *Sok cool amat, Fah*

Maka, saya pun memutuskan saya ingin memacari . . . 

Kaito Kid

Kaito Kid-nya generasi kedua, ya, yang sudah diperankan oleh anaknya, bukan bapaknya. Dia adalah tokoh utama dalam komik Magic Kaito, tapi lebih dikenal dari perannya sebagai tokoh pendukung dalam komik Detektif Conan.Saya rela deh jadi buronan, bantuin dia di setiap aksinya, nyusun strategi, menghindari polisi dan Shinichi Kudo alias Conan Edogawa. Pokoknya jadi kriminal pun nggak masalah. Sepertinya seru, memacu adrenalin. Hehe. Apalagi sebetulnya dia baik, mencuri pun dikembalikan lagi karena yang dia cari hanya satu permata yang mungkin bisa membongkar rahasia kematian ayahnya. Saya mau deh jadi tempat pusing-pusingnya dia demi mendapatkan kebenaran di balik kematian papa mertua dan akan selalu ada supaya dia nggak kesepian #halah. Kalau sama dia, saya bisa menghangat dan (semoga) dia bisa sedikit lebih nggak pecicilan kalau sama saya. Kan ada yang merhatiin.

5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan!

Ceritakan ending? Spoiler dong. Susah untuk menceritakan ending tanpa menjadi spoiler.

Ada dua ending yang langsung terbayang ketika saya membaca pertanyaan ini.

Pertama, Her Sunny Side karya Koshigaya Osamu.

Cerita novel ini bagus. Pembaca disajikan kisah pernikahan yang menyenangkan, tapi kemudian sang istri tampak aneh. Saya sibuk menerka apa yang sebetulnya terjadi dengan tokoh utama perempuan yang sering berkelakuan aneh. Ada banyak skenario dalam pikiran saya, mulai dari yang masuk akal sampai tidak masuk. Dan, dari sekian banyak skenario itu, tidak ada yang benar. Ending novel ini sangat tidak terduga dan baru diketahui pada lembar terakhir. Saya geregetan banget dengan penulisnya.

Kedua, Forgiven karya Morra Quatro

Satu kata: nyesek! Kisah cinta Will dan Carla berlika-liku tanpa ujung. Hebatnya, penulis menyajikan cerita cinta dua orang berbeda agama tanpa membawa-bawa agama sebagai masalah, tapi memberikan penyelesaian yang menurut saya fair, tidak akan memberikan keributan antaragama. Jadi begini: Carla dan Will berbeda agama, mereka bersahabat, sama-sama suka, tapi banyak konflik antara keduanya dan sama sekali nggak ada sangkut pautnya dengan agama, lebih jelasnya baca saja review saya di sini. Jadi, kalau endingnya seperti itu justru aman untuk penulis, tapi nggak harus kayak gitu juga sih, bisa diperhalus mungkin, supaya nggak semenyesakkan itu.

6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?

 Ai. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan covernya.  Saya juga penasaran dengan judulnya. Penjelasannya ada di jawaban nomor 7 dan 8. Selain itu, sewaktu membaca tagline dan mencoba memadukan dengan sinopsis, saya sempat berpikir, "Kayaknya gue banget." Saya perlu cerita panjang kali lebar kali tinggi nggak? Nggak usah, ya, anggap saja mengerti. Kalau saya galau, Gagas mau tanggung jawab?

Dulu, masih zaman labil, jadi kalau ada yang sekiranya "gue banget",  pasti langsung penasaran. Tapi, yang membuat saya paling tertarik waktu itu adalah covernya. Saya mau buku dengan cover semanis itu bertengger di rak buku saya yang saat itu masih didominasi buku-buku fantasy dan misteri.

7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?

Ai, a novel by Winna Efendi. Hal pertama yang saya bayangkan ketika membaca judul ini adalah arti kata "Ai", yaitu cinta. Novel ini ingin menggambarkan arti cinta yang sesungguhnya? begitu pikir saya. Dengan tagline "Cinta tak pernah lelah menanti", saya semakin yakin novel ini bermaksud mengungkapkan arti cinta yang sesungguhnya versi penulis, bahwa dalam cinta harus terdapat kesabaran, kesetiaan, dan kepercayaan sehingga penantian panjang bukan penghalang. Tagline itu juga membuat saya sempat mengira novel ini bercerita tentang LDR, tapi setelah membaca sinopsis kok sepertinya penantian dalam bentuk lain. Eh kok malah bahas tagline. Kembali tentang judul. Hehe. Ketika membaca sinopsisnya, ternyata salah satu tokoh novel ini bernama Ai. Saya pun penasaran apakah judul buku itu hanya diambil dari nama tokoh dan menceritakan all about tokoh tersebut atau juga ingin memberikan sesuatu yang lebih mendalam terkait cinta.

8. Sekarang, lihat rak bukumu, cover buku apa yang kamu suka, kenapa?

 Lagi-lagi jawaban saya Ai. Cover Ai yang saya suka versi lama.


Kenapa?

Pertama, cover ini dominan warna biru muda, warna favorit saya. Warna biru yang dipilih pun terkesan kalem. Nggak semua warna biru terkesan kalem kan? Coba pakai biru tua, bisa-bisa malah terkesan misterius, nggak nyambung dengan isi novel. Biru yang di cover ini biru laut kan?

Kedua,  saya suka hal-hal berbau Jepang dan aksen Jepang pada cover novel ini terasa kental. Bunga sakura, gadis Jepang dengan yukata. Penggambaran gadis Jepang yang menyerupai kokeshi, boneka kayu Jepang, membuat nuansa Jepang semakin kental.

Anyway, saya mau memberi pendapat pribadi tentang cover baru Ai. Menurut saya, cover baru ini lebih terkesan panas dan dinamis. Mungkin karena warna dominannya merah dan lebih banyak bagian yang tertutupi gambar dan tulisan. Sebetulnya manis, tapi bagi saya agak kurang sesuai dengan isi buku. Itu sekadar curhat saya karena terlalu menyukai cover lama. ^^

Ai cover baru. Image soure: Goodreads

9. Tema cerita apa yang kamu suka, kenapa?

Persahabatan. Menurut saya, persahabatan adalah hal yang gampang-gampang susah dibangun dan dipertahankan. Cinta juga seperti itu, tapi bagi saya, speak up dengan sahabat itu sulit. Kadang, karena sudah terbiasa dengan keberadaan sahabat, ketika sudah memulai hidup masing-masing, bertemu pun hanya sebatas bertemu tanpa adanya rasa kebersamaan. Memilih sahabat atau pasangan pun bukan hal mudah. Belum lagi kalau bersahabat dengan lawan jenis dan mulai timbul perasaan lain. Saya menyukai cerita persahabat yang masih unyu, polos, ketika sahabat adalah tujuan utama. Saya juga suka cerita sampingan tentang lingkaran sahabat yang selalu kompak dalam mengatasi masalah salah satu sahabat. Cerita persahabatan selalu membuat saya ingin kembali ke masa-masa bertemu sahabat tidak sesulit bertemu petinggi perusahaan besar.
 
Tomodachi by Winna Efendi, salah satu novel bertema persahabatan.


10. Siapa penulis yang ingin kamu temui, kalau sudah bertemu, kamu mau apa?

Windhy Puspitadewi. Seumur-umur saya follow Twitter-nya, belum pernah penulis yang satu itu memfoto diri dengan wajah yang tidak ditutupi. Ada saja bagian yang ditutupi. Masa saya perlu menyatukan satu foto dengan foto lain untuk memperkirakan wajahnya. Kalau ketemu mau apa? Mau ngajak selfie dong. Mengantispasi Kak Windhy nggak mau diajak selfie atau tetap menutupi salah satu bagian wajah waktu selfie, sebelum selfie, saya mau ambil foto diam-diam. Hasilnya, akan saya upload di Twitter. Saya mau pamer bahwa saya sudah melihat Kak Windhy yang sesungguhnya. Huehehe. Tapi, berhubung, Kak Windhy nggak mau wajahnya dipublikasikan, aku edit dulu supaya sebagian tertutupi. Waulaupun hasilnya harus diedit, tetap bisa pamer bahwa saya sudah bertemu Windhy Puspitadewi, kan?

11. Lebih suka baca e-book (buku digital) atau buku cetak (kertas), kenapa?

Buku cetak. Mata ini sering nggak tahan memelototi layar terlalu lama. Kalau bukunya menarik, kadang nggak enak kalau harus ditinggal dahulu. Kalau pakai hp, mata jadi berat karena berjam-jam memelototi hp. Memelototin laptop bisa agak tahan sih, tapi pegel baca dengan posisi yang nggak bisa berubah, nggak bisa sambil tidur-tiduran (duh, padahal ini nggak baik), nggak bisa dipangku, nggak bisa sambil tengkurep, juga nggak bisa dibaca di tempat umum kalau pakai laptop. 

12. Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia menurutmu!

Penerbit yang selalu bergegas dalam membuat inovasi agar selalu dapat memuaskan pembaca.

Nah, sekian hal-hal dari saya untuk memuaskan kekepoan GagasMedia (ih, kamu kepo deh :P) tentang pembacanya. Biasanya kan kita yang ngepoin GagasMedia, sekarang GagasMedia juga bisa ngepoin kita. Mumpung lagi ulang tahun. Sering-sering dikepoin kayak gini juga nggak masalah. Saya senang. Semoga semakin banyak inovasi dari GagasMedia dan semakin banyak penggemarnya!

4 komentar:

  1. Jadi pengin baca Tomodachi sama Ai :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo, baca.
      aku suka dua-duanya walaupun masih ngangkat tema sahabat jadi cinta. Tomodachi lebih banyak tentang persahabatannya. :))

      Hapus
  2. Segmennya remaja ya. Anakku punya harry potter semua serinya, tebel2 ya. Nggak merhatiin kalau itu gagasmedia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harry Potter bukan Gagas kok, mak.
      Jawaban 12 pertanyaan ini nggak harus terbitan Gagas kecuali nomor 6. ^^

      Hapus