Selasa, 31 Maret 2015

You Are The Apple of My Eye - Giddens Ko




-  Untuk Selalu Muda -




Judul buku: You Are The Apple of My Eye
Penulis: Giddens Ko
Penerjemah: Stella Angelina dan Fei
Penerbit: Penerbit Haru
Jumlah halaman: 350
Cetakan: Ke-1, Februari 2014
ISBN: 9786027742284

Kau sangat kekanak-kanakan – Shen Jiayi
Sedikit pun kau tidak berubah, nenek yang keras kepala – Ke Jingteng

Semua berawal saat Ke Jingteng, seorang siswa pembuat onar, dipindahkan untuk duduk di depan Shen Jiayi, supaya gadis murid teladan itu bisa mengawasinya. Ke Jingteng merasa Shen Jiayi sangat membosankan seperti ibu-ibu, juga menyebalkan. Apalagi, gadis itu selalu suka menusuk punggungnya saat ia ingin tidur di kelas dengan pulpen hingga baju seragamnya jadi penuh bercak tinta. Namun, perlahan Ke Jingteng menyadari, kalau Shen Jiayi adalah seorang gadis yang sangat spesial untuknya.
Karena masa mudaku, semua adalah tentangmu..

* * *

Sudah sangat lama sejak saya menonton film yang dibintangi Zhendong Ke dan Michelle Chen ini. Awalnya, saya ingin segera membaca novel ini segera setelah saya menonton film adaptasinya, tetapi saya berpikir ulang untuk langsung membaca novel sedangkan ingatan film masih segar. Film adaptasi, yang memiliki judul lain Na xie nian, wo men yi qi zhui de vv hai (literally "Those Years, The Girl We Went After Together" (Wikipedia)), ini disutradarai oleh Giddens Ko. Karena penulis novel dan sutradara sama, semula saya mengira akan menemukan cerita novel yang sama persis seperti dalam film.

Saya tidak bisa memberikan sinopsis tanpa menyebabkan kebocoran di sana-sini. Sinopsis versi cover belakang buku sepertinya sudah cukup mewakili. Walaupun begitu, sinopsis di atas hanya menggambarkan romantika antara dua tokoh. Sebetulnya, buku ini menceritakan hal lainnya, yaitu persahabatan.

Shen Jiayi adalah murid pintar yang disukai banyak orang. Teman-teman Ke Jinteng pun mengejarnya, tapi persaingan mereka tidak membuat persahabatan berantakan. Cara-cara yang digunakan Ke Jinteng pun tidak akan menghancurkan persahabatan dari luar karena dia bergerilya, tampak menyupport teman-temannya padahal dia sedang menjatuhkan satu per satu lawan. 

Perempuan yang muncul dalam buku ini pun bukan hanya Shen Jiayi. Ada Li Xiaohua yang dikejarnya saat SMP sampai Li Xiaohua memutuskan move on. Saat dekat Li Xiaohua itulah saya merasa tidak yakin dengan ingatan saya. Apakah tokoh utama perempuan dalam film benar bernama Shen Jiayi? Karena sepertinya dalam film Ke Jinteng hanya menyukai satu tokoh perempuan dan seingat saya namanya Shen Jiayi, tetapi di novel, terlihat bahwa Li Xiaohua adalah orang pertama yang dikejarnya dan dia lebih menyukai Li Xiaohua. Merujuk pada sinopsis, sepertinya saya tidak salah. Saya pun berpikir tidak semua bagian novel diceritakan dalam film.

Buku ini adalah semiautografi. Buku ini didedikasi penulis untuk mengenang masa mudanya yang menurutnya pantas dikenang. Saya sudah menonton film adaptasi buku ini lama sebelum membaca buku ini. Setelah menonton, saya ingin segera membaca bukunya, tapi setelah dipikir-pikir lagi, di saat bersamaan, saya pun takut membaca buku ini. Hal ini terutama karena ending film yang sangat manis sekaligus membuat hati ingin menangis, mengutip perkataan salah satu orang yang membuat rekomendasi pada bagian akhir buku ini.

Cerita dimulai saat SMP. Berbeda dengan film yang dimulai saat SMA. Kejadian dalam film merupakan perpaduan kejadian di SMP dan SMA yang dibuat menjadi kejadian SMA. Awal membaca buku ini, saya masih terpengaruh film. Saya menebak-nebak cerita selanjutnya berdasarkan film. Tidak semua cerita dalam novel dituang dalam film, jadi saya menebak kapan adegan tertentu akan muncul.

Saya setuju dengan orang-orang dalam buku ini, baik bagian cerita maupun bagian rekomendasi, yang mengatakan bahwa penulis berbakat. Semua dibuka dalam buku ini. Kenakalan-kenakalan masa muda disampaikan penulis dengan cara yang membuat berpikir bahwa hal itu adalah hal manis yang layak dikenang. Mengingat masa muda penulis yang penuh semangat bahkan untuk hal-hal tidak wajar, saya merasa iri dengan penulis. Saya, yang masih berada dalam masa yang masih bisa dikategorikan muda, merasa masa muda saya sia-sia karena tidak pernah nakal. Jangan-jangan saya seperti Shen Jiayi, tapi kan saya masih sering kekanak-kanakan, hanya saja tidak nakal.

