Rabu, 18 Maret 2015

A Cup of Tea: Menggapai Mimpi - Herlina P. Dewi, Reni Erina, dkk





Judul buku: A Cup of Tea: Menggapai Mimpi
Penulis: Herlina P. Dewi, dkk
Penerbit: Stiletto Books
Jumlah halaman: 210
Cetakan: Ke-1, Februari 2012
ISBN: 97860296002692



Setiap orang punya cara dan jalan untuk menggapai mimpinya. Untuk itulah “A Cup of Tea - Menggapai Mimpi” hadir, mempersembahkan kisah inspiratif yang diuraikan oleh 20 penulis. Di dalam buku ini, ada banyak suntikan motivasi yang layak untuk kita serap. Persoalan demi persoalan, kendala yang menghadang, serta kekurangan di sana-sini, adalah bagian dari proses yang harus dilewati.

Semua mencoba berbagi kisah agar bisa berguna bagi orang lain. Semangat, tekad dan kerja keras yang melahirkan kekuatan adalah persembahan motivasi bagi pembaca sekalian. Dan mungkin kita tak menyadari, bahwa kekuatan mimpi bisa begitu dahsyatnya. (Sumber: Goodreads)



* * *
Selama ini aku terlalu mengagungkan mimpi yang kurasa harus kuraih dengan sepenuh jiwa. Aku lupa. Tuhan memberikan kesempatan, sekaligus tanggung jawab di setiap keputusan yang kuambil. – hlm. 172 (Etyastari Soeharto)


Buku ini sudah terbang ke luar Pulau Jawa sebagai hadiah giveaway beberapa waktu lalu. Walaupun begitu, rasanya sayang kalau tidak membuat review buku ini.

Buku ini berisi kisah-kisah inspiratif yang ditulis oleh 20 kontributor. Semua menceritakan kisah perjalanan mereka (atau orang yang menginspirasi mereka) dalam menggapai mimpi. Setiap pergantian kisah diselingi perenungan kisah sebelumnya. 

Sebagian besar mimpi mereka tidak jauh berbeda. Sebagian besar bermimpi menjadi penulis. Pembedanya adalah jalan yang ditempuh. Perbedaan jalan menghasilkan makna yang berbeda. Satu hal yang sama dalam setiap impian adalah adanya rintangan. Para kontributor menunjukkan kemampuan dan ketahanan mereka dalam menghadapi rintangan, termasuk rintangan dari diri sendiri seperti putus asa dan ketidakyakinan. 

Tidak semua mimpi yang terdapat dalam buku ini merupakan mimpi besar. Salah satu mimpi bahkan bagi saya adalah hal biasa yang saya lakukan setiap dua-tiga bulan sekali: membeli komik Detektif Conan. Walaupun begitu, itulah mimpi. Bagi saya mungkin hal itu sepele, sekadar hobi dan melepas rasa penasaran, tapi bagi orang lain hal itu adalah sesuatu yang patut diperjuangkan karena rasa cintanya dan tentunya, rintangan yang harus dihadapi. Kisah tersebut mengingatkan saya bahwa hal yang kita miliki, kadang merupakan hal yang diperjuangkan orang lain, sehingga sudah sepatutnya disyukuri, bahkan seandainya sebetulnya kita tidak ingin memilki hal tersebut. 

Buku ini sepertinya tidak dibuat untuk bisa selesai dalam sekali baca. Seperti halnya menikmati secangkir teh yang lebih nikmat disesap sedikit demi sedikit daripada dihabiskan dalam sekali teguk. Berusaha membaca buku ini dalam sekali duduk justru membuat saya jenuh. Setelah saya tunda beberapa waktu, lalu saya baca lagi, rasanya berbeda, terutama kalau dibaca saat sedang merasa berada di bawah. 

Sayangnya, kesalahan penulisan atau pengetikan masih tersebar dalam buku ini. Tidak banyak memang, tetapi akan lebih baik kalau diperbaiki. Hal itu bisa menganggu pembaca apalagi dengan mengingat sebagian besar kontributor adalah penulis yang mungkin sudah biasa melakukan self-editing pada berlembar-lembar karya mereka. 


Impian merupakan sumber energi yang tidak terbatas, maka aku kembali mencari sumber energi setelah patah hati. – hlm. 147 (Evi Sri Rezeki)


Rating:

1 komentar: