Minggu, 12 April 2015

Forgotten - Cat Patrick





- Mengingat Masa Depan -



Judul buku: Forgotten
Penulis: Cat Patrick
Penerjemah: Berliana M. Nugrahani
Penerbit: Mizan Fantasy
Jumlah halaman: 336
Cetakan: Ke-1, Oktober 2012
ISBN: 9789794337202

"Bagiku, waktu mengurangi luka. Aku tidak tahu apakah ini juga berlaku bagimu. Setiap hari, semuanya baru bagimu." - hlm 252 (Mom to London)



Setiap pukul 04.33, memori London Lane mengalami restart. Semua hal yang telah dilaluinya hilang dari ingatan. Demi mengingat semuanya, London selalu membuat catatan. Dia harus membaca semua catatan setiap pagi agar tahu apa yang telah dilakukannya.

Walaupun tidak bisa mengingat masa lalu, London bisa mengingat masa depan. Dia bisa melihat hal yang akan terjadi. Namun, seperti halnya memori masa lalu lainnya, memori masa depan itu akan hilang setiap hal tersebut sudah terjadi. 

Saat terjadi alarm kebakaran palsu yang menyebabkan kepanikan, London bertemu Luke Henry, seorang siswa pindahan. Luke sangat memesona. Melihat London dengan pakaian yang membuatnya ditertawai, Luke meminjamkan jaketnya. Merasa tidak ingin mengingat Luke, London menulis catatan palsu bahwa ia menemukan jaket tersebut di suatu tempat dan esoknya dia memercayai catatan tersebut.

Luke tetap hadir dalam hidup London hingga London tidak mau membohongi diri sendiri. Mereka menjalin hubungan dan London menyimpan rahasia memorinya. Sayangnya, Luke tidak pernah ada dalam memori masa depan London sehingga setiap hari dia harus membaca ulang catatannya untuk mengingatkannya mengenai kekasihnya. 


"Baiklah." Aku terpaksa mengiyakan. "Aku tak akan memberitahumu. Tetapi kau tidak perlu mengingat masa depan untuk mengetahui bahwa pria dewasa hsnya menginginkan satu hal dari anak SMA." - hlm 93 (London to Jamie)


Memori masa depan tidak selalu membuatnya nyaman. London bertengkar dengan sahabatnya yang memiliki hubungan dengan guru karena tahu akan seperti apa hubungan itu. 


Itu menyadarkanku tentang aku menghargai kesediaan Jame untuk memercayaiku secara buta. Dia tidak bisa melihat apa yang akan terjadi. Bagi Jamie, perteman kami adalah perjudian. Namun, dia tetap mau menjadi temanku. Dia tetap mau melempar dadu. - hlm 307


Belakangan, London sering dihantui memori mengenai pemakaman. Ia belum bisa memastikan pemakanan siapa, tetapi memori itu sangat buruk. Dia melihat neneknya dalam pemakaman itu, tapi kemudian dia mendapat kabar bahwa neneknya sudah meninggal. Bukan hanya itu yang menganggunya, London juga ingat bahwa Luke akan terbunuh. 


 Kesederhanaan dari mengetahui apa yang belum terjadi ternyata tidak sesederhana itu. - hlm 242
 
* * *

Saya menemukan buku ini ditumpukan clearance sale beberapa waktu lalu. Saya rasa, masalah terbesar buku ini sampai harus ditumpuk di clearance sale adalah covernya. Covernya sangat eye-catching dalam arti negatif. Bukan bermaksud rasis, tapi sepertinya model dalam cover ini seorang pribumi, padahal buku ini buku terjemahan. Lebih aneh lagi, setelah membaca buku ini, saya tahu bahwa tokoh utamanya berambut merah. Rambut model cover asli memang tidak merah juga sih, tapi setidaknya pirang, tidak berbeda jauh. Lagipula, modelnya tidak terlalu jelas. Saya tipe visual dan karena cover buku ini paling mengganggu sejauh yang pernah saya lihat langsung, saya jadi rewel.

Untungnya, begitu saya membalik buku ini, saya menemukan sinopsis yang cukup persuasif (walaupun kalimat terakhirnya agak lebay). 

Pertama-tama, aku melihat senyumnya.
Wajahnya tampak tak asing ... Aku mengaduk-aduk memori yang tersisa di otakku. Wajah itu tidak kutemukan di mana pun.
Namun saat dia menyampirkan jaketnya di bahuku, tiba-tiba aku merasa begitu terlindungi ... Kehangatan tubuh dan aroma sabunnya, samar-samar membangkitkan kenangan tentang ... seorang pria sempurna.

Tepat setiap pukul 04.33, sebagian besar memori London Lane akan terhapus dan dia hanya bisa mengingat masa depannya. Untuk membantu ingatannya, setiap malam, sebelum tidur, gadis itu selalu meninggalkan catatan tentang kejadian hari itu untuk dirinya di esok hari.

Saat London bertemu dengan Luke Henry, kehidupannya mulai berubah. Nama itu tak pernah ada dalam catatannya, namun dia merasa mengenalnya. Luke selalu hadir setiap London membutuhkannya. Sejak pertemuan itu, London semakin sering dihantui mimpi aneh tentang keluarganya. Kepingan-kepingan mimpi itu telah membawanya pada sebuah rahasia yang selama ini tersimpan rapat. Rahasia besar yang akan mengubah jalan hidup London.

Sejak menonton film yang tidak akan saya sebutkan lagi judulnya, saya menghindari semua cerita yang berhubungan dengan memori. Entah ini yang disebut trauma atau bukan. Berhubung ada kata-kata "mengingat masa depannya" dan buku ini diterbitkan oleh lini fantasi, saya tidak terlalu takut. 

London Lane adalah gadis biasa. Dia kehilangan kemampuan mengingat masa lalu karena sebab yang biasa. Hal yang tidak biasa adalah, entah bagaimana sejak kehilangan kemampuan mengingat masa lalu, dia bisa melihat masa depan. Sayangnya, setelah hal dari memori masa depannya terjadi, memori itu pun hilang pada pukul 04.33. Jadi, dia bisa mengingat nama-nama orang, nomor loker, jalan ke rumah, semua karena dia mengingatnya dari masa depan. Karena itu, London tidak bisa mengingat Luke. Dia harus membaca catatan yang dibuatnya setiap pagi agar dia ingat bahwa dia memiliki pacar.

Sewaktu membaca buku ini, saya sempat terkesan dengan Luke. Dia mau saja berpacaran dengan orang yang tidak bisa mengenalnya setiap hari. Dia juga mau menceritakan hal yang sama berulang kali kalau hal itu tidak dicatat London. 

Kalau saya jadi Luke, saya pasti curiga kenapa saya tidak ada di memori masa depan London. Jangan-jangan putus di tengah jalan. Bisa juga mati cepat. Dan, betul saja, akhirnya London bisa mengingat Luke. Sayangnya, ingatan pertama tentang Luke justru menunjukkan bahwa Luke terbunuh.

Chemistry yang ada di buku ini sebagian besar dibangun oleh Luke. Mulai dari kencan pertama super romantis, Luke yang ngejar-ngejar London walaupun dicampakkan karena Luke membohongi London tentang dirinya, sampai Luke yang nggak mau putus walaupun tahu dia akan terbunuh kalau berada di dekat London. London sih mudah saja melupakan Luke, hanya perlu membuang semua benda yang mengingatkannya pada Luke, tunggu pukul 04.33, dan lupa seketika. Dan, itu pernah dia lakukan.



Buku ini saya rasa romance banget. Apa-apa Luke. Lagi-lagi Luke. Hal yang membuatnya agak bergeser dari romance adalah penglihatan London mengenai pemakaman. Beberapa kali penglihatan itu muncul, tapi simpulan mengenai siapa yang dimakamkan berubah-ubah. Bagian ini cukup thriller. Adegan saat London dan Luke benar-benar mengunjungi makam adalah bagian favorit saya. Sayangnya, bagian thriller semacam ini tidak terlalu banyak jadi terasa so-so.

Saya membaca buku seperti melewati jalan tol, lancar, kalau saja tidak ada beberapa typo. Saya menemukan beberapa, di antaranya kata “pecan” yang seharusnya “pekan” dan “peca” yang seharusnya “percaya”, tapi tidak banyak sehingga hanya sebatas gangguan singkat di jalan tol.

Tanpa bisa mengesampingkan covernya yang seperti itu, saya berikan rating 3 untuk buku ini. 


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar