Minggu, 05 April 2015

Film Adaptasi Novel Sicklit



Telat banget ya saya ngepost untuk hari ini. Yang penting masih "hari ini" deh. Hehe. 
Kali ini, saya ingin membahas film yang diadaptasi dari novel sicklit. Itu loh, novel yang salah satu pemeran utamanya sakit, sakit fisik atau pun sakit yang lain. Ada dua novel yang saya bahas. Dua-duanya sudah saya buat reviewnya, bisa dicari di Daftar Review. Selamat menikmati *dikira prasmanan*.

The Fault in Our Stars


The Fault in Our Stars (2014) Poster
Source: IMDb
Okay.
Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya John Green. Sebetulnya, saya merasa kurang puas dengan film ini, tapi begitu mendengar Ed Sheeran di akhir, saya justru merasa it was beautiful, seolah me-wrap film yang baru saya tonton. Saya mendengar lagu All The Stars sebelum menonton filmnya.
Selama ini, saya berpikir ekranisasi yang dibuat semirip mungkin dengan buku adalah hal terbaik. Semua seseuai dugaan. Adegan yang diinginkan ada dalam film akan memberikan kepuasan. Nyatanya, tidak demikian. Film ini sangat mirip dengan buku, bahkan sampai percakapannya yang sangat mendekati. Beberapa percakapan memang sepertinya manis untuk dikutip, tapi ternyata tidak semanis yang saya bayangkan. Kurangnya backsound yang menyertai percakapan mungkin berpengaruh. Dan, karena film ini sangat mirip buku, tidak ada kejutan. Bagi yang belum membaca bukunya, mungkin film ini akan meninggalkan kesan berbeda. Lagipula, film ini mendapat rating tinggi.

Akting kedua pemeran utama cukup memuaskan. Shailene Woodley tidak tampak seperti penderita kanker yang biasanya identik dengan lemah, letih, lesu, lunglai (itu bukannya anemia?). Dia seperti remaja biasa dengan tambahan kesulitan bernapas, dan . . . agak kucel dan tidak charming. Seperti di buku. Tapi, saya merasa image-nya tidak terlalu berbeda dengan saat dia memerankan Tris di Divergent.

Berbeda dengan pemeran Hazel Grace, pemeran Gus bisa saya rasakan perbedaannya. Ansel Elgort juga bermain di Divergent. Mungkin ini karena Ansel Elgort hanya sebagai pemeran pendukung di Divergent sehingga tidak terlalu sering terlihat. Tapi, Gus terlihat seperti Gus, termasuk ketika dia memainkan cara berpikir Gus yang bersemangat.

Walaupun film ini sicklit, jangan bayangkan film penuh air mata. Film ini seperti film remaja biasa, hanya saja tidak ada adegan sekolah dan hura-hura, fokus pada hubungan Hazel dan Gus. Film ini bukan heartbreaker (saya rasa). Saya lebih menangkap kesan optimis daripada kesan melow-melow yang biasa muncul di film adaptasi novel sicklit. Film ini menunjukkan kanker bukan penghalang untuk hidup menyenangkan.

Salah satu hal yang saya suka dari bukunya adalah adegan keluarga. Hubungan Hazel dan Gus dengan keluarga masing-masing tampak jelas. Versi film, keluarga Gus tidak terlalu disorot, tapi keluarga Hazel tetap mendapat porsi tepat. Saya bisa melihat kedekatan seorang anak (yang dying) dengan ibunya (yang harus bersiap kehilangan). 

Crying 100 Times (100-Kai Nakukoto)

To Cry A 100 Times-p1.jpg
Source: Asianwiki
Film ini diangkat dari novel Crying 100 Times karya Nakamura Kou. Langsung saja saya katakan, saya lebih menyukai versi film. 

Dalam film, diceritakan bahwa Shuichi Fuji, yang diperankan Tadayoshi Ohkura, mengalami amnesia. Hal itu tidak menjadi penghalang hubungannya dengan Yoshimi (Mirei Kiritani). Toh, mereka dua orang yang baru bertemu di pesta pernikahan teman lama. Mereka hanya dua orang yang baru saling mengenal secara tidak sengaja karena kenal dengan orang yang sama. Eits, tapi itu hanya bagi Shuichi. Yoshimi tidak memberitahu bahwa mereka sebelumnya pernah saling mengenal. Yoshimi ingin memulai sesuatu yang baru. Dalam novel, tidak ada amnesia. Fokus dalam novel adalah Shuichi yang menyupport Yoshimi dan tidak mau meninggalkannya. Tidak ada adegan Yoshimi menghindari Shuichi karena takut ditinggal akibat kankernya. Jadi, bagi saya, versi film lebih emosional.

