Sabtu, 11 April 2015

Top 5 Males Too Good To Be True




Tahun ini saya belum membaca banyak buku, jadi tokoh yang masuk kategori ini berasal dari semua buku romance yang pernah saya baca sepanjang waktu. Tokoh-tokoh ini adalah tokoh yang saya ingat sampai sekarang. Tokoh yang saya pilih tidak semuanya boyfriend­able, bisa juga bestfriendable. Walaupun judulnya Top 5, list ini saya buat tanpa urutan tertentu.

Luke Henry (Forgotten – Cat Patrick)

Setiap hari keberadaannya dilupakan sang kekasih, tapi setiap hari mengulang segala kenangannya untuk sang kekasih. Sewaktu dia tau dirinya akan terbunuh karena London pun dia tetap mau berada di sisi London. Kalau saya sih udah kesel kayaknya nerangin keberadaan diri dan akan ninggalin begitu divonis akan terbunuh, toh dia akan lupa. *kejam*

Ben (Dirty Little Secret – aliaZalea)

Bad boy yang suka mainin perempuan lalu tergila-gila sama satu perempuan saja sudah cukup too good to be true bagi saya. Ditambah dia menjadi family man ketika melihat anak-anaknya. *sigh* Sebagai orang muda yang konservatif, bagi saya, Ben adalah sosok yang akan diharapkan perempuan mana pun kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan sebagai akibat melakukan hal yang tidak seharusnya.

Augustus Waters (The Fault in Our Stars – John Green)

Setelah dipikir-pikir, kayaknya dia layak masuk kategori ini, terutama karena dia menggunakan jatah keinginannya untuk memenuhi keinginan Hazel, juga karena surat yang dibuatnya untuk seseorang. Augustus adalah orang yang seru dijadikan pacar atau pun sahabat.

Ke Jinteng (You Are The Apple of My Eye – Giddens Ko)

Rasanya aneh menyukai tokoh ini karena novel ini diangkat dari pengalaman penulis, tapi mau bagaimana lagi, saya memang menyukai tokoh ini. Saya menyukai cara berpikirnya yang unik. Dan, pastinya, saya menyukai pengejarannya yang tidak pernah putus asa terhadap Shen Jiayi dengan caranya yang smooth. Walaupun sempat menyukai dua orang dalam satu waktu, dia bisa menempatkan dirinya dengan baik dan tidak berusaha meraih keduanya. Caranya memandang kehidupan dan persahabatan membuat saya ingin kembali ke masa sekolah. Dia adalah tipe sahabat-able.

Tristan (Stolen Songbird – Danielle L. Jensen)

Saya menyukai tabiatnya yang tidak mudah dibaca. Sebagai troll, dia tidak bisa berbohong, tapi ini menjadikannya sebagai contoh bahwa seseorang tidak perlu berbohong untuk memperdaya. Walaupun troll, jangan bayangkan dia bertubuh raksasa, hijau, dan bau. Sebagai tokoh utama laki-laki, segi fisiknya tidak bisa dikesampingkan. Kalau di dunianya ada bangsa peri, saya rasa dia lebih cocok menjadi bangsa peri, dengan rambut gelap.

Saya belum selesai membaca Stolen Songbird saat membuat post ini, jadi tidak bisa banyak menyebutkan alasan kenapa dia masuk kategori too good to be true. Yang pasti, saya menyukai seseorang dengan karakter yang tidak mudah dibaca karena sepertinya bukan pekerjaan membosankan untuk berusaha membacanya.
Itulah cowok-cowok yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan versi saya. Bagaimana dengan versi kalian?

Mari bermain ke playground Romance.


1 komentar:

  1. Aku cuma kenal sama Ben dan Ko Jinteng. Hehe.
    Kayaknya tiap pemeran cowok di novenya aliaZalea itu susah banget buat ditepis pesonanya. Kalau Ko Jinteng, proses perubahan dia yang aku kagumi. Dari dia jadi anak yang pemalas sampe rajin belajar dan bisa dapat nilai gede di kelas. Aduh, yang kayak gini nih yang cocok banget dijadiin calon lakik. Mau berubah menjadi sesuatu yabg lebih baik. :)
    Tapi kalau vetsiku sendiri, yang too good to be true adalah... tokoh-tokoh cowok di novelnya Karla M. Nashar. *teuteup ye karyanya dese yang utama hihi*
    Troy Mardian, meski penampilannnya agak metroseksual tapi dia sayaaaang banget sama istri dan anaknya. Trus ada juga Marco Dante, kalo yang ini produk bule coy, dan dia itu jatuh cinta banget sama Alila, si anak kecil yang super adorable yang tinggal di dekat villanya. Meski Alila bukan anaknya, tapi dia udah nganggep kayak anaknya sendiri. :)

    BalasHapus