Sabtu, 16 Mei 2015

Gloomy Gift - Rhein Fathia







 - Fear in Love -

Judul buku: Gloomy Gift
Penulis: Rhein Fathia
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Ke-1, Maret 2015
Jumlah halaman: 284
ISBN: 9786022910893



Sometimes, love is about facing your biggest fear, Darling – Belinda (Mama) to Kara via text (hlm. 264


Apa jadinya jika hari bahagiamu dirusak oleh sekumpulan orang yang menggrebek rumahmu dan melepaskan tembakan?

Kara mengira hari pertunagannya dengan Zeno akan menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupnya. Semua berjalan normal pada awalnya hingga sekumpulan orang masuk ke rumahnya dan melepaskan tembakan. Tanpa sempat melihat keluarganya lagi, Zeno membawanya kabur. 

Zeno bungkam. Kara mengenal Zeno lebih dari setahun. Zeno yang Kara kenal adalah pria sopan dan menyenangkan. Satu-satunya pekerjaan Zeno yang Kara tahu adalah sebagai arsitek. Pekerjaan yang bagi Kara tidak berbahaya. 

Memiliki kekasih dengan pekerjaan berbahaya adalah salah satu hal yang seharusnya tidak mungkin terjadi dalam hidup Kara. Dia memiliki trauma. Pekerjaan ayahnya yang berbahaya telah merenggut nyawa pria pertama yang dicintai Kara itu. Dia tidak ingin mengalami nasib seperti itu lagi. 

Kini, dia dihadapkan pada kenyataan kekasihnya memiliki pekerjaan yang berbahaya juga. Pekerjaan yang hanya diketahui segelintir orang. 

Pembunuh.

Seseorang yang Kara kenal mengatakan kekasihnya adalah pembunuh. Dan apa itu yang dia curi dengar dari percakapan Zeno via telepon? Seseorang tewas saat bersamanya? Zeno mengatakan hanya dengan bersamanyalah Kara akan selalu aman. 

Ada masa-masa ketika Zeno tersenyum dan tertawa lebih banyak daripada merenung memikirkan kasus atau terjebak dalam situasi mengancam nyawa. Hampir semua orang mengalami masa-masa ini, masa kecil dengan limpahan kasih sayang dan hanya mengenal tawa bahagia atau tangis lantaran hal sepele seperti jatuh dari sepeda. Ada masa-masa ketika ketakutan muncul hanya karena pergi melewati kuburan saat jurit malam bersama regu pramuka dan tanggung jawab terbesar hanya PR Matematika yang dikumpulkan besok. – hlm. 164-165 

Zeno sudah sering menangani kasus sulit, tetapi kasus yang ditanganinya kali ini berbeda. Penyelidikan terhadap kasus tenggelamnya kapal Mutiara Hitam milik LS membuat tidak hanya nyawanya, tetapi juga nyawa kekasihnya terancam. Seluruh klien SYL, tempat Zeno bernaung, tidak pernah mengetahui secara rinci mengenai mereka, para anggota SYL. Jangankan kekasih, nama asli mereka pun tidak diketahui. Informasi antaranggota pun sangat terbatas.


Berkas rahasia Zeno bahkan dicuri padahal tidak seorang pun mengetahui kombinasi brankasnya. Ke mana pun Zeno dan Kara pergi, bahaya selalu mengintai. Dan, salah satu bahaya bagi Zeno adalah bahwa dia membuka luka masa lalu Kara. Dia terancam ditinggalkan oleh kekasihnya karena telah menutupi banyak hal dan “pekerjaan berbahaya” ada dalam daftar teratas pria yang tidak boleh dinikahi. 

 * * *

Mungkin ekspekstasi saya ketinggian untuk  action dalam buku ini. Saya membayangkan akan banyak adegan action: tembak-tembakan, pukul-pukulan, lari-larian, atau apa pun itu. Sayangnya, karena buku ini dasarnya romance, porsi romance-nya lebih dominan.

Fokus buku ini bukan tentang kasus Mutiara Hitam atau pun LS. Buku ini lebih memfokuskan pada perubahan sikap Kara dalam menghadapi ketakutan. Apakah Kara lebih berani melepaskan Zeno atau melepaskan ketakutannya?