Melalui buku ini, penulis menyampaikan bahwa anak nakal pun bisa sukses. Penulis memaparkan perkembangan yang terjadi pada teman-temannya. Perkembangan setiap tokoh dibuat secara jelas. Bukan hanya tokoh utama, melainkan tokoh-tokoh pendukung.  Mereka berawal dari sekumpulan anak nakal yang memperebutkan seorang gadis, menjadi orang-orang yang sukses bahkan bisa melanjutkan studi di Amerika dan bekerja di perusahaan besar. Melihat tidak adanya persaingan yang membuat mereka bermusuhan, membuat saya berpikir mereka benar-benar orang yang menikmati masa muda sekaligus bergerak untuk masa depan.

Penulis juga menunjukkan bahwa memikirkan cinta di masa muda tidak selamanya buruk. Dia saja menjadi semangat belajar gara-gara perempuan. Pilihan-pilihan dalam hidupnya pun dipengaruhi perempuan-perempuan yang disukainya. Semua pilihan itu bukan pilihan yang bisa diraih sembarang orang walaupun pada akhirnya dia memilih jalannya sendiri. Setidaknya, kisah cinta di masa muda sudah berhasil membuat seseorang menjadi bersemangat dan berkembang dari seorang anak nakal dengan peringkat rendah menjadi seorang yang mau bersaing di bidang akademis.

Dalam film, Ke Jinteng hanya menyukai Shen Jiayi, sedangkan dalam buku, penulis lebih dulu menyukai perempuan lain. Namun, perasaan sukanya terhadap perempuan lain tidak sebanding dengan perasaan sukanya terhadap Shen Jiayi. 

Ketika menyukai dua perempuan dalam waktu bersamaan, penulis membuat hal itu tidak tampak serakah. Dia bisa membagi perasaannya dan tidak berniat memiliki keduanya sekaligus. Saat Shen Jiayi mengatakan menyukainya dan dia sudah memiliki pacar, dia tidak tergoda kembali pada Shen Jiayi karena sudah berkomitmen menyerah terhadap Shen Jiayi walaupun jauh di dalam hati masih menyukai perempuan itu.

Rasanya lucu mengingat saya menyukai tokoh utama yang ternyata adalah sosok nyata. Saya ingin mengatakan dia too good to be true, tapi kenyataan dia nyata dan dia adalah tokoh yang membuat novel ini. Sebetulnya, karena ini semiautobiografi, saya tidak bisa menentukan dia benar-benar seperti itu atau tidak.

Saya agak kecewa ending novel berbeda dengan film, tapi ending film adalah ending yang dibuat berdasarkan imajinasi penulis, jadi sepertinya ending novel adalah akhir yang nyata.

Kalimat-kalimat mengenai arti menyukai bertebaran di buku ini. Saya tidak bisa menyebutkannya satu per satu. Setiap kalimat bisa membuat saya berpikir mengenai gagasan yang sebelumnya saya pahami.  Saya rasa, penulis adalah orang yang memikirkan sesuatu secara mendalam dan menyeluruh. Itulah kenapa dia bisa menjadi penulis, kan?

Ini beberapa kalimat yang bisa saya kutip:


“Huh, bukankah itu hanya omong kosong? Meskipun aku sangat pintar, tapi aku taku menghadapi kepintaranku sendiri.” – hlm. 17 (Ke Jinteng to Shen Jiayi)

Seorang murid, meskipun berbakat menggambar, musik, karate, menembakkan karet gelang, dan lain-lain, kalau nilai pelajarannya tidak cukup bagus, akan dianggap “tidak bertanggung jawab”, juga dianggap “pembangkang”. Sebaliknya, seorang murid yang memiliki nilai baik, walaupun hanya menonjil dalam satu bidang studi tertentu, sudah dianggap gurunya “sangat hebat, bahkan yang ini pun bisa!”. Hal itu menjadi sesuatu yang berharga. – hlm. 22

Dua orang gadis di masa mudaku, keduanya membuatku menyadari satu hal ini... hanya dengan ketekunan, seseorang baru bisa menikmati hasil yang indah. Hanya dengan terus tekun berusaha, seseirang baru bisa melihat dunia yang tidak terbayangkan sebelumnya. – hlm. 64

Kalau kau membenci saingan cintamu, kau tidak hanya membencinya, tetapi juga tidak bisa mengerjakan hal yang lain. Ini hanya membuktikan kau tidak sebaik dia. Bagaimanapun, lebih baik bersaing dalam hal perasaan saja. – hlm. 110

Namun bagaimanapun, tidak ada orang yang memiliki kualifikasi untuk menertawakan mimpi orang lain, tak peduli apa pun tujuan sebenarnya orang itu mengungkapkan mimpinya pada orang lain. – hlm. 136

Dan ini salah satu bagian favorit saya (hlm 290-291):


After all, saya memberikan 5 Happy untuk masa muda yang diberikan buku ini.

Rating:


Diikutsertakan pada:
Tema: Adaptasi


1 komentar:

  1. ahhh emang susahnya nonton film setelah baca buku atau sebaliknya tuh kita bakal selalu banding2in ya XD

    BalasHapus