Rabu, 01 April 2015

Novel Romance untuk (Bukan) Pecinta Romance



Dahulu kala . . .
Saya cenderung menghindari novel romance. Saya masih merasa terlalu lugu untuk menyentuh hal-hal semacam itu: pacaran, cinta-cintaan, galau-galauan. Saya juga bukan orang yang mau diribetkan masalah cinta. Cukuplah menjadi "tempat penampungan" bagi mereka yang sedang jatuh, baik jatuh cinta maupun jatuh semangat karena patah hati. Menjadi "tempat penampungan" pun sudah cukup bagi saya untuk menghindari yang namanya pacaran, nggak mau pusing memikirkan anak orang. Tapiii, entah kenapa, walaupun menghindari hal-hal semacam itu, saya tetap dipercaya menjadi "tempat penampungan", plus dokter cinta *melabeli diri sendiri*. Dan, sebetulnya, saya menyukai peran itu.

Karena saya memang tidak terlalu tertarik dengan hal-hal semacam itu, lama-kelamaan, ketika saya sudah tidak terlalu lugu untuk membaca novel romance, saya tetap enggan menyentuh genre itu. Well, saya suka membaca komik cewek yang sebagian besar bertema romance sih, tapi cerita komik kan ringan dan biasanya happy ending, juga to the point. Membayangkan diri ini membaca novel romance rasanya sulit. Novel yang saat itu saya sukai adalah Harry Potter, jadi saya membayangkan sebuah buku, dengan kerumitan cerita seperti Harry Potter, tetapi kerumitan itu berpusat mengenai masalah cinta. Saya pun kibar-kibar bendera putih.

Source: Personalityhacker, edited by me

Sampai pada suatu hari, saya menemukan novel Serenade terbitan Grasindo. Saya lupa nama pengarangnya sampai saya Googling ketika membuat post ini, namanya Devishanty. Saya membacanya karena penasaran dengan genre yang belum pernah saya sentuh (komik tidak dihitung). Setelah membaca novel itu, saya masih merasa membaca sinetron, tapi, saya merasa ada sensasi berbeda ketika membaca romance. Rasanya dekat dengan kehidupan. Si tokoh galau, teman saya pun ada yang galau. Si tokoh jatuh cinta, teman saya pun ada yang jatuh cinta. Si tokoh memiliki kisah cinta manis, teman saya pun mengharapkan kisah cinta manis (ini sih saya juga mau). Tapi, cuma sampai di situ. Saya tetap merasa kurang sreg membaca sinetron. Btw, saya nggak bilang Serenade-nya Devishanty memiliki cerita kayak sinetron, hanya saja kisah cinta berliku-liku dengan setting modern bagi saya saat itu mirip sinetron.

Setelah itu, saya tetap setia pada fantasi dan misteri. Saya pernah dipaksa teman membaca romance yang saya lupa judulnya, tapi saya tidak sanggup menyelesaikannya. Saya tidak membenci romance, tapi romance tetap hanya akan menjadi pilihan kedua terakhir, setelah horror.

Hingga pada akhirnya, ketika sedang bermain-main di Facebook, saya bertemu Tokobuku Sukabaca. Akun itu adalah online shop pertama yang saya kenal. Iseng-iseng, saya buka akunnya dan melihat foto-foto jualannya. Lalu, mata saya menangkap sebuah cover dan tiba-tiba saja, jatuh cinta dengan cover buku tersebut: Ai karya Winna Efendi. 