Sejak bagian awal sampai bagian menjelang akhir, saya dibuat geregatan oleh Kara. Kalau pernah membaca beberapa review saya, mungkin akan tahu bahwa saya kurang suka dengan cewek-cewek tipikal Kara. Belum lagi ditambah Kara berbanding terbalik dengan tokoh yang saya suka: Miwako Sato, padahal mereka mempunyai cerita yang hampir sama. Lalu, sikap Kara yang agak kurang peduli (saya nangkepnya “kurang peduli”, bukan “berusaha tidak peduli”) terhadap kerusuhan 1998 padahal usianya sudah sebelas tahun. Saya baru lima tahun dan sudah ikut-ikutan takut waktu itu, takut Bogor juga akan seperti Jakarta, takut ayah akan seperti ayah Kara. Walaupun begitu, buku ini memang ingin menunjukkan keberanian dalam menghadapi ketakutan, jadi tokoh utama harus terus memikirkan ketakutannya dan enggan memeranginya. Coba saja ketakutannya lebih diperbesar, ayahnya meninggal di depan matanya dengan sadis mungkin, pasti akan lebih menarik. Saya suka epilog buku ini. Saya suka perubahan yang terjadi pada Kara dan bagaimana Kara bisa berubah.

Dari Kara, kita akan belajar memilih selamanya hidup dalam ketakutan atau mempertahankan cinta. Dari Zeno, kita akan belajar tulusnya mencintai bahkan saat orang yang kita cintai ragu.

Zeno tipikal cowok too good to be true. Saya tidak tahu apa kekurangan Zeno, tapi dia juga pernah berbuat kesalahan - sesuatu yang menurutnya salah - yang merenggut nyawa orang yang dicintainya. Hal itu menjadi alasan yang sangat kuat bagi Zeno untuk menolak kehilangan lagi. Mungkin hanya perempuan dengan ketakutan seperti Kara yang bisa ragu terhadap laki-laki seperti Zeno.

Zeno mungkin digambarkan seperti cowok-cowok dalam film action, tapi saya lebih menyukai adiknya, Dhewa, karena sepertinya Zeno terlalu sulit digapai. #tsaah. Kalau menemukan orang seperti Zeno dan ternyata dia agen rahasia, saya mungkin tidak terlalu terkejut. Kalau menemukan orang seperti Dhewa, dengan sisi kekanakan yang kadang terlihat jelas, dan ternyata dia agen rahasia, saya mungkin akan takjub. Saya juga menyukai sideline Dhewa dan Violet, seorang hacker anggota SYL. Kalau ada sekuelnya, saya mau membacanya. 

She’s the girl my brother loves so much.” Dhewa melirik tajam Violet, yang sedetik berubah muram. And I’m in love with a girl who loves my brother so much. – hlm. 148

Omong-omong takut, saya takut dengan layout buku ini pada awalnya. Saya nggak suka dengan sesuatu yang berlubang, apalagi banyak. Geli. Setiap awal bab ada banyak gambar lubang peluru dan nomor halaman diberi gambar lubang peluru. Setidaknya, nomor halaman terletak di samping sehingga bisa tertutup oleh jari yang memegang buku dan halaman awal bab bisa saya lalui dengan cepat. 

Walaupun adegan action ini bagi saya masih so-so, buku ini bisa manggil-manggil saya setiap kali saya letakkan. Perpindahan adegan yang cepat membuat saya bertanya-tanya apa yang selanjutnya akan terjadi. Apa daya, file laporan manggilnya lebih keras. 

Buku ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang dari para antagonis pun muncul dengan sisi gelap mereka. Saya justru lebih menyukai bagian-bagian ini. Sisi gelapnya terasa, tapi bisa muncul rasa iba juga. 

“Karena setiap orang butuh kambing hitam untuk penderitaan yang dia rasakan,” lirihnya. “Bukankah menyedihkan ketika kamu menderita dan tidak tahu harus menyalahkan siapa?” – Zeni to Kara (hlm. 155)

Sewaktu membuat review ini, saya baru menyadari sesuatu: buku ini “bersih”. Saya bahkan tidak ingat apakah ada adegan kissing atau tidak. Saya belum banyak membaca romance dari penerbit yang satu ini sih, jadi tidak tahu kalau mungkin ini kebijakan penerbit atau gaya penulis. Tapi . . . adegan-adegan yang menimbulkan reaksi kimia biasanya muncul di tahap awal dan belum masuk tahap komitmen, kan? Zeno dan Kara kan sudah masuk tahap komitmen. 

Selain bersih yang seperti itu, buku ini juga bersih dari typo. 

Jadi, kalau mau mencicipi bumbu action dalam romance, silakan cari buku ini di toko buku langganan. 

Kalau begitu, rating untuk buku ini adalah:





“Lagi pula menurutku, kendali pria atas wanita bukan terletak pada jabatan atau uang yang lebih besar. Tapi, pada bagaimana kemampuan si pria agar si wanita tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya.”
“Termasuk tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya?”
- Zeno & Kara (hlm. 253)
 
 

1 komentar:

  1. Suka sama kutipan-kutipan dari novelnya. Kesannya serius dan ber-filsafat gitu ya. Aku suka novel romance, kalau novel action tidak terlalu suka. Semoga bisa baca novel ini suatu hari nanti :)

    BalasHapus