Sabtu, 14 Maret 2015

Sapporo no Niji - Hapsari Hanggarini







- Setiap Pelangi Mempunyai Warna -


Judul buku: Sapporo no Niji
Penulis: Hapsari Hanggarini
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: Ke-1, 2012
Jumlah halaman: 226
ISBN: 9789797805609

Lala sangat ingin memiliki pacar orang Jepang. Ia tidak menyangka keinginan itu bisa cepat terwujud tidak lama setelah ia tiba di Sapporo. Seorang cowok Jepang bernama Hiroshi selalu memberinya perhatian lebih. Tidak ada alasan baginya untuk tidak jatuh cinta pada Hiroshi. 

Satu-satunya hal yang mengganjal adalah Hiroshi selalu melibatkan Alvin, mahasiswa asal Indonesia, dalam segala kegiatan mereka berdua. Bukan hanya kehadirannya menganggu waktu berdua Lala dengan Hiroshi, Alvin juga sering mengeluarkan sindiran-sindiran kepada Lala. Itu semua dilakukan Alvin karena dia pun menyukai Lala. Sayangnya, hati Lala sudah terlanjur dipenuhi Hiroshi. Ketika Alvin memberinya perhatian pun tidak pernah digubris.

Tidak hanya Hiroshi orang Jepang yang mendekati Lala, lama berselang, muncul seseorang bernama Daigo. Kedekatan Lala dan Daigo memicu kemarahan Hiroshi. Sebelumnya, Hiroshi tidak pernah marah untuk alasan apa pun. Cemburu? Mengapa Hiroshi hanya cemburu pada Daigo, tetapi tidak pada Alvin? Apakah bagi Hiroshi, Alvin tidak mungkin menyainginya?

Lala tidak tahu, Hiroshi dan Daigo berbagi masa lalu kelam. Lala juga tidak tahu, alasan Hiroshi selalu melibatkan Alvin di antara mereka.

* * *
Buku ini hasil iseng-iseng berhadiah. Saya bahkan lupa mengikuti giveaway sewaktu ada notifikasi Facebook dari Kak Orinthia Lee yang menyatakan saya memenangkan giveaway berhadiah buku ini dan I'mpossible. Sepertinya mengikuti giveaway sebaiknya ikuti lalu lupakan supaya menang, ya. Hehe.

Dari usia tokoh, buku ini bisa termasuk new adult, tapi dari segi cerita buku ini sepertinya lebih cocok dikategorikan young adult. Saya merasa kisah cinta Lala seperti kisah remaja yang dikejar-kejar banyak cowok.

Tokoh Lala masih memiliki sifat seperti remaja. Galau-galaunya, cara menanggapi sesuatu, saya merasa Lala masih remaja. Mungkin ini pengaruh keluarga karena dia anak bungsu dengan dua kakak laki-laki.

Mungkin karena saya perempuan dan lebih mudah tertarik pada tokoh laki-laki. Saya orang yang mudah tidak menyukai tokoh perempuan. Sayangnya, tokoh lala termasuk kategori tersebut. Saya merasa Lala banyak maunya. Mungkin tidak banyak kalau keinginannya  memiliki pacar yang punya etos kerja sebesar orang Jepang, berkulit putih, bermata sipit termasuk "tidak banyak". Saya juga tidak suka caranya menanggapi Alvin. Hey, kalian itu satu tanah air, terserah mau punya pacar orang Jepang, tapi bukan berarti orang Indonesia nggak dianggap. Waktu dia mendapat perhatian dari tiga cowok sekaligus, dia merasa senang. Iya sih, statusnya dengan Hiroshi nggak jelas, tapi kok malah jadi kayak PHP? *tepok jidat*

Kalau mengata-ngatai tokoh perempuan kok saya lancar banget? Jangan-jangan saya juga kayak gitu. *horror* Padahal saya sudah berusaha untuk tidak menuliskan sesuatu dengan cara yang sangat menyakitkan begitu.

Tokoh yang bisa menarik perhatian saya justru Alvin. Alvin adalah tokoh yang paling jelas perjuangannya. Kalau daftar kriteria pacar impian Lala diberi nilai satu setiap kriteria, Alvin memang kurang dua poin dari dua pesaingnya: kulit putih dan mata sipit. Untung saja Alvin tidak menyerah sampai bagian akhir jadi dia bisa terus diceritakan dalam buku ini.

Ide cerita buku ini sebetulnya menarik. Saya selalu menyukai kisah yang berkaitan dengan masa lalu. Saya menyukai bagian flashback ketika masa lalu kelam kembali menghantui. Saya juga menyukai ketika cerita bergerak maju tetapi tokoh masih memikirkan masa lalu. Sayangnya, bagian mengenai masa lalu dalam buku ini saya rasa kurang greget, mungkin karena bukan masa lalu tokoh utama. Sebetulnya, menurut saya sebagai pembaca, bukan masalah menggali cerita tokoh lain selama bisa menguatkan cerita dan membuat pembaca betah sekalipun tujuan sebenarnya bukan mengenai hal itu. Lagipula, latar Sapporo sepertinya cocok untuk cerita-cerita seperti itu karena kota tersebut tidak seramai Tokyo, juga lebih terkesan dingin (suhunya) dibanding Tokyo.

Saya tidak bisa berkomentar mengenai Sapporo. Kalau saya berkomentar, nanti dibilang sok tahu. Hehe. Berdasarkan biodata di bagian belakang buku, penulis pernah tinggal di Sapporo. Jadi, tidak perlu diragukan mengenai deskripsi kota itu. Penulis juga menyelipkan cara-cara survive di kota tersebut melalui tokoh utama. Jadi, kalau suatu saat saya bisa ke Sapporo, saya bisa mengikuti panduan dari buku ini.

Dengan beberapa bagian yang bisa saya sukai, mohon maaf karena saya masih tidak bisa memberikan rating tinggi. Saya hanya bisa memberikan 2,5, karena pembulatan menjadi 3. Review ini murni pendapat pribadi, jadi mungkin selera kita berbeda, terutama selera terhadap tokoh perempuan.


Rating:




Submitted for:

Support Local Author

Freebies Time



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar