Sabtu, 28 Februari 2015

The Red Pyramid (The Kane Chronicles #1) - Rick Riordan




- Hitam dan Merah yang Terbalik -



Judul buku: The Red Pyramid (The Kane Chronicles #1)
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Aditya Hadi Pratama
Penerbit: Mizan Fantasi
Jumlah halaman: 5222
Cetakan: Ke-2, April 2014
ISBN: 9789794336526



Carter dan Sadie Kane adalah kakak-beradik yang hanya bertemu dua hari dalam setahun, sehari di musim dingin dan sehari di musim panas. Sejak kematian ibu mereka, Carter ikut ayahnya -Julius Kane, yang seorang arkeolog, keliling dunia. Sadie tinggal bersama kakek-nenek mereka di London karena putusan pengadilan. 

Hari itu, mereka mengunjungi sebuah museum. Walaupun hanya bertemu dua hari dalam setahun dengan Sadie, ayah mereka ingin melihat sebuah batu yang dipamerkan museum tersebut. Dengan akses eksklusif dari pemilik museum, mereka mengunjungi museum saat museum sudah tutup. Ketika pemiliki museum pergi untuk mengambilkan berkas yang dibutuhkan Julius, Julius meminta anak-anaknya mengunci pemilik museum. Mau tak mau mereka mengikuti perintah Julius.

Belum sempat mereka sampai di ruangan pemilik museum, cahaya aneh terpancar dari tempat pameran. Carter dan Sadie pun kembali ke ruangan itu. Batu itu–Baru Rosetta–meledak.
Manusia Api tiba-tiba muncul. Segalanya menjadi kacau. Manusia Api itu berhasil mengurung Julius di peti mati yang lenyap masuk ke bumi walaupun Julius sempat melakukan perlawanan.

Segala kenyataan menyusul setelah kejadian itu. Seorang pria yang mengaku sebagai paman Carter dan Sadie yang bernama Amos. Keluarga mereka adalah keturunan firaun dan mereka adalah penyihir. Dewa-dewi dan mitos-mitos tiba-tiba menjadi nyata. 

Pecahnya Batu Rosetta menyebabkan lima dewa-dewi bangkit. Dua di antaranya, Horus dan Isis, menjadikan Carter dan Sadie tubuh perantara mereka. Osiris, masuk ke dalam tubuh Julius dan terkubur bersamanya. Set, Manusia Api, kabur dari lokasi kejadian dan membangun Piramida Merah sebagai tubuh perantaranya. Dia berencana menghancurkan Amerika Utara dan menguasai dunia. 

Carter dan Sadie harus menemukan ayah mereka. Mereka juga harus menyembunyikan diri dari Dewan Kehidupan yang ingin membunuh mereka karena tubuh mereka dijadikan perantara dewa. Mereka juga tidak boleh tertangkap Set atau pun pengikutnya. 

* * *
Saya menyukai film Percy Jackson, tapi belum membaca bukunya. Karena sudah menonton filmnya, saya jadi malas membaca bukunya. Hehe. 

Pola novel ini tidak berbeda jauh dengan film. Orangtua ditangkap. Hubungan dengan dewa. Tempat-tempat yang harus dikunjungi sebelum bertemu musuh utama. Saya tidak bisa membandingkan The Kane Chronicles dengan Percy Jackson karena saya belum membaca Percy Jackson, tapi buku ini bagi saya sudah “wow”.

Penceritaan dalam buku ini tidak bertele-tele. Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Carter dan Sadie dibuat seolah sedang melakukan rekaman untuk menceritakan petualangan yang telah mereka alami. Dengan kedua narator yang masih belasan tahun, cara bercerita mereka tidak terkesan melebihi usia. 

Karakter Sadie dalam buku digambarkan lebih cepat belajar daripada Carter, kakaknya. Dia juga sangat sensitif terhadap hal-hal tak kasat mata. Karakter Carter digambarkan memiliki kemampuan sihir yang berkembang lebih lambat dalam beberapa hal dibandingkan adiknya, tetapi dia bisa menggunakan pedang. Sihir yang dikuasai Carter adalah sihir pertarungan. Keduanya memiliki kemampuan berbeda yang tidak bisa disamakan. 

Sebagai dua orang yang berbeda dalam hal pendidikan dan sosial, terlihat juga pada Carter dan Sadie. Carter tidak pernah bersekolah. Dia hanya belajar dari ayahnya, itu pun tidak semua mata pelajaran. Dia tidak mengenal orang dalam waktu yang lama karena selalu berpergian. Sadie bersekolah di sekolah umum dan memiliki teman, seperti remaja biasa. 

Perbedaan tersebut terlihat dari cara keduanya berinteraksi. Sadie suka menggoda kakaknya ketika bagian Carter yang memberikan narasi, tetapi tidak sebaliknya. Sadie juga lebih mudah mengutarakan pikirannya walaupun kadang terlihat defensif. Carter yang banyak belajar dari ayahnya lebih memahami mengenai hal-hal yang berkaitan dengan mitologi Mesir. Beberapa kali narasinya disertai pengetahuannya, sedangkan narasi Sadie lebih menjelaskan kejadian yang dia alami saja.  

Informasi mengenai dewa-dewi, sihir, dan sejarah tidak ditumpahkan secara berlebihan. Porsinya pas untuk menambah pengetahuan dan membawa pembaca ke dunia mereka. Salah satu informasi itu adalah persepsi mengenai hitam dan merah yang sekarang banyak digunakan adalah terbalik. Hitam selalu dikaitkan dengan kematian. Hitam sebenarnya melambangkan kehidupan, kesuburan, karena tanah di sekitar aliran sungai berwarna hitam. Merah melambangkan kematian, kekeringan, sebagai simbol dari gurun.

Bagian yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Sadie berbicara dengan Anubis. Anubis bertanya mana yang akan Sadie pilih, menyelamatkan dunia atau ayahnya? Saya membayangkan saya harus memilih salah satu. Secara logika, jika memilih menyelamatkan ayah, dunia mungkin terabaikan. Jika dunia terabaikan, dunia akan mudah dikuasai penjahat dan dalam sekejap bisa hancur. Dengan begitu, tidak ada lagi yang tersisa di dunia, termasuk ayah. Di sisi lain, dunia tanpa ayah apakah ada artinya? Mungkin di dunia sana, ayah bangga melihat anaknya menyelamatkan dunia. Dunia yang telah diselamatkan pun bisa berbagi kebahagiaan. Sekali lagi, kebahagiaan apa yang bisa dibagi ketika yang ingin dimiliki tidak pernah bisa tergapai? 

Akhir cerita buku ini memiliki kejutan. Tebakan saya tidak ada yang benar. Kalau saya masih sekolah dan memilki loker dengan nomor kombinasi, mungkin saya akan berharap saya menemukan sesuatu yang disimpan Carter dan Sadie di sana. 

Saya tidak bisa membagikan kutipan dari novel ini karena saya lupa menandai sewaktu lari-lari berpetualang bersama Carter dan Kane.
Rating:

1 komentar: