Minggu, 12 April 2015

Stolen Songbird (The Malediction #1) - Danielle L. Jensen





- Keburukan yang Indah -

Judul buku: Stolen Songbird (Negeri Troll yang Hilang)
Penulis: Danielle L. Jensen
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penerbit: Fantasious
Cetakan: Ke-1, Oktober 2014
Jumlah halaman: 496
ISBN: 9786020900049


“Segala sesuatu di sini sangat indah! Segalanya. Tapi itu tak berarti apa pun karena aku selalu sendirian.” – hlm. 195 (Cécile to Tristan) 


Impian Cécile adalah bernyanyi di panggung-panggung megah Trianon. Dia hanya tinggal selangkah menuju impiannya. Pesta perpisahan dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya akan digelar malam itu. Dalam perjalanan pulang sesuasai berlatih, Cécile disergap oleh Luc. Pemuda itu membawanya ke Gunung Terlupakan, memasuki gua gelap dan nyaris terbunuh oleh monster, menuju Trollus. Luc menjualnya pada bangsa troll.

Raja troll menjanjikan emas berlimpah jika Luc bisa membawa gadis dengan ciri-ciri dalam ramalan. Bangsa troll membutuhkan Cécile untuk menghapus kutukan yang telah menyelubungi mereka selama lima ratus tahun, membuat mereka terasing dari dunia luar. Berdasarkan ramalan, kutukan akan hilang jika pangeran mereka dipertalikan dengan manusia yang memiliki ciri seperti Cécile. Cécile dinikahkan secara paksa dengan putra mahkota, Tristan.

Troll yang dikenal dari dongeng selama ini adalah sosok yang mengerikan. Memang benar wujud beberapa troll mengerikan, tetapi ada juga sebagian dari mereka yang berwujud seperti manusia sempurna. Tristan jauh dari sempurna, dia melebihi kesempurnaan pemuda mana pun yang pernah dilihat Cécile. Tapi, rupa fisik tidak sesuai dengan sifat sang pangeran. Tristan tidak lebih dari pemuda kasar dan tidak terhormat. 

Tanpa menunggu lama, segera setelah kedatangannya, Cécile dinikahkan dengan pangeran troll, dengan cara troll. Pernikahan tersebut adalah sesuatu yang mengikat. Segala emosi pasangan akan bisa dirasakan. Jika salah satu mati, pasangannya pun akan mati. Hanya kekuatan yang sangat besar yang bisa menahan kematian tersebut.


Selamanya hidup dalam ketakutan akan datangnya pembunuhan yang mengincarku supaya bisa membunuh Tristan. – hlm. 181


Berdasarkan ramalan, kutukan akan hilang ketika keduanya sudah terikat, tapi, selesai proses tersebut, kutukan belum hilang. Berdasarkan pertimbangan, Cécile harus tetap berada di Trollus. Masih terlalu dini untuk memutuskan bahwa ikatan mereka tidak berhasil. 

Cécile berusaha melarikan diri walaupun sudah diyakinkan bahwa hal itu tidak mungkin. Semakin lama berada di Trollus, dia mengetahui banyak hal. Bahwa seorang penyihir meruntuhkan gunung. Bahwa bangsa troll dikutuk oleh penyihir sehingga tidak bisa meninggalkan kedalaman gunung. Bahwa troll membenci manusia. Bahwa beberapa troll melanggar hukum dengan mencintai manusia dan menghasilkan keturunan berdarah-campuran. Bahwa darah-campuran memiliki derajat yang sangat rendah dibandingkan darah-murni. Trollus tidak hanya dihadapkan pada masalah kutukan yang mengurung mereka, tapi juga masalah politik dan sosial. 


Sampai beberapa hari terakhir ini, aku tidak benar-benar menghargai apa artinya memiliki kendali atas kehidupanku sendiri. Hak untuk memilih apa yang penting–dan hak yang tidak dimiliki darah-campuran mana pun. – hlm. 184


* * *

Novel ini adalah subgenre dari romance, yaitu fantasy romance. Sudah jelas kenapa novel ini termasuk fantasy. Negeri troll dan hal-hal berbau sihir bukan sekadar penghias buku ini. Dan kenapa novel ini bisa dikatakan romance? Tentu saja karena hubungan Cécile dan Tristan. Hubungan itu menjadi fokus utama takdir Trollus.

Hubungan mereka tidak berjalan baik pada awalnya. Saling bentak dan pertengkaran hampir selalu menghiasi setiap interaksi keduanya. Cécile bahkan tidak takut dengan kemampuan sihir Tristan  yang bisa saja membuatnya tidak bergerak. Kalau Cécile disakiti, hal itu juga akan dirasakan Tristan. Pernikahan kaun troll mungkin semacam menjadikan pasangan tersebut boneka voo-doo dengan lebih halus. Setidaknya, kalau salah satu patah tulang, pasangannya tidak ikut patah tulang. 

Seperti kisah romance yang buruk pada awalnya, hubungan mereka pun membaik. Sayangnya, Tristan tidak bisa sepenuhnya percaya pada Cécile. Tristan menyimpan banyak misteri. Ikatan mereka tidak membuat mereka bisa membaca pikiran satu sama lain, hanya bisa merasakan. Bahkan, Cécile sering tidak bisa membedakan emosi dirinya atau emosi Tristan. Dia takut perasaannya terhadap Tristan terlalu besar sehingga menganggap perasaan itu milik Tristan. 

Tidak seperti troll lainnya, Tristan tidak ingin kutukan dipatahkan. Dia tidak ingin troll keluar dari Trollus. Hal ini berarti mengkhianati kepercayaan pengikutnya, tapi dia menyimpannya dengan baik. Tristan adalah sosok visioner. Segala hal dipikirkan dan direncanakan untuk jangka panjang. 

Berbeda dengan Tristan, Cécile ingin para troll bebas. Dia yakin sejarah tidak akan berulang. Kekejaman troll tidak akan berulang, terlebih jika Tristan menjadi raja. Cécile adalah sosok yang berpandang apa adanya. Segala yang dilakukannya adalah untuk masa sekarang. 

Saat keduanya mulai saling mencintai, perasaan itu harus mereka tutupi. Mereka harus tampak bermusuhan. Hal ini agar Tristan tidak terlihat berpihak pada manusia karena bisa merusak rencananya. 

Tristan berjanji akan membebaskan Cécile jika rencananya berhasil. Di sisi lain, membebaskan Cécile ke dunia luar berarti membuat mereka tidak bisa saling bertemu. Tristan tidak bisa keluar dari Trollus. 

Dikemas dengan pergolakan politik dan kesenjangan sosial antara darah-murni dan darah-campuran, nuansa romance tetap terasa pada novel ini, terutama ketika keduanya sudah mengakui perasaan. Perbedaan pandangan dan rahasia yang disimpan keduanya membuat hubungan mereka naik-turun, sekaligus menguatkan perasaan masing-masing. Ikatan yang dipaksakan justru membuat keduanya jatuh cinta. 

Source: Devianart, edited by me

Buku ini menggunakan sudut pandang pertama dari Cécile dan Tristan. Sudut pandang Cécile lebih banyak digunakan. Hal ini menjadikan rahasia Tristan tidak mudah diulik. Cécile yang emosinya mudah naik-turun, sama sekali tidak membantu untuk menemukan hal penting. Sebagai tokoh dengan usia tujuh belas tahun, sifat keduanya dibuat sama-sama emosional (dan ini agak mengesalkan), bahkan saat sudah sama-sama mengetahui perasaan masing-masing. Walaupun Raja mengatakan Tristan tidak pernah bertindak gegabah sebelum kedatangan Cécile, pada akhirnya Tristan memang bertindak berdasarkan emosi. Pudar sudah image Tristan yang cool, cerdas, berpandangan jauh ke depan, dan seorang tactician.

Saya menyukai Tristan di bagian awal, ketika dia masih tampak kasar. Walaupun kasar, beberapa kali dia menunjukkan perhatian secara tidak langsung. Perhatian-perhatian dibuat seolah bukan khusus untuk seseorang yang dicintai, tetapi sebatas hal yang perlu dilakukan. Oke, saya tipe orang yang lebih suka dengan hal sepele dibandingkan yang nggak sepele.


Semua yang dikirimkannya seakan menyampaikan maksudnya untuk membuatku senang. Tapi semua hadiah di dunia tak ada artinya, karena yang diinginkan hatiku adalah seseorang yang tak seharusnya kuinginkan. – hlm. 201


Melalui buku ini, penulis mengubah gambaran mengenai troll yang besar, bau, jelek, kasar, dan bodoh. Beberapa troll dalam buku ini mungkin hampir seperti bangsa peri dalam buku lain. Sayangnya, sampai akhir buku, tidak ada penjelasan kenapa wujud troll berbeda-beda. Mungkin akan ada di buku-buku selanjutnya. Mungkin. 

Rating:



Submitted for:
Posbar subgenre: Fantasy romance

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar