Minggu, 30 November 2014

Bonus Track - Koshigaya Osamu



Buntelan dari Penerbit Haru. Maaf karena terlambat mereview. Sama seperti Ryota yang tiba-tiba terjebak di luar jasad, saya pun tidak mengira akan tiba-tiba terjebak dalam kehidupan rumah sakit besar. 







- Terjebak Bonus -


Judul buku: Bonus Track
Penulis: Koshigaya Osamu
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Cetakan: Ke-1, Oktober 2014
Jumlah halaman: 380
ISBN: 9786027742369

“Ada orang yang menabrak orang lain hingga mati, tetapi ada juga orang yang memberikan karangan bunga.” – Ryota to Kusano (hlm. 153)

Mengemudi tengah malam dan menjadi saksi tabrak lari? Entah bagaimana rasanya. 

Keputusan Kusano Tetsuya membiarkan sebuah mobil sport mendahului mobilnya membuat hidupnya tidak sama lagi. Mobil sport yang mendahuluinya membuatnya harus berbagi kamar dengan sesosok hantu.

Hantu itu adalah Yokoi Ryota, korban tabrak lari mobil sport yang mendahului mobil Kusano. Kusano yang takut setengah mati sebetulnya sempat mencoba memberikan pertolongan pertama sampai napas buatan, tapi pemuda itu tidak tertolong. Hantu yang tidak tahu harus pergi ke mana itu pun memutuskan untuk mengikuti Kusano, terlebih karena Kusano satu-satunya saksi kejadian tersebut. 

Bukan hanya menumpang pada Kusano, hantu itu juga meminta Kusano menolongnya menemukan pelaku tabrak lari tersebut! Ryota tidak puas dengan kerja polisi, apalagi dengan keterangan Kusano yang minim pelaku pasti sulit ditemukan. 

Mungkin tidak ada hal yang bisa dilakukan oleh hantu sepertiku. Namun, paling tidak aku bisa panik kalau kondisinya berubah genting. – hlm. 115

Tapi, bukan hanya menjadi parasit, Ryota pun menjadi penasihat Kusano. Ryota, yang tidak sempat melakukan apa pun dalam hidupnya yang masih awal dua puluh tahun, kadang kesal dengan cara hidup Kusano. Kusano harus berterima kasih karena akhirnya dia bermain game dan mendengarkan musik lagi berkat sesosok hantu.

Di sisi lain, kehadiran Ryota menjadi penganggu bagi rekan kerja Kusano yang diam-diam bisa melihat hantu. Dia bahkan ingin Ryota pergi jauh-jauh.

* * *
Sebelum membaca novel ini, saya sudah tahu bahwa novel ini menceritakan hantu dan orang yang ditempeli hantu. Tapi, karena judulnya Bonus Track, saya sempat mengira salah satu tokohnya adalah anak band. Saya berharap yang anak band itu adalah si hantu. :P

Ternyata, Bonus Track tidak ada hubungannya dengan anak band. Bonus Track yang dimaksud adalah sebuah perumpamaan. Penjelasannya ada di dalam novel. Kalimatnya cantik, tapi tidak akan saya bagi di sini. :)

Novel ini lambat dan ada beberapa adegan yang sebetulnya itu-itu saja di bagian awal. Yaah, semacam itulah penggambaran kehidupan Kusano, seorang yang sibuk, yang ujung-ujungnya hidupnya berputar dalam hal yang itu-itu saja. Sampai Kusano bertemu Ryota. Setidaknya, dia mendapat satu masalah yang bisa di-save seumur hidup dalam kenangannya. Penulis sepertinya ingin membawa pembaca untuk mengerti kehidupan Kusano yang lambat dan membosankan kemudian berubah menjadi lebih dinamis setelah bertemu Ryota.

Membaca novel Jepang memang sebaiknya tidak mengharapkan bacaan yang dinamis. Novel tidak akan terlalu jauh dari film. Penikmat film-film Jepang, terutama film romance, tentu tahu bagaimana sebagian besar film Jepang. Mungkin seperti itulah selera orang Jepang. Mungkin orang Jepang dengan kehidupan yang serba cepat menyukai cerita-cerita dengan alur yang tidak begitu cepat agar mereka bisa tenang. Novel-novel Jepang yang pernah saya baca pun tidak jauh berbeda. Bahkan, kalau dibandingkan dengan novel atau film Jepang kebanyakan, Bonus Track masih bisa dibilang lebih dinamis. 

Ada dua sudut pandang dalam novel ini, sudut pandang orang ketiga dan pertama. Sudut pandang orang ketiga lebih banyak digunakan ketika Kusano menjadi fokus utama. Orang sibuk nyaris tidak mungkin menceritakan kehidupan pribadinya, kan? Maka, lebih logis bagian Kusano dibuat menjadi sudut pandang orang ketiga. Ada juga Ryota sebagai fokus, tapi tidak sebanyak Kusano. Sudut pandang Ryota lebih banyak diceritakan melalui sudut pandang orang pertama.

Saya lebih menyukai sudut pandang Ryota daripada melihat kehidupan monoton Kusano. Bagian Ryota lebih dinamis dan lucu. Ketika dia mengetahui bahwa dia ditabrak dan mati saja sama sekali tidak ada sedih-sedihnya. Adegan pertolongan pertama yang dari sudut pandang Ryota saja malah menjadi lucu. Dia berteriak-teriak tidak jelas justru karena napas buatan, bukan karena terkejut dia sudah mati. Kalau dipikir-pikir, orang yang baru keluar dari jasadnya kan seharusnya terkejut atau mungkin depresi.

Saya menyukai interaksi Kusano dan Ryota. Mereka seperti sepasang sahabat (Ryota bahkan menjadi konsultan Kusano) walaupun Kusano beberapa kali menekankan tidak demikian. Penulis membuat tidak ada adegan kejar-mengejar hantu dengan manusia yang ingin ditempelinya. Ketika Kusano mengetahui Ryota adalah hantu, dia sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan Ryota (semula Kusano mengira Ryota adalah halusinasi akibat trauma) sehingga Kusano yang sebetulnya penakut pun bisa menerima Ryota.

Saya menyukai Kusano yang bisa memerangi ketakutannya untuk menolong orang lain. Kusano adalah tipe orang yang “tidak enakan”. Dia akan lebih tidak enak tidak menolong daripada mengikuti rasa takutnya. Di sisi lain, sifat “tidak enakan” kadang tidak baik juga bagi pekerjaannya yang seorang manajer. Ryota saja sampai menjadi makhluk di belakang layar agar Kusano bisa berubah.

Ryota yang lebih muda dari Kusano sebetulnya tipikal anak muda yang ada di mana-mana. Anak muda yang banyak maunya tapi di sisi lain belum mendapatkan apa pun. "Belum mendapatkan apa pun" inilah yang menjadi pemicu Ryota untuk menjadikan hidup Kusano menjadi lebih hidup. Kita mungkin akan lebih menyadari ada banyak hal yang bisa dilakukan orang hidup ketika kita melihatnya setelah tidak hidup lagi.

Ini kedua kalinya saya membaca karya penulis. Dua-duanya ternyata fantasi. Iya, “ternyata” karena saya tidak pernah mengira Her Sunny Side fantasi. Cover dan blurb-nya saja seperti full romance. Memang full romance sih, tapi berfantasi. Dibandingkan dengan Her Sunny Side, Bonus Track sangat jelas menggambarkan isi buku dengan genre fantasi ini, baik dari cover maupun blurb.

Cerita hantu identik dengan hal yang menyeramkan, tapi novel ini menyuguhkan hal lain dari cerita hantu. Biasanya, cerita hantu hampir selalu berkaitan dengan kata “horror”, tapi novel ini lebih berkaitan dengan kata “moral”.

Salah satu hal yang saya dapatkan dari novel ini adalah: Jangan kebut-kebutan! Novel ini menjadi semacam propaganda agar pembacanya tidak kebut-kebutan atau membiarkan orang lain mengebut. Melalui tokoh Kusano dan Ryota, penulis menunjukkan bahwa kebut-kebutan bisa merugikan banyak pihak, bahkan dalam waktu yang panjang. 

Bagian favorit saya adalah penyelamat hantu anak perempuan agar bisa menyeberang ke alam sana. Dia adalah korban ketidakpedulian orangtua yang menyebabkan anaknya meninggal. Lagi-lagi, penulis menyampaikan pesan melalui cerita ini. Yang membuat saya geregatan adalah ayah anak itu sama sekali tidak berubah. Jangan-jangan dia malah senang dengan kematian anaknya. Huh.

“Aku kadang berpikir, manusia itu lebih mengerikan daripada hantu.” – Minami to Kusano (hlm. 321)

Novel ini juga memiliki sideline. Ryota yang tidak mudah jatuh cinta tiba-tiba jatuh cinta pada salah satu pegawai paruh waktu di tempat Kusano bekerja, Sho-chan namanya. Sho-chan menjadi pengusir kebosanan Ryota ketika Kusano bekerja. Cinta yang dia tahu selamanya bertepuk tangan itu tetap saja bisa dia nikmati.

Kalau menginginkan novel yang merusak emosi, mungkin novel ini kurang tepat. Kalau menginginkan tema cerita yang masih jarang dieksplor, novel ini bisa menjadi pilihan. Novel ini juga bisa menjadi pilihan hadiah untuk kenalan yang suka kebut-kebutan. :P

Rating:

“Tak masalah kalau aku dibimbing oleh malaikat seperti Nello dan Patrasche. Tapi, kelihatannya aku melewatkan kereta yang pergi ke surga, jadi aku terikat di bumi dan sekarang aku menjadi seperti ini.” – Ryota to Kusano (hlm. 154)

2 komentar:

  1. Bonus Track! Novel ini termasuk dalam wishlist ku bulan ini, tapi belum sempet beli :') Kisahnya unik, dan kayaknya ada unsur komedinya. Novel-novelnya Haru memang gak pernah mengecewakan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, di sini hantu justru yang menciptakan unsur komedi. nggak full komedi sih, tapi jadi refreshing.
      betul,betul,betul. :)

      Hapus