Jumat, 31 Oktober 2014

Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya - Hwang Sun-mi

Yeay! Akhirnya saya membuat review lagi! Agak lupa sih cara saya mereview #plak. Waktu baca ulang review ini, kok agak bukan saya, ya. Sayangnya lagi, review ini bukan untuk Baca dan Posting Bareng BBI.
 

 - Ketika Pencapaian Mimpi Tak Selalu Indah -

Judul buku: Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya
Judul asli: Madangeul Naon Amtak
Penulis: Hwang Sun-mi
Penerbit: Qanita
Penerjemah: Dwita Rizki Nientyas
Cetakan: Ke-1, Februari 2013
Jumlah halaman: 224
ISBN: 9786039225754


Hal-hal yang berharga tidak akan singgah untuk waktu yang lama – hlm. 183

 * * *


Kisah tentang Pengorbanan, Cinta, dan Kebebasan Sejati.
“Seandainya aku bisa mengerami telur sekali saja, seandainya aku bisa melihat kelahiran anak ayam ….”

Leafie, seekor ayam petelur, mengidamkan menetaskan telur sendiri. Tetapi itu tak mungkin karena setiap hari telurnya diambil majikan untuk dikonsumsi. Setiap hari Leafie menghabiskan waktu memandangi keluarga ayam dan bebek di halaman yang bahagia berlarian ke sana kemari.

Ketika dibuang ke lubang pembuangan ayam sekarat, Leafie hampir dimangsa Musang. Untung ia ditolong, Pengelana, bebek liar yang sayapnya luka dan tak bisa terbang. Pengelana mengajarinya bertahan hidup di padang rumput yang penuh bahaya. Lalu Leafie menemukan sebuah telur di rimbunan semak. Telur itu memicu semangat hidupnya, memancing nalurinya sebagai ibu. Leafie tak menyangka, saat dirinya memutuskan untuk mengerami telur itu, ia melangkah ke sebuah petualangan yang luar biasa. Petualangan yang mengajarkan makna cinta, kasih sayang, dan kepasrahan. Petualangan yang membuatnya melihat Musang sang pemburu dengan pandangan baru. Pandangan tanpa prasangka. (Goodreads)
* * *

Berbahagialah kalian yang selalu berpikir sehingga memiliki jalan pikiran berbeda dari orang lain. Jalan pikiran berbeda itulah yang kemudian menjadi mimpi.

Leafie pernah tinggal di dalam kandang ayam, bersama ayam-ayam betina lain. Dia bisa mendapat makanan tanpa harus mencari. Dia bisa kenyang setiap waktu. 

Leafie berbeda. Dia tidak memerlukan makanan melimpah. Dia tidak ingin selalu kenyang. Dia hanya ingin mewujudkan mimpinya. 

Leafie ingin mengerami telur dan melihat telurnya menetas. Dia ingin hidup di halaman seperti keluarga bebek, Ayam Jantan dan pasangannya, juga Anjing Tua. Mungkin mimpinya sederhana, tapi dia memiliki mimpi. Itulah yang membuatnya berbeda.

Dongeng ini bukan hanya mengajak pembaca untuk bermimpi, tapi juga mempersiapkan pembaca ketika berusaha menggapai mimpi. Menggapai mimpi tidak mudah. Ketika mimpi sudah diraih, kenyataan tidak selalu sama dengan angan.


Leafie mengira hidup di halaman adalah hal yang menyenangkan. Kenyataannya, ketika sudah berada di halaman, dia tidak diinginkan di halaman. Hewan-hewan lain merasa keberadaan Leafie hanya mempersempit rumah mereka. Kalau Leafie menyerah karena angan tidak sama dengan kenyataan, cerita ini tidak akan ada.

Setelah berhasil mengerami dan menetaskan telur pun hidupnya tidak happily ever after. Leafie dan anaknya tidak lantas hidup bahagia, ceria, seperti yang diharapkan semua keluarga. Mereka harus bertahan hidup dengan dihantui Musang. Mereka harus selalu waspada Musang bisa menerkam mereka kapan pun.

