Jumat, 27 Februari 2015

Because She Can - Bridie Clark





- Semua Karena Kesempatan -

Judul buku: Bos dari Neraka (Because She Can)
Penulis: Bridie Clark
Penerjemah: Siska Yuanita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ke-1, November 2008
Jumlah halaman: 392
ISBN: 9789792242270


Ditinggal editor yang banyak membantu kariernya dan putus cinta, lengkaplah keterpurukan Claire. Hal yang diinginkannya saat ini adalah menonton serial televisi, makan sepuasnya, dan tenggelam di sofanya sepanjang waktu. Sayangnya, Beatrice, sahabat Claire tidak ingin Claire menikmati masa-masa keterpurukannya. Bea tahu cara yang tepat mengangkat kembali Claire.

Bea mengajak Claire datang ke sebuah pesta. Ajakan paksa Bea itu mengubah hidupnya, menjadi hidup seperti dalam dunia khayal.

Pesta itu membuatnya mendapatkan pria impiannya sejak masa kuliah. Pria tampan, mapan, dan romantis. Randall Cox. Seolah mendapatkan Randall belum cukup membawanya terbang, Randall pun membantu Claire mendapatkan pekerjaan impiannya: bekerja di Grant Books, penerbitan yang banyak mengantarkan buku-buku ke puncak best-seller.

Claire sama sekali tidak terpengaruh dengan desas-desus bahwa Vivian Grant, pemimpin Grant Books, adalah seorang iblis. Tidak ada yang pernah bertahan lama bekerja dengannya. Kekejamannya sudah menjadi gosip legendaris di dunia penerbitan. Namun, Claire tetap merasa dirinya mampu mengatasi Vivian. Terlebih, Vivian menawarinya jabatan editor dengan gaji melebihi gaji di tempat Claire bekerja sebelumnya.

Semua berjalan lancar pada awalnya. Hingga akhirnya Claire merasakan sendiri amukan Vivian. Dia memang telah memecahkan rekor tidak terkena amukan terlama, tapi Claire telah melampaui batas. Jam kerjanya telah sangat berlebihan, tetapi itu tetap tidak cukup untuk mewujudkan kepuasan Vivian.

Untung saja hubungannya dengan Randall baik-baik saja. Mereka jarang berkomunikasi. Sama-sama tenggelam dalam kesibukan, tapi itu tidak membuat hubungan mereka renggang. Hubungan itu pun semakin serius dengan sebuah pertunangan.

Sayangnya, Claire merasa ada yang salah dengan perasaannya. Claire merasa kerja samanya dengan seorang pengarang telah menganggu pikirannya menjelang hari pernikahan.

* * *
Judul terjemahan buku ini adalah “Bos dari Neraka”, sepertinya sangat jauh dari judul asli. Saya tidak tahu siapa yang dimaksud dengan “She”. Kalau yang dimaksud adalah Claire, judul terjemahan dan judul asli bertolak belakang. Judul asli terkesan positif, sedangkan judul terjemahan terkesan negatif. Kalau yang dimaksud adalah Vivian, artinya sama-sama negatif. Artinya, judul asli menggambarkan bahwa Vivian bisa melakukan apa pun yang diinginkannya.

Buku ini adalah buku pertama yang saya baca dari seri chicklit dengan tagline Being Single and Happy. Saya pernah menonton Devil Wears Prada yang diadaptasi dari seri ini, tapi belum membaca bukunya. Saya menyukai film itu, karena itu saya memilih novel ini dari beberapa pilihan di perpustakaan kota. Mungkin tidak terlalu berbeda dengan film itu, saya pikir. 

Ternyata Vivian Grant lebih kejam daripada Miranda Priestly, Saudara-saudara. No, Vivian bukan kejam, melainkan sakit jiwa. Semua pekerja dipaksa kerja rodi, sampai menginap di kantor. Di rumah pun masih diuber-uber. Dia juga sering memutarbalikkan fakta. Gila pujian. Daaan, hobi “main”, dan dia bangga dengan statusnya sebagai “Jalang nomor satu”. 

Claire Truman pun tidak bisa disamakan dengan Andy Sachs (dalam film). Andy Sachs segera bisa menyesuaikan diri dengan gaya Miranda, walaupun ujung-ujungnya tetap keteteran. Claire Truman punya prinsip. Dia ingin menerbitkan buku-buku bermutu. Sayangnya, buku-buku yang diterbitkan Vivian sebagian besar adalah buku-buku yang laris di pasaran, yaitu buku-buku picisan yang laris dalam sekejap dan mati dalam sekejap. 

Kaum pekerja tetap harus mengikuti keinganan petinggi. Awal-awal, Vivian memuji-muji buku-buku berbobot yang ditawar Claire. Lama kelamaan, keinginan Claire terhadap buku-buku sastra dianggap tidak bisa mengikuti selera pasar. Hal itu lah yang menyebabkannya Claire turun tahta dari anak emas Vivian. Pesaing Claire, Lulu, kembali menduduki tahta itu. 


Selama hidupku aku terlindung dari hal-hal semacam ini. Dimanja. “Lakukan yang terbaik, dan kami akan bangga padamu,” begitu orangtuaku selalu meyakinkan diriku. Upaya pun sudah membuahkan pujian. Jackson juga menganut prinsip serupa. Aku tahu maksud mereka baik, tapi mereka telah mengubahku menjadi penakut berkulit tipis yang sensitif. – hlm. 189


Novel ini menjelaskan bahwa profesi editor bukan hanya mengedit, mencoret-coret naskah, memberikan ide yang berhubungan dengan naskah, dan sebagainya. Editor juga mencari naskah yang cocok untuk dibeli. Pengarang memberikan naskah kepada agen-agen. Agen-agen tersebut yang mencari penerbit yang mau membeli naskah mereka. Agen dan editor akan melakukan negosiasi. Mengenai ide dan isi naskah, editor dapat langsung berhubungan dengan pengarang. 

Penulis juga bisa langsung mengajukan naskah ke penerbit. Pengajuan naskah secara langsung ini menjadikan pengarang tidak perlu membayar agen. Konsekuensinya, penulis harus berlelah-lelah ria mencari penerbit. 

Saya tidak tahu di Indonesia ada atau tidak agen-agen semacam itu. Selama ini, saya hanya mengetahui penulis langsung mengirimkan naskah ke penerbit. Untuk penulis-penulis beken, kadang penerbitlah yang menawarkan sebuah ide untuk dikembangkan. Itu yang saya tahu.

Seorang editor (di buku ini) bisa menangani puluhan buku sekaligus. Mulai dari tawar-menawar harga, menentukan deadline (Vivian yang menentukan), mengedit naskah, menentukan design cover, berkoordinasi dengan bagian pemasaran, sampai naskah dicetak, semua harus dilakukan oleh editor, kadang dibantu seorang asisten. Bisa dibayangkan bagaimana tirani Vivian. Tirani Vivian bahkan dapat dirasakan pihak luar, seperti agen dan penulis. 


Aku membayangkan, bagi penulis, saat-saat seperti ini pasti seperti ketika orangtua mengantar anaknya ke sekolah pertama kali–bangga, penuh harap, tapi juga cemas kalau anaknya akan dinilai, diganggu, atau sekadar diabaikan. Salah satu prioritas utamaku sebagai editor adalah tidak memperpanjang siksaan itu lebih daripada yang diperlukan. – hlm. 161


Saya tidak bisa memutuskan saya menyukai Claire atau tidak. Dia mengatakan dia seorang yang ambisius. Bagi saya, seorang yang ambisius mudah mengikuti ritme kerja. Dia memiliki ambisi untuk berdiri di Grant Books, tetapi tidak mengikuti jalan pikiran Vivian. Dia tahu Vivian menyukai buku picisan kontroversial, tapi yang ditawarnya hanya buku-buku “berat”. Tidak pernah sekali pun dia menawar buku-buku picisan. Dia berharap Vivian dapat menerima keinginannya. 

Dari segi asmara, pihak luar mungkin mengira Claire beruntung. Dia mendapatkan pria impiannya. Pria impiannya itu berkembang menjadi pria super mapan yang bisa membelikannya berlian semudah membeli lolipop. Tapi, orang yang tepat di saat yang tepat kadang mengambil alih pikiran tanpa disadari. 


Buku ini cukup tebal bagi saya yang sedang malas membaca walaupun ceritanya ringan. Ceritanya berputar-putar, jadi saya harus bersabar menantikan klimaksnya. Setidaknya, saya berhasil menyelesaikan buku ini.


Rating:


Langit biru, udara segar, teman-teman yang menyenangkan... menjadi pengingat tentang betapa manisnya hidup ini bila kita tidak harus terperangkap di meja kerja sepanjang waktu. – hlm. 211

Postingan ini diikutsertakan dalam:

 Baca Bareng 2015, Tema: Profesi

6 komentar:

  1. Saya udah baca The Devil Wears Prada, lebih suka bukunya daripada filmnya
    Hehehe... untuk agen, di Indonesia sudah mulai ada tapi belum banyak
    Para agen ini yang megurus naskah hingga masuk ke penerbit

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi makin pengin baca buku The Devil Wears Prada, tapi sekarang udah jarang bukunya. >.<
      waah, saya kurang update, makasih infonya.:)

      Hapus
  2. Kalau baca pekerjaan editor di luar negeri memang kayaknya berat banget. Sudah didera DL, masih harus cek konten dan cari konsep. Buku yg menarik, terjemahan judulnya juga menarik. Saya senang membandingkan judul2 buku terjemahan yang sering kali berbeda di buku2 chicklit atau metropop terjemahan GPU

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya pekerjaan editor memang berat, tapi di sini jarang yang mengangkat profesi itu.
      saya jarang membandingkan sih, kecuali yang memang terlalu jauh atau aneh.

      Hapus
  3. ahh aku jadi kangen baca buku chiclit being single and happy. dulu ngoleksi haha.. tapi yang ini malah belum baca. iya, ngingetin sama devil wears prada yak.. cuman dunia penerbitan kayaknya lebih seru lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. seri chicklit being single and happy kayaknya memang seru, ya. sayangnya aku baru tertarik sekarang-sekarang karena dulu ngerasa tokohnya terlalu dewasa.
      ayo, cari dan baca juga.:D

      Hapus