Satu-satunya yang sangat saya kecewakan adalah tidak ada adegan permintaan kotak yang tidak bisa dibuka. Yoshimi meminta kotak yang tidak bisa dibuka, saya lupa tujuannya apa, tapi adegan itu berkesan sebagai permintaan unik orang yang sekarat. Adegan lamaran sambil membersihkan karburator juga kurang romantis. Walaupun lamaran aneh, adegan tersebut terasa romantis di novel. Sebagai pengganti keromantisan adegan itu, adegan menjelang akhir cukup menyesakkan. Adegan apa itu? Saya tidak akan memberi tahu. :P

Saya menyukai akting Mirei Kiritani, juga Tadayoshi Ohkura, hanya saja . . . kurang charming. Menonton film Jepang memang sebaiknya tidak berharap pemain-pemain yang memanjakan mata seperti menonton film Barat atau Korea. Mungkin mereka bermaksud menyesuaikan serealistis mungkin karena realitanya, jarang orang biasa yang membuat mata enggan berpaling. Sebagai penonton, tetap saja saya mengharapkan pemain yang bisa memanjakan mata. Make up mareka bisa dibuat lebih indah. 

Itu celoteh, atau bisa dibilang keluh kesah, saya mengenai film-film adaptasi novel sicklit. Bagi saya, menonton film sicklit menjadi semacam terapi jiwa *halah, lebay*. Kadang, saya ingin menangis, tapi tidak bisa, jadi menonton film semacam itu (kadang) bisa membantu. 

Mari, berkeliling blog tim Romance! ^^
 


10 komentar:

  1. Belum liat yg crying 100 times sih. Tapi yg TFIOS, aku kurang suka filmnya soalnya rada bosen.. apalagi bukunya. Fyi, aku baca tfios ver terjemahaan... dann.. gilaa... dibawah ekspetasiku. Singkatnya, tfios nggak 'aku'

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukunya sih aku suka.
      kita beda selera. :)

      Hapus
  2. Aku udah nonton TFIOS dan memang fotokopi banget dengan yang ada di buku soalnya sepanjang proses syuting kabarnya John Green itu standby di lokasi syuting. Jadi ya dia bisa mantau kira-kira filmnya sesuai gak dengan bukunya.

    Btw, penderita kanker nggak selalu tampil dengan image yang sakit-sakitan loh. Mereka juga bisa tampil sehat. Malah ada banyak penderita kanker kita nggak tau klo ternyata dia penderita kanker. Sinetron dan film aja yang sering melebih-lebihkan tampilan penderita kanker seolah mereka tuh nngak bisa tampil cantik / ganteng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pantesan agak "krik krik". memang sengaja disamain plek ternyata.
      iya sih. anak-anak leukimia juga lincah-lincah. kalau sinetron dan film mereka dibuat begitu supaya dapat kesan dramatis.

      Hapus
  3. jadi penasaran dengan crying 100 times..
    jujur untuk the fault in our star aja aku belum baca novelnya tapi filmnya cukup membuatku gak move on hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. tfios memang sebetulnya bagus buat yang belum baca bukunya atau mengharapkan film yang sama persis. kapan-kapan coba baca bukunya. :)

      Hapus
  4. Menurut kakak 3600 detik bagus gak versi filmnya? kan sicklit juga tuh

    BalasHapus
  5. Assalamu'alaium beijing.... sicklit juga ^^

    BalasHapus
  6. Udah dari kapan hari ya mau nonton TFIOS tapi nggak kesampean mulu. Syebel! :(
    Terkadang bete sih baca or nonton yang tema sicklit, apalagi yang sudah dibeberkan dari awal ada yang penyakitan, karena udah ketebak kan 95% si dia bakal mati. Tapi okelah aku masih mau menikmatinya asalkan itu bisa bikin aku banjir, aku nggak bakal nyesel udah ngelahapnya. Hehe.

    BalasHapus
  7. Aku belum baca novel ini seluruhnya, jadi susah membandingkan. Tapi filmnya sukses bikin agak berkaca-kaca 8malu mengakui kalau sampai nangis* xD

    BalasHapus