Source: Goodreads

Covernya memiliki banyak alasan supaya saya tidak bisa menolak panggilannya:
  1. Dominan biru muda. Sebagai pecinta biru muda, sensor biru muda saya bekerja sangat baik untuk menangkap cover tersebut.
  2. Nuansa Jepang-nya sangat terlihat. Bunga sakura, gadis Jepang, dan tulisan "Ai" yang dibuat seolah-olah menyerupai huruf Jepang. Sebagai pecinta komik Jepang, saya tentu menyukai hal-hal berbau Jepang, jadilah saya menyukai nuansa cover tersebut.
  3. Tulisan "Ai" yang mudah dilihat. Saya menyukai Ai Haibara, salah satu tokoh di komik Detektif Conan. Saya juga jadi menyukai nama "Ai", apalagi ketika saya mengetahui artinya: Cinta.
  4. Tagline "Cinta Tak Pernah Lelah Menanti" seolah menyuarakan isi hati saya yang saat itu sedang jatuh cinta pada tokoh anime
Karena covernya menarik perhatian saya, saya pun membaca blurb novel tersebut. Cukup satu kata untuk menggambarkan saya sewaktu membaca blurb tersebut: suka. Setelah bergalau ria sambil chatting dengan pemilik akun, saya pun memutuskan membeli buku tersebut. Dan, dasarnya tukang jualan dan saya yang mudah terhasut, saya pun membeli novel lain karena katanya paket dengan berat di bawah 1 kg tetap dihitung 1 kg. Jadi, supaya nggak terlalu rugi ongkir, saya sekalian membeli novel lain. Novel yang saya pilih adalah Rain Affair karya Clara Canceriana. Saya memilihnya karena saya menyukai hujan.

Ketika paket saya tiba, buru-buru saya membaca Ai. Saya, yang biasa membaca kalimat straight dan adegan yang membuat deg-degan bahkan jumpalitan, dihadapkan pada kalimat puitis dengan alur yang selow melow. Saya tidak tahu alasannya, tapi saya menyukai gaya bercerita semacam itu. Cerita yang tidak seperti sinetron pun membuat saya menyukai buku tersebut. Mungkin juga, saya bisa menyukai novel tersebut karena saat itu sedang mengalami perubahan kimiawi di dalam diri. Entahlah, intinya Ai membawa saya pada ai, cinta.

Source: Pixgood, edited by me.

Berbeda dengan Ai yang tetap membuat saya melow selesai membacanya, Rain Affair justru membuat saya ingin jingkrak-jingkrak. Novel tersebut rasanya dekaaaaaat sekali dengan kehidupan saya. Saya sampai menulis di wall Facebook penulisnya (waktu itu belum era Twitter) bahwa saya mengerti dengan sikap tokoh utama perempuannya. Alasannya adalah saat itu saya sedang direpotkan dengan drama teman saya yang sikapnya mirip-mirip si tokoh. Saya malah merasa Rain Affair lebih nyata dibanding kenyataan yang harus saya hadapi *lebay*.

Memang selalu ada yang pertama untuk segala, termasuk untuk perubahan selera. Serenade adalah novel romance pertama yang saya baca. Novel-yang-teman-saya-paksa-baca adalah novel pertama yang tidak selesai saya baca. Ai adalah novel melow pertama yang membuat saya jatuh cinta. Rain Affair adalah novel pertama yang saya rasa sangat dekat dengan kenyataan. Tentunya, Ai dan Rain Affair adalah novel romance pertama yang saya punya.



Plaving Around with Romance



6 komentar:

  1. Aku dnf loh baca ai :)))
    Bagus yak? Buat aku Ai itu ngebosenin makanya gak kulanjutkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku aja masih ga ngerti kenapa tiba-tiba bisa berpaling padahal waktu itu ga suka yang kayak gitu. hhe. :)

      Hapus
  2. Aku belum baca Ai dan Rain Affair. Dulu pernah baca If You Were Mine-nya Clara ini,. Gaya penulisannya mudah diikuti

    BalasHapus
  3. hmm. gue juga nggak terlalu suka novel romance dulunya dan gue pun juga cenderung menghindari. lebih suka novel comedy. tapi, setelah temen gue baca 3600 detik, gue jadi tertarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal ya bro/sis/mbak/pak :)
      ngomong2, folllowback dong :)
      hehehe..

      Hapus
  4. Rain Affair beneran bagus ya? Dulu aku sering wara-wiri di tobuk, pas stoknya masih banyak, tapi nggak aku lirik. Gara-gara temen duluan bilang kalo ceritanya gitu-gitu aja. :(
    Mau ah baca kalo ada yang minjemin, hehehe.

    BalasHapus