Dongeng ini juga mengajarkan saya mengenai pengorbanan. Bahkan, ketika sebenarnya orang lain tidak mengetahui tujuan pengorbanan kita. Pengelana yang mengorbankan dirinya agar Leafie dan Greenie bisa hidup. Leafie baru memahami makna pengorbanan itu setelah semua terjadi.
Tujuan utama dongeng ini mungkin memang mengajak pembaca mewujudkan mimpi dan menyiapkan pembaca agar tidak menyesal mengenai mimpi, tapi ada hal lain juga yang cukup mengganggu pikiran saya.

Ada yang kurang greget bagi saya mengenai dongeng ini. Saya sering menonton film tentang pencapaian impian. Tokoh utama film-film tersebut biasanya jatuh-bangun dalam menggapai mimpi. Sayangnya, Leafie tidak begitu.

Leafie justru keluar dari kandang dengan cara menjadi ayam sakit. Majikannya mengira dia sakit karena tidak mau makan, minum, dan bertelur. Mungkin saya akan lebih mengapresiasi Leafie kalau dia melakukan hal-hal cerdik. Mungkin berpura-pura gila, bukannya sungguhan depresi.

Kalau Leafie berusaha lebih keras untuk keluar kandang, saya rasa mungkin akan lebih menyakitkan ketika keadaan di luar kandang tidak sesuai harapan. Kalau Leafie berhasil bangkit dari hal tersebut, saya rasa cerita ini akan sangat membekas. Untungnya, Leafie mengalami perubahan menjadi lebih berani dan dia juga selalu teguh pada kata hatinya. Bagaimana pun, hak penulis untuk membuat cerita semacam apa.

Selain mengenai impian, ada poin lain mengenai buku ini. Leafie yang teramat menyayangi Greenie walaupun mereka berbeda jenis. Leafie selalu mengawasi Greenie walaupun mereka jauh. Leafie selalu mengkhawatirkan Greenie, bahkan ketika Greenie sudah besar dan menjadi penjaga kelompok bebek. Tanpa Greenie tahu, Leafie telah menyelamatkannya ketika Musang bersiap memangsanya saat mendarat. That’s the way she could be called “real mother” and also “true love”. Kita sebagai anak, mungkin juga seperti Greenie yang akan diterkam Musang saat mendarat dan telah diselamatkan tanpa mengetahuinya.
Anak muda memang kurang pengalaman! Nak, sekarang kau sudah mempelajari satu hal lagi. Walaupun satu jenis belum tentu semuanya saling mencintai. Yang paling penting adalah saling memahami! Itu baru namanya cinta. - Hlm. 172-172
Musang dalam dongeng ini pun memiliki alasan berburu. Dia kelaparan. Seperti yang dikatakan Musang, dia tidak akan berburu kalau tidak kelaparan, apalagi kemudian dia pun memiliki anak-anak. Buku ini menunjukkan bahwa tidak ada orang yang sepenuhnya hitam, tidak pula sepenuhnya putih.

Buku ini mungkin masih terlalu berat untuk anak-anak yang belum menginjak usia sekolah, tapi saya rasa buku ini cocok untuk dibaca atau dibacakan kepada anak-anak SD. Lagipula, anak SD sudah mengenal mimpi, kan? (Saya sih dulu baru bermimpi ketika SD). Anak-anak yang baru belajar membaca pun sepertinya kurang tertarik dengan buku minim gambar, kan?



Buku ini juga dilengkapi beberapa ilustrasi. Bagi saya, yang tumbuh dengan gambar-gambar indah dari buku bergambar dunia barat, ilustrasi di buku ini kurang “kekanakan”. Sepertinya, ilustrasi dalam buku ini sangat khas ilustrasi dongeng timur, seperti Korea, China, dan Jepang.

Walaupun buku ini ditujukan untuk anak-anak, ada baiknya dibaca bersama orangtua. Selain karena jumlah gambar yang minimalis bisa membuat anak kurang tertarik, buku ini juga bisa membuat kita mengingat makna pencapaian mimpi sesungguhnya.
Rating:


                                       

2 komentar:

  1. meskipun kurang greget, tp saya jd tertarik :D

    BalasHapus
  2. gambarnya bagus, sepertinya menarik, mak :)

    BalasHapus