Kamis, 12 Februari 2015

[Opini] Kok Mirip?


 

Saya terserang penyakit dua huruf, huruf k-2 dan huruf ke-20. Seharusnya saya mengerjakan laporan, tapi karena terserang penyakit itu, saya memilih membuat opini. 

Dari sekian sedikit novel yang saya baca, saya perhatikan beberapa karakter tokoh utama perempuan memiliki kesamaan. Karier baik dan otak encer. Karena karier baik dan otak encer itu, akan timbul suatu persepsi bahwa pasangan mereka harus memiliki karier "aman" dan mapan. 

 Wajar sih perempuan berpikir seperti itu. Mana ada perempuan yang mau karier dan kemampuan finansialnya yang sedang di atas angin diobrak-abrik oleh lelaki yang karier dan kemampuan finansialnya entah masih berada di level mana. Walaupun begitu, lama-lama saya bosan dengan excuse semacam itu.

Kalau dibuat sebaliknya gimana? Cowok mapan dan cewek yang tujuan hidupnya nggak jelas. Nggak mungkin, ya? Cowok bisa baik-baik saja dengan hal itu kayaknya.

Kebanyakan, karakter cowok dengan hidup nggak jelas itu berprofesi sebagai artis/musisi. Karier keartisan memang bukan hal yang pasti. Kadang terang, bisa juga redup dalam sekejap. Jadi, mungkin karier itu yang paling mudah dimati-hidupkan seperti lampu. 

Coba sesekali karakter cowok dibuat sebagai calon pengusaha. Pengusaha yang baru merintis karier. *bikin aja novel sendiri*. Saya ingin tahu bagaimana jadinya si cewek. Mungkin dia mau membantu, mungkin juga menyepelekan.

Selain masalah karier, kemiripan lain yang sering saya temui adalah dari segi fisik. Ini yang dulu paling membuat saya gatal. Tokoh-tokoh utama perempuan dibuat bertubuh mungil. Memang sih, orang bertubuh mungil cocok dibuat menjadi tokoh yang cerewet, berani mati, bisa juga dibuat rapuh. Tapiiii... Saya paling susah membayangkan cewek bertubuh mungil.

Saya sendiri tidak tahu alasan saya sulit membayangkan karakter perempuan mungil. Mungkin karena saya tidak melihat perempuan mungil setiap hari. Perempuan yang setiap hari saya lihat memang kecil tapi tidak mungil (?). 

Untungnya, karena terus-menerus harus membayangkan tokoh semacam itu, sekarang saya lebih bisa membayangkannya. Kalaupun kadang sulit, bisa saja diganti dengan lawannya yang dibuat menjadi lebih besar. Tidak sebesar Thor juga kok. 

Saya masih perlu alasan kenapa para penulis menyukai cewek chibi-chibi. Yang tidak chibi juga kan tetap perempuan.

Simpulan dari opini ini saya rasa tidak ada. Opini ini hanya sebatas unek-unek saya karena mendapati tokoh yang mirip-mirip. Kalau pengin antimainstream, mungkin harusnya saya menciptakan sendiri tokoh saya. Tapi kan, saya belum sekreatif para penulis itu. *terus kenapa protes sama tokoh mereka*


10 komentar:

  1. Karena di dunia ini gak ada ide yang bener-bener baru. kali aja begitu :)

    BalasHapus
  2. Sebenarnya banyak penulis yang idenya tidak biasa, namun tidak pandai menceritakan makanya bukunya tidak best seller.

    Aku sering menemukan buku2 yang tidak best seller tapi pny alur menarik hanya pengemasannya yang tidak rapi.

    Buku2 indonesia memang banyak kesamaan ide, sprt sinetronnya. Beda pemain, ceritanya itu-itu saja. Kemarin sempat baca bahwa drama korea jg mulai dikritik publik krn ceritanya yang begitu2 saja, krn itu bbrp drama korea terbaru tahun ini menampilkan ide2 cerita segar yang baru.

    Sindrom yang sama juga mulai muncul di barat sana, ceritanya mulai mirip2 terutama serial fantasynya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, justru yang nggak best seller kadang idenya menarik, tapi pengemasannya yang masih kurang menjual. tapi, mungkin karena ide yang biasa itu dekat dengan pembacanya makanya menjual.
      iya, fantasy memang banyak yang mirip-mirip, tapi entah kenapa selalu terasa beda. :)

      Hapus
  3. entah kenapa saya kok malah tidak bisa membayangkan perempuan mungil di tokoh cerita, meskipun sebelumnya sudah dijelaskan fisiknya. yang ada ngebayangin tinggi semampai ala miss universe.. x)

    BalasHapus
  4. Menarik nih. Kalau dipikir-pikir, memang bener tokoh utama wanita itu pasti mirip-mirip. Mungkin karena penulisnya cari aman kali ya. Biar disukai gitu. Kalau untuk romance, pasti harus cantik dan mapan. Kalau untuk cerita petualangan, si tokoh harus kuat dan bisa menjaga diri sendiri. Sedikit kelemahan pasti nggak disukai. Saya kadang pengen yang agak berbeda biar nggak bosan. Tapi susah cari buku yang seperti itu, kecuali genrenya berbeda.

    BalasHapus
  5. Dulu kemiripan yg bikin aku agak risih adalah karakter cowok di buku teenlit yg selalu dibuat populer, pintar, jago main basket, baik hati, dsb. Ngga tau sih kalo teenlit jaman sekarang gimana, soalnya udh lama ngga baca teenlit xD

    BalasHapus
  6. Seingatku kalau aku baca Indonesian romance, karakter cowok sama ceweknya memang mirip-mirip. Yang cowok tampan tapi dingin. Yang cewek merasa dirinya biasa-biasa saja tapi tahu-tahu ditaksir sama si cowok cakep. Kebetulan aku suka karakter-karakter romance model begitu, haha. Tapi aku memang jarang baca romance sih. Jadi ga yakin apakah suka atau tidak kalau ada karakter yang jauh beda dari karakter romance kebanyakan :D

    BalasHapus
  7. haha, iya jadinya tipikal banget ya, karakter utama di buku2 jaman sekarang. padahal cewek keren nggak harus mungil lho.. bisa aja dibuat berbadan gede tapi jago bela diri, atau badannya tinggi banget sampe nggak ada cowok yang mau XD yah itulah, banyak penulis yang cari aman aja akhirnya :D

    BalasHapus
  8. Hahaha karakter kayak gitu ada disetiap novel teenlit.

    BalasHapus