Kamis, 30 April 2015

Hubungan dengan Pembaca



Sejak pertama kali membaca tema opini bareng, tema ini yang paling membuat saya bingung. Saya tidak memiliki gambaran sama sekali. Kalau membaca buku fiksi, saya biasanya terima-terima saja tema apa pun selama penulis bisa menceritakannya dengan baik dan mengalir seolah hal kontroversial pun adalah hal biasa. Setelah nyontek sana-sini, saya memutuskan membahas buku-buku yang temanya saya suka dan tidak suka. Saya tidak akan membahas secara spesifik, terutama untuk buku yang saya tidak suka. 

Like

Masalah remaja adalah tema favorit saya. Remaja-remaja bengal, pengguna narkoba, pengidap HIV/AIDS, remaja yang memiliki masalah dalam bersosialisasi, saya suka hal-hal semacam itu. Cerita-cerita semacam itu membuat remaja-remaja bermasalah tidak merasa sendiri. Kalau memang bermasalah, mungkin mereka tidak akan sempat membaca buku-buku tentang masalah remaja, tetapi setidaknya orang-orang di sekitarnya bisa lebih mengerti dunia mereka, cukup dengan membaca dan memahami. 

Salah satu penulis favorit saya, Orizuka, pun saya suka karena membaca bukunya dengan tema masalah remaja, walaupun kemudian saya mengetahui dia menulis tema lain. 

Bukunya yang berjudul The Truth About Forever membahas mengenai HIV/AIDS. Dalam buku itu, Orizuka tidak membuat saya sebagai pembaca merasa kasihan terhadap pengidap penyakit tersebut. Lebih dari itu, saya merasa ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) bukan perlu dikasihani, melainkan perlu dipedulikan, diperlakukan seperti biasa, tidak dianggap pembawa penyakit, dipercaya untuk bisa melakukan hal luar biasa. Tokoh Yogas menjadi sosok yang terpuruk dan hanya terpaku pada pembalasan dendamnya kepada orang yang menularkan virus tersebut. Tokoh ini mengalami perkembangan hingga menjadi tokoh yang mau berusaha meraih mimpi dan tidak lagi terpaku pada dendamnya. 

Lain lagi dengan Best Friends Forever. Buku ini masih berhubungan dengan High School Paradise dan Love United, tapi saya belum membaca HSP atau Love United. Tokoh-tokoh dalam BFF memiliki masalah masing-masing, mereka disatukan dengan sepak bola. Karena menceritakan masalah masing-masing tokoh, masalah yang diceritakan tidak begitu mendalam, tapi drama yang disajikan sudah cukup. 

Lalu, ada After School Club dan Our Story. Dua-duanya membahas lingkungan sekolah dan anak-anak yang mempunyai masalah akademis. After School Club membahas sekelompok anak di suatu sekolah yang membutuhkan perhatian khusus karena nilai-nilai mereka buruk. Masalah semacam ini sepertinya ada di beberapa sekolah. Guru saya pun pernah mengadakan les semacam ini, bedanya pihak sekolah tidak terlalu ikut campur. Dalam ASC, anak-anak yang masuk ke kelas khusus tersebut merupakan anak-anak “ajaib” bagi si tokoh utama. Sekumpulan anak-anak aneh. Lama-kelamaan, dia pun menyadari mereka tidak aneh, melainkan memiliki cara sendiri untuk bersenang-senang. Beberapa dari mereka sebetulnya sudah bisa keluar dari kelas itu karena nilainya sudah membaik, tetapi mereka memilih tinggal bersama teman-temannya. Tak ketinggalan, drama percintaan khas anak sekolah pun hadir dalam buku ini: cowok keren vs cewek norak.

Tak jauh berbeda dengan ASC, Our Story pun membahas anak-anak yang bermasalah di sekolah. Bedanya, di Our Story, sekolahnya pun bermasalah. Sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak bermasalah karena hanya sekolah itu yang mau menerima mereka. Sekolah yang guru-gurunya sering tidak hadir, sekolah yang kepala sekolahnya tidak memedulikan masa depan murid-muridnya. Murid-murid perempuan di sekolah itu dikenal sebagai PSK, sedangkan laki-lakinya dikenal sebagai preman. Sebagai novel, tentu saja ada tokoh pahlawan, lagi-lagi, sebetulnya tokoh itu pun memiliki masalahnya sendiri yang kemudian dibukakan matanya melalui murid-murid di sekolah itu. Saya pernah membuat reviewnya di sini

Ada buku tentang masalah remaja yang ingin saya baca, tetapi belum ada terjemahannya, yaitu The Perks of Being a Wallflower karya Stephen Chbosky. Buku ini menceritakan Charlie, anak yang sangat pemalu dan sulit bersosialisasi. Itu semua karena bayang-bayang dua kakaknya yang sama-sama berprestasi. Dia juga memiliki trauma masa kecil. Lagu favoritnya adalah Asleep dari Mr. Smith. Lagu ini menceritakan seseorang yang insomnia, atau bisa juga diartikan sebagai keinginan bunuh diri. Charlie kemudian bertemu orang-orang yang bisa membantunya, yaitu, guru Sastra, Sam, dan Patrick. Buku ini diceritakan dalam bentuk surat-surat terbuka yang dibuat Charlie. Surat-surat itu jujur luapan hatinya. Kadang menyenangkan, kadang tidak jelas, kadang panjang, kadang pendek. 

Ketika membaca sinopsisnya, saya berpikir kadang saya merasa seperti Charlie. Saya bukan pemalu, saya rasa. Saya penakut. Hal yang sama-sama bisa membuat sulit bersosialisasi. Tidak perlu dibahas lebih jauh karena masalah saya sepertinya tidak sebesar Charlie dan trauma saya juga tidak terlalu terlihat. Saya juga mempunyai teman-teman yang cukup dekat dan bisa mengatasi masalah ini selama diperlukan dan saya perhitungkan ada keuntungan besar jika saya mengatasi rasa takut itu. Walaupun begitu, saya berharap buku ini diterjemahkan karena saya ingin mengenal macam-macam orang yang memiliki kecenderungan sulit bersosialisasi. 

Dislike

Buku nonfiksi umumnya lebih mudah untuk tidak saya sukai. Buku fiksi, sekali pun provokatif, hanya memberikan dampak provokasi terselebung. Berbeda dengan buku nonfiksi yang jelas dibuat untuk memprovokasi tanpa “malu-malu”. Saya tidak akan menyebutkan judul buku, pengarang, atau pun penerbit. Saya tidak berhak menghakimi buku tersebut karena belum membacanya sampai tuntas. Saya berhenti di halaman-halaman awal begitu tidak setuju dengan pendapat, bahkan mungkin penelitian, penulis. Walaupun penasaran, saya tidak bisa membaca buku-buku tersebut sampai selesai karena tidak memilikinya. Saya tidak mau merelakan uang untuk memperkaya penulis dan penerbit padahal saya tidak menyetujui buku-buku tersebut, lebih baik membeli buku fiksi.

Buku-buku tersebut merupakan buku diet. Penulis menunjukkan bahwa manusia tidak membutuhkan susu, bahkan susu dapat merusak kesehatan. Salah satu penyakit yang disebabkan susu adalah kanker usus. Susu sulit dicerna sehingga membebani usus. Susu yang berasal dari bahan hewani menyebabkan susu tidak cocok untuk manusia. Penulis tidak menyebutkan orang seperti apa yang tidak cocok minum susu sehingga saya berasumsi yang dimaksud penulis adalah semua orang. Ada juga yang mengatakan susu berbahan nabati pun tidak perlu karena manusia tidak membutuhkan susu.

Image source: The Grocer, edited by me.

Saya pecinta susu garis keras. Saya tidak mau mempercayai hal itu. Saya minum susu karena saya suka rasanya, susu apa pun itu. Sejauh ini belum ada susu yang tidak saya suka kecuali susu yang kurang rasa susunya. Saya pun tahu tidak semua orang bisa menerima susu, terutama susu hewani. Beberapa orang mengalami intoleransi laktosa. Beberapa orang tidak bisa mencerna protein susu. Bagi orang-orang itu, tentu saja susu merusak kesehatan. Bagi orang normal, saya belum pernah mendengar kasus kanker akibat susu. Kalau minum susu singa, mungkin pencernaan kita tidak bisa mencernanya. Saya sendiri merasa baik-baik saja minum susu. Susu sapi pun merupakan susu hewani yang kandungannya hampir sama dengan ASI, karena itu, menjadi susu paling umum. *ini kenapa jadi bahas susu*.

Saya tidak memiliki dasar ilmu kedokteran sedangkan ada penulis buku tersebut yang jauh lebih ahli di bidangnya daripada saya. Mungkin saya yang salah. Saya juga tidak bermaksud memprovokasi untuk tidak membaca atau membeli bacaan tersebut. Satu hal yang pasti, saya tidak mau berhenti minum susu.  

Hidup susu! Susu untuk hidup! *Harusnya ada produsen yang menjadikan saya ambassadornya. LOL*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar